"Reyna mana?" tanya sosok itu datar ke arah Haikal.
Haikal bungkam membuat sosok itu kesal dan memukul wajah Haikal dengan keras. Sontak seluruh orang yang ada di sana terkejut.
"Gue tanya sekali lagi, REYNA MANA?" tanya sosok itu kembali dengan amarah yang membuncah.
Haikal masih diam, tidak kuasa mengeluarkan suaranya. Rasanya pita suaranya serasa hilang begitu saja. Haikal sangat paham siapa sosok yang ada di depannya.
Sosok yang paling ia takuti, sosok yang paling ia hindari jika amarah menghampirinya. Sosok yang tidak segan menghajar siapa saja yang mengganggunya.
Sosok itu ialah Darren Faresta.
"Lo bener-bener ngga bisa jaga Reyna, Haikal!" sentak Darren.
"Gue udah bilang keluar dari organisasi ngga guna ini" ucap Darren
"Lo yang harusnya jaga Reyna di sini Haikal!" Lanjut Darren "ITU TUGAS LO SEBAGAI SEORANG KAKAK!!"
Darren meraih kerah baju Haikal dan menariknya. Tatapannya sengit lekat menatap Haikal yang terus menerus bungkam. Merasa frustasi ia kembali memberikan pukulan pada wajah Haikal.
Mahesa yang melihat Haikal terus menerus di pukul segera mendekat dan mencoba melerai. Namun, amarah Darren tak elak ia kalahkan.
Bahkan Heli dan beberapa anak osis yang menyaksikan itu turut serta membantu. Hingga sepuluh menit berlalu akhirnya Darren dapat di tenangkan.
Deru nafas Darren masih berpacu dengan hebat, menutup matanya perlahan mencoba menenangkan diri lebih. Ia membuka mata perlahan, netranya langsung menangkap sosok di depannya yang babak belur akibat ulahnya.
Darren mendekati sosok Haikal yang nampak letih dan terluka. Ia mengulurkan tangannya meraih beberapa luka Haikal yang nampak parah. Ia menyesal telah meluapkan amarahnya pada sang adik.
"Sorry" ucap Darren "Ngga seharusnya gue mukulin lo, lo pasti juga khawatir sama Reyna. Bukan cuma gue" lanjut Darren menyesal.
Haikal menatap Darren yang menunduk, ia mengangkat kepala Darren agar menatapnya.
"Ngga papa bang, gue tau perasaan lo. Karena gue juga ngerasain itu. Gue emang salah karena ngga becus jaga Reyna, bahkan ini bukan kali pertama gue lakuin kesalahan ini" ucap Haikal tanpa sadar air matanya mulai mengenang.
"Seharusnya tadi gue jemput Reyna, seharusnya gue ngga pernah ninggalin Reyna sendiri. Seharusnya gue selalu ada di sisi Reyna. Seharusnya -" ucapan Haikal terpotong oleh Darren.
"Sstt.. Jangan salahin semuanya ke lo, bukan salah lo. Bukan cuma tanggung jawab lo buat jaga Reyna, ini juga tanggung jawab gue" ucap Darren
"Maaf karena gue ngga becus jagain kalian. Gue terlalu sibuk sama dunia dan ego gue sampai lupa kalau gue punya kalian. Maaf gue selalu nuntut lo buat jaga Reyna lebih sering daripada gue, padahal lo juga kesusahan jaga diri sendiri" lanjut Darren
Haikal hanya diam enggan bersuara, sesak di dadanya kian terasa begitu mendengar ungkapan tulus dari Darren.
"Makasih karena lo selalu berusaha jadi adik yang baik, yang selalu ngejaga Reyna ketika gue sama bang Jaz sibuk. Semua hal selalu di limpahin ke lo dan lo ngga pernah protes, gue ngerasa bersalah akan itu. Gue minta maaf Haikal" ucap Darren
Haikal masih menatap Darren lekat. Keduanya lalu berpelukan melepas segala penat dan letih yang mereka rasakan. Sekaligus menguatkan satu sama lain yang merasa ringkih atas ketiadaan sang adik.
"Gue bakal berusaha lebih buat jadi kakak yang baik. Buat Reyna juga lo. Gue akan lebih kontrol emosi biar kejadian kaya gini ngga keulang lagi" ujar Darren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa (END)
Ficção AdolescenteSadewa Chandra Mahendra pria yang tak pernah bisa menjalani kehidupan dengan tenang, bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh hati. Namun, karenanya gadis itu justru mengalami teror dari musuhnya. Bagaimanakah Chandra melindungi sang gadis...
