“B-bunda?” ucap Vira dengan gelagapan
“Sayang, Bunda minta maaf ya” ucap Bunda dengan nada yang sangat lembut
“Bunda mohon kamu pulang” pinta Bunda sembari duduk di samping putrinya
“Setidaknya kamu jangan cuekkin adik kamu sayang” tangannya mulai menggenggam tangan putrinya dengan begitu erat, seakan ia tak mau kehilangannya lagi
Elvira lagi-lagi hanya dibuat menunduk, ia sudah tidak tahu harus berbuat apa di situasi ini. Keadaan membuatnya ingin menangis kembali, bulir-bulir air berjatuhan lagi membasahi pipinya. Namun, Elvira dengan segera menghapus rintikkan air yang telah berjatuhan dan segera bangun dari tempatnya.
“Maaf Bun, biarin Vira tenangin diri untuk sementara waktu” ucap vira dengan pelan sembari berlari menuju rumah temannya
Namun saat baru beberapa langkah ia berlari, Vira terjatuh dan terkapar lemas di tanah. Bunda yang melihat itu tentu saja sangat terkejut dan khawatir. Baru saja ia bangun dari duduknya, Nayara dan Grace sudah berlari menghampiri putrinya. Tentu saja, dirinya begitu khawatir dengan putrinya. Namun, ia tak mau membawa masalah lagi dengan putrinya dan teman-temannya.
Tak lama setelah Elvira terjatuh, Nayara dan Grace sudah berlari ke arah Vira dengan sangat khawatir. Nayara dengan sigap segera memeluk tubuh lemas milik temannya dan memeriksa keadaannya. Sementara Grace, ia mengelus tangan temannya dengan sangat khawatir.
“Ya ampun Vira, kita sudah mencarimu kemana-mana sedari tadi” ucap Grace dengan raut wajah penuh kekhawatiran
“Jangan memaksakan dirimu El” ucap Nayara sembari memeriksa keadaan temannya yang tengah terkapar lemas
“Panas” ucap Nayara dengan pelan
“Kamu bisa gotong dia ga?” tanya-nya sembari menoleh ke arah Grace
“Aku bukan gorila Ra” jawab Grace dengan sarkas
Namun tanpa basa-basi, Nayara langsung mengangkat tubuh Vira yang lemas dan membawanya pergi dari sana.
“Aku hanya bercanda Ra” teriak Grace sembari berlari mengejar temannya
Seminggu telah berlalu, Vira sudah jauh lebih baik keadaannya. Ia kini tengah menikmati angin laut yang menerpa wajahnya, dirinya masih bingung dengan semuanya yang telah terjadi.
“Jadi, aku harus berpihak pada siapa?” ucapnya dengan sangat pelan hingga terdengar seperti berbisik
Tak butuh waktu yang lama bulir-bulir air berjatuhan secara beriringan membasahi pipi, dirinya hanya bisa tersenyum sembari membiarkan air matanya terus membasahi pipinya. Tiupan angin semakin kencang, rintikkan air mulai turun membasahi bumi, seakan-akan alam tengah bersedih dengan keadaannya saat ini.
“Jangan hujan-hujanan, kau baru saja sembuh El” ucap Nayara yang baru saja datang sembari membawa payung
“Nay, aku ingin mendaftar pertandingan lagi” pinta Vira dengan tiba-tiba membuat Nayara sedikit terkejut
Nayara menghela napas panjang. “El, kamu bahkan belum sepenuhnya pulih. Kenapa tiba-tiba mau tanding lagi?”
Vira menggigit bibirnya. Matanya menatap ke arah laut lepas, seolah mencari jawaban di sana. “Aku... Aku butuh sesuatu untuk fokus. Sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku dari semua ini.”
“Dengar,” lanjut Nayara, “aku bukan melarangmu bertanding. Tapi setidaknya, kasih waktu untuk dirimu sendiri buat benar-benar pulih. Kamu nggak harus selalu lari dari masalah, kadang yang kamu butuhkan adalah berhenti dan membiarkan kami membantumu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
[ Si kembar ]
Mystery / ThrillerCerita ini hanyalah fiksi belaka. Di mohon kerjasama nya untuk tidak mengcopy cerita, karena saya cape memikirkan alur masa anda dengan enak nya mengcopy cerita saya🫵🫵. Sekian, arigatou.
![[ Si kembar ]](https://img.wattpad.com/cover/328834297-64-k660470.jpg)