Bab 16

48 3 0
                                        

Selamat Membaca (⁠。⁠♡⁠‿⁠♡⁠。⁠)

Kini empat gadis itu sudah berjalan menuju pasar malam, mereka berempat memilih untuk meminjam baju Clara, karena tidak mungkin ke pasar malam menggunakan baju sekolah.

"Eh guys, tunggu di sini sebentar ya, ini Haidar minta masuk bareng." ujar Raya kepada yang lainnya.

"Ish, udahlah Ray tinggalin aja cowok lu itu. Suruh aja masing-masing. Dia sama geng-an nya kita ya berempat aja." ucap Yura yang mulai jengah dengan Raya.

"Tau sih lagian bucin banget." cetus Clara.

"Ish, sebenernya tuh gua mau ketemu Haidar bukan karena bucin bjir, tapi biar gua dijajanin dia, kan jadi lumayan hemat, yakan?" Raya mengangkat alis sambil tersenyum licik.

Semua kaget mendengar penuturan Raya tadi. "Wah gila...Belajar matre dari mana lu?" ucap Lia sambil tertawa.

"ga matre gua mah, biar pengen liat si haidar modal aja sih." jawab Raya tertawa kecil.

"Udahlah ayo, gua udah ga sabar mau nikmatin pasar malemnya." Clara menarik tangan Raya. Tentunya Yura dan Lia mengikuti dari belakang.

Sesuai arahan dari Yura agar mereka tetap berempat saja akhirnya terlaksan. Raya pun juga tidak marah ataupun tersinggung, karena ia tahu sejak awal Clara mengajak ke pasar malam ini untuk menghibur Lia. Dan tujuan Raya mengatakan pada Haidar ia ingin ke pasar malam sebenarnya memang hanya untu niat mengabari saja. Namun, Haidar yang memang bersikukuh untuk tetap ingin ikut ke pasar malam.

"Eh guys, Liat deh ada kora-kora. Kalian mau naik ga?" Raya menunjuk pada satu wahana permainan berbentuk perahu dengan deretan kursi duduk yang berayun tinggi.

"Raya, ga usah ngadi-ngadi deh, yang bener aja? Lu ga liat noh yang naik ampe teriak-teriak?" ucap Clara.

"Eh iya sih, ngeri juga. Cari yang lain deh."

Para gadis itu berjalan lagi menyusuri pasar malam itu, "Guys, liat deh gulalinya lucu banget bisa dibentuk-bentuk gitu, kalian mau ga? Gua mau beli deh." Lia langsung berlari kecil menghampiri penjual gulali itu.

"Pak, ini bentuk gulalinya yang ini aja? Bisa request ga?" tanya Lia kepada penjualnya.

"Aduh neng gelis emang mau bentuk apa? Bisa saya buatin kalo mau, tapi jangan susah-susah."

"Bikin peta Indonesia aja kok pak, ga susah kan, hehe-" goda Lia pada penjual gulali tersebut.

"Bisa kok bisa, bisa modar saya-nya" bapak itu tertawa pada Lia.

"Bikinin bentuk love aja pak 1, bisa kan?"

"Aaaa...pasti buat cowoknya ya, bisa itu mah, saya ahlinya."

"Nih neng udah jadi, sepulu ribu aja. Walaupun harganya sepuluh ribu, nanti kalo dikasih ke pacarnya harus sambil nyanyi gini and I love you three thousand" ucap bapak itu sambil memberi gulali berbentuk love kepada Lia.

"Kan harganya sepulu ribu, masa saya bilangnya three thousand pak" Lia tertawa sembari memberikan lembar uang sepuluh ribu.

"Yah neng, cinta ama cowo mah ga usah banyak-banyak nanti patah hati."

"Iya juga ya pak, yaudah makasih ya pak."

Lia pun pergi dan menyusul teman-temannya yang ternyata sedang mampir ke wahana lempar gelang.

You, Me, and AccountingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang