Sore itu, halaman rumah keluarga Al-Ghifari hening. Angin membawa suara azan dari kejauhan. Zeanna duduk di ayunan tua, masih dengan mata yang sayu. Beberapa hari belakangan, ia lebih banyak diam, seolah semua energi terkuras oleh air mata.
Suara mobil berhenti di depan pagar. Zeanna menoleh sekilas—sebuah sedan hitam sederhana. Dari dalam, keluar seorang lelaki tinggi dengan wajah teduh. Jubah putihnya masih berbau masjid, dan senyumnya tidak dibuat-buat.
Itulah Gus Muhammad Haidar Ramadhan.
Zea menunduk cepat, jantungnya berdegup tak karuan. Inilah lelaki yang sudah dipilihkan untuknya—lelaki yang sempat ia benci hanya karena namanya dipaksakan masuk ke hidupnya.
Baba menyambut Haidar dengan hangat. “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, Nak Haidar.”
“Maaf jika terlambat, Gus,” jawab Haidar sopan, suaranya tenang. “Ada beberapa urusan pesantren yang harus saya selesaikan.”
Dari balik pintu kaca, Kaizya melirik putrinya. “Zea, sini Nak. Sapa tamu Baba.”
Zea menggertakkan gigi. Langkahnya berat, tapi ia maju juga. Matanya menolak bertemu dengan pandangan Haidar.
Namun ketika akhirnya ia berani mengangkat wajah, pandangan itu bertemu.
Dan untuk pertama kalinya, Zea melihat sesuatu yang berbeda—tatapan yang bukan menilai, bukan menghakimi, melainkan menenangkan. Seolah mata itu sedang berkata: Aku tahu kamu terluka. Aku tidak datang untuk mengikatmu, tapi untuk merawatmu.
Detik itu, Zea tercekat.
“Assalamu’alaikum…” Haidar menyapanya lembut. “Ana Haidar.”
Zea menunduk lagi, suaranya nyaris tak terdengar. “Wa’alaikumussalam… Zeanna.”
Keheningan melingkupi mereka. Hanya suara burung sore yang terdengar.
---
Malamnya, di kamar, Zea kembali membuka diary barunya. Dengan tangan gemetar, ia menulis:
“Hari ini aku bertemu dengan dia… lelaki yang katanya akan jadi suamiku. Aku masih benci keadaan ini, tapi entah kenapa… tatapannya tadi membuat aku tidak ingin lari. Mungkin… ini awal dari sesuatu yang berbeda. Aku takut, tapi juga penasaran. Ya Allah, kalau memang ini jalan-Mu, kuatkan aku.”
Air mata jatuh lagi, tapi kali ini bukan hanya karena luka—ada harapan kecil yang menyelusup di sela duka.
---
Di ruang tengah, Gus Zai menatap putrinya dari jauh dengan mata berkaca. “Bun, aku hanya ingin Zea punya sandaran yang lebih kokoh dari sekadar cinta remaja.”
Kaizya menggenggam tangan suaminya. “Semoga pilihan kita bukan hanya tepat untuk nama baik… tapi benar-benar jadi jalan bahagia anak kita.”
---
Langit malam terbentang luas. Zeanna menutup diarynya, menarik selimut, dan menatap bintang dari jendela.
Ia tahu hidupnya tidak akan lagi sama.
Entah akan berakhir dengan cinta… atau luka baru.
Tapi untuk pertama kalinya, ia berbisik dalam hati:
“Ya Allah, kalau memang ini takdirku… aku akan belajar ikhlas.”
---
Pagi berikutnya, cahaya matahari menembus tirai kamar Zeanna. Ia bangun lebih awal dari biasanya. Di luar, terdengar suara Ibu Kaizya bercakap dengan seseorang di teras.
Zea menoleh dari balik jendela — itu Haidar, duduk sopan di kursi, berbicara dengan Baba sambil sesekali membantu menata buku-buku kecil di meja tamu.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara lelaki itu hadir — tidak banyak bicara, tidak memaksa, tapi selalu tahu cara menjaga jarak dengan hormat.
Ketika Ibu memanggil Zea turun untuk sarapan, ia sempat ragu. Tapi akhirnya, dengan langkah pelan, ia berjalan ke ruang makan.
Haidar menunduk sopan. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Zea, suaranya pelan. Ia duduk di samping ibunya, menjaga pandangan tetap rendah.
Mereka makan tanpa banyak kata. Hanya obrolan ringan antara Baba dan Haidar tentang pesantren dan kegiatan sosial di kampung sebelah. Tapi di sela-sela itu, Zea memperhatikan caranya berbicara — tenang, tak pernah meninggikan suara, dan selalu menyebut nama Allah di setiap kalimatnya.
Entah kenapa, hati Zea terasa hangat.
Sore harinya, Ibu mengetuk pintu kamar Zea. “Nak, tadi Gus Haidar titip bunga untuk kamu. Katanya, semoga ini bisa menenangkan hati.”
Kaizya tersenyum sambil menyerahkan pot kecil berisi bunga melati yang baru tumbuh. Tanahnya masih lembap, seolah baru ditanam.
Zea menatapnya lama. “Dia nanam sendiri, Bu?”
“Iya,” jawab ibunya lembut. “Tadi di taman belakang. Baba juga bantu. Katanya, setiap bunga melati yang tumbuh, ia niatkan jadi doa agar kamu tenang dan bahagia.”
Zea terdiam. Ujung matanya memanas. Ia tak tahu kenapa perasaan sesederhana itu bisa membuat dadanya sesak.
Ia membawa pot itu ke meja belajarnya, menatapnya dalam-dalam. Dalam keheningan sore, Zea berbisik pelan,
> “Kenapa semua yang datang darinya terasa menenangkan, ya Allah…”
Malam itu, Zea kembali menulis di diary-nya.
> “Aku belum tahu perasaanku apa. Tapi hari ini aku belajar, ternyata ketenangan bisa datang dari seseorang yang tidak berusaha memiliki kita — hanya mendoakan.”
Di ruang tengah, Haidar berpamitan kepada Baba dan Ibu. Sebelum keluar pagar, ia menoleh sebentar ke arah jendela Zea yang masih menyala.
Ia tidak bisa melihat siapa pun di sana, tapi hatinya berkata pelan,
> “Semoga Allah menjaganya untukku, bahkan sebelum aku bisa menjaganya sendiri
Dan di balik tirai kamar, Zea menatap langit malam, memeluk diary-nya erat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi takut pada masa depan.
Karena di balik semua luka, ia mulai percaya — takdir yang datang dengan adab selalu membawa ketenangan.
---
Yeyyy finally akhirnya selesai untuk kelanjutan ceritanya nanti tak kasih tau yaaa jangan lupa vote!
Menurut kalian kelanjutan nya sampai sini aja atau mau tambahin 1 chapter lagi nihh?? Ada yang mau request???? Seneng banget sama kalian karena Alhamdulillah vote yang kemarin rame next lebih rame lagi ya hehe biar author semakin semangat nulisnya oh iya nanti ada info selanjutnya mengenai Cerita Awal dari duka ke cinta okei??? See you all maaf ya kelamaan up nya hehe.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Awal Dari Cintaku
Fiksi RemajaGuyssss vote dongg jangan baca doangg 😭‼️ Sebaik baik nya orang pasti bisa berubah dan seburuk buruk nya orang pula bisa berubah sesuai diri nya sendiri. Di dalam cerita ini mengisahkan seeorang perempuan cantik yang sangat jauh dari agama ia selal...
