wolulas end

52 11 0
                                        


halo pembaca setia sempiternal, utk yg pertama tama aku sangat amat berterimakasih dan juga bersyukur krn bisa menyelesaikan satu buku lagi kali ini.

begitu banyak cinta untuk kalian terutama fol ku yg kdg naik kdg turun trs jg kdg stuck di situ²aja, tp gapapa krn prinsipku dr awal buat wp adlh ;

"tujuanku buat ebook buat di baca, klo misal di vot berarti itu bonus besar krn mereka ngehargain karya ecek-ecek ini"

agak melankolis dikit ya tp yaudahlah.

btw buku ini aku dedikasikan utk kakaku yg kisahnya kuambil sedikit hahaha dan yang kedua jelas utk diriku sendiri yg sgt amat mupeng dgn mas-mas jawa soft spoken (semoga bertemu di kemudian hari yg seperti mas bama kalo ga ya seperti mas adinata jg gapapa)

tak terkecuali jg utk readersku, terimakasih udh mau ngikutin first book javanese ini dr awal. beribu maaf kalo bhs jawaku kurang di mengerti/salah penafsiran/kurang pantas di baca, untuk nanti ny in syaa allah kalo ga lupa aku mau revisi ulang buku ini.

Dan yang terakhir sempiternal tentu akan di tutup dengan ending yg sangat manis juga menyentuh relung hati, menyisakan secarik senyum dari pembaca juga penulis. Terimakasih dan sampai jumpa di projeku selanjutnya!

-J

○♤○


Acara pengajian kemarin berlangsung dengan sangat khidmat tanpa adanya kendala. Mereka berdua, yang tak lain adalah calon mempelai, bersama-sama berdoa di rumah masing-masing. Memohon restu kepada sang pemberi hidup dan pembuat alam semesta ini, secara khusyu dan begitu mendalam.

Brahma dengan bahu gagahnya merunduk, bersimpuh menghadap sang Ibu. Memohon doa restu juga meminta maaf atas segala perbuatan salah nya selama ia menjadi anak.

Dalam prosesi pengajian yang begitu khidmat Brahma kembali menitikan air matanya di sana, terharu. Kembali teringat bahwa ia akan segera menikah dan menjadi kepala keluarga, membangun keluarga kecilnya bersama wanita pujaan nya. Hingga saat ini, Brahma masih saja tak menyangka akan menikahi wanita yang ia temui pada saat kuliah dan menjadi plot twist dalam hidupnya.

Sama hal nya seperti Riani di kediaman rumahnya, ia menggelar acara pengajian dengan khidmat. Membaca surat-surat Al-Quran dan berdoa bersama.

Dan setelah itu hari esok pun tiba.

Dimana acara siraman pada kedua mempelai di rumah mereka masing-masing, Brahma dengan pakaian adat siraman nya dan juga Riani kain lilit dengan bunga melati yang di anyam menghiasi.

Begitu cantik pesona pengantin jawa kita satu ini.

"ngapurane nggih bu, jaluk doa restu. Mugi sesuk acaraku diparingi lancar" ucap Brahma sebelum melakukan prosesi siraman.

Ibu tersenyum hangat, mengelus sayang punggung gagah sulungnya.

"nggih nang, ibu ndongakno terus. Mugi diparingi gancar angsar lan lancar"

Sambil terus mengelus, menepuk pelan punggungnya itu dan tak terasa sang Ibu mau menitikan air matanya pada ujung mata. Terbawa suasana sebab ini yang pertama ia rasakan untuk melepas sang anak yang akan membangun sebuah keluarga kecil bersama wanita yang dikenalkan nya kala itu.

Di sisi lain pula Riani pun melakukan posisi yang sama seperti Brahma lakukan.

Bersimpuh menghadap sang Mama, "doa restune nggih ma"

sempiternal - vsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang