Votee dulu jangan lupa heheee
Pagi itu meja makan keluarga Al-Ghifari tidak seperti biasanya. Bubur ayam hangat di meja hanya tersentuh sedikit, dan suasana hening menusuk. Biasanya tawa kecil Zea atau ocehan Kaizya bisa mencairkan pagi, tapi kali ini, semua terasa berat.
Zea duduk malas, sendok di tangannya hanya mengaduk bubur tanpa niat menyuap. Wajahnya sembab karena semalam menangis. Kaizya beberapa kali melirik suaminya, memberi isyarat halus: Ba, kapan bicara ke Zea?
Gus Zai akhirnya menaruh cangkir teh di meja. Napasnya panjang. Lalu ia menatap putrinya.
“Zea.”
Zea mendongak malas. “Apa lagi, Ba?”
Keheningan menekan sejenak. Kaizya menunduk, jemarinya meremas jilbab.
“Baba sudah putuskan. Kamu akan dinikahkan,” ucap Gus Zai tegas.
Trak! Sendok di tangan Zea terjatuh, berbunyi nyaring di lantai. Gadis itu membeku, lalu matanya melebar.
“A… apa?!” suaranya pecah. “Nikah?!”
“InsyaAllah dengan Gus Haidar Ramadhan,” lanjut Baba tenang. “Dia lelaki yang baik, berilmu, masih muda, dan bisa membimbingmu.”
Tubuh Zea bergetar. Matanya langsung berkaca-kaca. “Tidak!!!”
Ia berdiri dengan kasar, kursi bergeser keras. “Aku nggak mau, Ba! Aku nggak mau dinikahin sama orang yang bahkan aku nggak kenal! Ini gila!”
“Zea, dengar dulu penjelasan Baba—” Kaizya mencoba menenangkan.
“Buna diam!!!” Zea berteriak, membuat Kaizya tercekat. “Kenapa kalian seenaknya atur hidup aku?! Kalian cuma mikirin nama baik! Bukan aku!”
Bugh! Gus Zai menepuk meja keras.
“Cukup, Zea! Baba tidak main-main! Kamu ini anak Gus, anak orang berilmu. Tidak bisa terus hidup melawan aturan. Kamu butuh imam, dan Haidar adalah orang yang Baba percaya.”
Zea menangis, dadanya sesak. “Baba nggak sayang sama aku… kalau Baba sayang, Baba nggak bakal tega kayak gini.”
“Cinta yang kamu sebut itu hanya permainan anak muda! Tidak ada masa depan di dalamnya!” bentak Baba lagi.
“Aku benci kalian!!!” jerit Zea sebelum berlari meninggalkan meja makan.
---
Di Balkon
Zea berlari ke balkon kamarnya. Air matanya deras, tangannya mencengkeram pagar besi.
“Kenapa hidup aku harus kalian atur?! Aku benci ini semua!!!”
Langit pagi tampak cerah, kontras dengan hatinya yang hancur. “Ya Allah… kenapa aku harus lahir di keluarga ini? Kenapa aku harus tanggung semua beban ini sendirian?”
Di halaman, suara motor sport berhenti. Zayyan baru pulang. Dari bawah ia melihat bayangan adiknya di balkon dengan bahu terguncang.
Perasaan khawatir membuatnya bergegas masuk rumah dan naik ke lantai dua. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu kamar Zea.
“Dek…” panggilnya pelan.
Zea menoleh, matanya merah dan basah. Begitu melihat Zayyan, ia langsung berlari memeluk kakaknya erat-erat.
“Abang… hiks… aku nggak kuat, Bang…”
Zayyan mengusap punggung adiknya. “Sstt… tenang dulu. Cerita sama Abang.”
“Baba mau jodohin aku, Bang… aku nggak mau… aku belum siap… apalagi sama orang yang nggak aku kenal! Kenapa Baba tega banget, Bang?!”
Zayyan terdiam, menatap wajah adiknya yang penuh luka. “Dek… Baba pasti punya alasan.”
“Alasan? Semua cuma demi nama baik! Abang tau nggak rasanya jadi aku?!” Zea memukul pelan dada kakaknya. “Aku muak, Bang…”
KAMU SEDANG MEMBACA
Awal Dari Cintaku
Fiksyen RemajaGuyssss vote dongg jangan baca doangg 😭‼️ Sebaik baik nya orang pasti bisa berubah dan seburuk buruk nya orang pula bisa berubah sesuai diri nya sendiri. Di dalam cerita ini mengisahkan seeorang perempuan cantik yang sangat jauh dari agama ia selal...
