Di dapur, aroma cokelat panas mulai memenuhi udara, berpadu dengan tawa riang dari ketiga sahabat itu.
"Jangan banyak-banyak susunya, Vir. Nanti bukan cokelat panas tapi susu rasa bayangan mantan," canda Grace sambil menyender di meja dapur.
Elvira melirik sekilas, bibirnya menyungging senyum nakal. "Kamu tuh ya, dikit-dikit mantan. Hidup tuh enggak selalu soal kisah gagal cinta."
Nayara ikut tertawa, lalu mengambil tiga cangkir dari rak. "El, aku serius deh. Kalau kamu buka kafe, pasti ramai. Cokelat buatan kamu tuh rasanya kayak... pelukan waktu lagi sedih."
Elvira menoleh, kali ini senyumnya lebih lembut. "Karena aku bikinnya pakai hati."
Grace pura-pura mual. "Ih romantis banget, bisa-bisa kita jomblo abadi karena standar kita jadi naik."
Semua obrolan terdengar hingga ke ruang tamu yang masih terdapat Bunda, Sensei, dan Dara di sana. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Dara juga mengitimidasi anaknya dengan tatapan tajamnya seraya memberikan pertanyaan-pertanyaan intimidasinya.
Sesaat setelah selesai menikmati coklat panas, Elvira membawa teman-temannya menuju kamar untuk membahas sesuatu mengenai misi selanjunya. Pembahasaan mulai tersa sangat serius, namun dengan sekejap pembicaraan itu harus terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Dengan malas, Elvira segera bangun dari tempatnya dan membuka pintu kamarnya yang sedari tadi telah di ketok berkali-kali. Terlihat bibinya yang telah menunggu pintu terbuka, ia terlihat cemas saat itu.
Masih dengan wajah datarnya, akhirnya Elvira angkat bicara. "Apa?" tanya Elvira dengan penasaran.
Helena terlihat berpikir sebentar, ia sebenarnya tak mahu memberitahu kepada keponakannya. Tapi ia merasa bahwa keponakannya perlu tahu masalah ini, tapi di sisi lain ia tak mahu keponakannya berlarut terlalu jauh dalam kesedihan lagi.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Helena memutuskan untuk memberitahunya. "Makam ayahmu telah di bongkar oleh seseorang, dan sekarang jasadnya telah menghilang" ucap Helena dengan cemas.
"Aku sudah menyuruh Zara dan anggota lain untuk mencari tahu-" Helena tidak melanjutkan perkataannya saat melihat keponakannya tertunduk dengan dalam, serta ia merasakan sebuah aura yang sangat dahsyat terpancar dari keponakannya.
Melihat itu, Helena sangat terpukul dengan keaadan Elvira. "Aunty permisi dulu" ucapnya sambil melangkah pergi dari sana, meninggalkan keponakannya yang masih menunduk.
"A-YAH" ucap Vira dengan terbata, emosinya kian memuncak setelah mendengar penuturan dari bibinya.
Dengan cepat Elvira melompat dari lantai dua ke lantai dasar, ia segera berlari keluar. Grace dan Nayara yang melihat temannya melompat segera berlari keluar dari kamar dan menyusul Elvira melalui tangga. "ELVIRA" teriak kedua temannya sembari mengejarnya.
Namun Elvira tidak menggubris hal itu, ia terus berlari dari sana. Hal itu langsung di cegat oleh Kakek nya yang sedari tadi hanya diam, ia memegangi tangan cucunya sengan erat. Elvira yang mengetahui dirinya tengah di cegat langsung menatap marah pada sang kakek, ia berniat ingin melukai sang kakek.
Ia benar-benar sudah tak peduli dengan semuanya, yang ada di pikirannya hanya 'Ayah' nya saja. Matanya menatap sang kakek dengan sangat tajam, mengisyaratkan ia sedang sangat marah. Bola matanya kian berubah dengan perlahan menjadi berwarna merah menyala.
Sang kakek yang melihat bola mata cucu nya berubah langsung melepaskannya, pasalnya jika sudah seperti itu takkan ada yang bisa menghentikan ataupun meredakan amarahnya yang memuncak. Elvira yang sudah terlepas pun langsung berlari kembali keluar rumah menuju pemakaman, sedangkan kedua temannya terus mengejarnya meski sudah tertinggal jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
[ Si kembar ]
Mystery / ThrillerCerita ini hanyalah fiksi belaka. Di mohon kerjasama nya untuk tidak mengcopy cerita, karena saya cape memikirkan alur masa anda dengan enak nya mengcopy cerita saya🫵🫵. Sekian, arigatou.
![[ Si kembar ]](https://img.wattpad.com/cover/328834297-64-k660470.jpg)