Extra Part 3

243 8 0
                                        

"Vote. ⭐"
Comment. 💬
Follow.➕
Bagikan.🌐
Jangan lupa tambahkan ke perpustakaan pribadi mu.📚
Dan Ramaikan juga .🐨

Jangan lupe vote yapss!

Malam itu kamar Zea sunyi. Hanya suara detik jam dinding yang menemani. Lampu meja belajar bersinar kuning redup, cukup untuk membuat suasana hangat tapi menekan.

Zea membuka plastik buku diary barunya. Krekkk. Bau khas kertas baru menyeruak, menenangkan hatinya yang kusut. “Hm… masih segar,” gumamnya sambil tersenyum tipis. Tangannya gemetar saat menulis halaman pertama.

"Hari ini aku nangis lagi. Tapi… kali ini rasanya agak ringan. Mungkin karena Abang Zayyan. Dia satu-satunya yang ngerti aku. Aku nyebelin, aku nakal, tapi dia nggak pernah pergi. Kadang aku mikir… kalau nggak ada dia, mungkin aku udah nyerah."

Air matanya jatuh, menodai tinta yang masih basah. Zea buru-buru menyeka, tapi noda itu tetap membekas. Ia menutup mata sejenak, lalu kembali menulis.

"Kenapa Baba sama Buna nggak pernah mau dengerin aku? Kenapa semua yang aku lakukan salah? Aku capek, tapi harus senyum di depan semua orang. Aku cuma pengen hidupku sendiri… apa itu salah?"

Tangannya berhenti. Ia menatap halaman yang basah oleh tangis. Pelan-pelan, ia menutup buku itu dan memeluknya ke dada. “Diary bau kertas baru… mulai sekarang kamu satu-satunya yang ngerti aku.”

Zea tertawa getir, lalu merebahkan kepala di meja. “Aku pengen bahagia… tapi kayaknya susah banget.”

---

Di ruang tengah

Kaizya duduk dengan wajah murung, jarinya gelisah mengetuk meja. Gus Zai di sebelahnya diam, menatap kosong ke arah lampu gantung.

“Ba,” suara Kaizya pecah, “aku khawatir. Zea makin besar, tapi makin jauh. Aku takut dia hilang kendali. Aku takut kehilangan dia.”

“Bun,” suara Gus Zai berat, “kita sudah coba segalanya. Nasehat, teguran, bahkan hukuman. Tapi dia tetap keras kepala. Zea itu butuh seseorang yang bisa sabar, yang bisa menuntun tanpa harus bentak-bentak.”

Kaizya menoleh, matanya tajam. “Ba… jangan bilang maksudmu itu perjodohan.”

Gus Zai menarik napas panjang. “Haidar Ramadhan. Gus muda, duda, tapi baik akhlaknya. Aku sudah lama memperhatikannya. Dia pemimpin, dia punya kesabaran. Mungkin dialah jalan terbaik untuk Zea.”

“Ba!” suara Kaizya meninggi, “Zea baru 19 tahun. Dia keras kepala, emosinya belum matang. Apa nggak kejam kalau kita memaksa dia menikah?”

“Justru karena dia belum matang, dia butuh pendamping. Kalau kita biarkan, aku takut dia hanyut dalam arus dunia. Aku tidak ingin menyesal, Bun.”

Air mata Kaizya jatuh, tapi ia menunduk, menggenggam tangannya sendiri. Dalam hatinya, ada luka besar antara naluri seorang ibu dan logika seorang istri.

---

Kamar Zea

Zea masih menatap diary barunya, matanya bengkak. Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk.

“Zea! Jangan tidur malam-malam. Besok masih ada kewajiban!” suara Kaizya ketus.

“Iyaaa, Bun!” Zea malas menjawab.

Pintu terbuka keras. Kaizya masuk dengan wajah tegang. “Zea, kamu pikir hidup ini cuma main-main? Baba dan Buna capek mikirin kamu! Kamu itu anak seorang Gus, kamu nggak bisa seenaknya!”

Zea mendadak bangun, menatap ibunya dengan mata merah. “Kenapa sih semua orang selalu nyuruh aku? Kenapa nggak ada yang dengerin aku sekali aja?! Aku capek, Bun! Aku pengen bebas, aku pengen jadi diri aku sendiri!”

Awal Dari CintakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang