16 | Telpon saja aku

371 49 10
                                        

Suasana dalam mobil masih sunyi dan dingin. Hanya suara mesin dan lagu instrumental jazz dari radio mobil yang mengalun pelan, berusaha mencairkan ketegangan yang menggantung di antara mereka.

Naomi melirik singkat ke Ragnar yang masih bersandar di jendela, wajahnya datar, bahkan terlalu tenang. Alpha itu menggigit bibir bawahnya, ingin berbicara... tapi takut justru memperburuk suasana.

Sementara itu, Ragnar tengah berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum penuh kemenangan akan kekacauan ini.

'Ayo, Naomi. Minta maaf padaku. Sekarang.' batinnya

Namun, menit demi menit berlalu, tapi permintaan maaf itu tak kunjung datang. Ragnar mulai curiga. Dia melirik ke samping... dan justru menemukan Naomi bersenandung pelan sambil mengetuk-ngetuk kemudi mengikuti irama lagu.

Hah?

Kenapa dia terlihat... santai?!

"...Kau tidak merasa bersalah?" Ragnar akhirnya angkat bicara, nadanya agak sewot

Naomi menoleh sebentar, lalu kembali ke jalan. "Hm? Soal apa?" tanyanya balik, seolah memancing kesabaran si Omega

Ragnar melongo. "Soal... soal kartu. Dan juga... sentuhan di bioskop tadi!"

"Oh," jawab Naomi ringan, namun otaknya diam-diam bekerja keras mencari cara untuk mengurangi emosi si Omega. "Aku kira kita sudah selesai membahas itu."

"APA?! Aku belum memaafkanmu!" bentak Ragnar, kali ini benar-benar marah. "Aku masih kesal! Seharusnya kau minta maaf pada—"

Naomi menoleh saat mobil berhenti di lampu merah, lampu neon kota memantul di wajahnya. "Ragnar, kau mau es krim, tidak? Ada kedai es krim langganan ku di dekat sini." celetuknya bertanya sebelum Ragnar kembali mengomel

"Kau pikir ini waktunya untuk makan es krim?! Jangan mengalihkan pembicaraan!"

"Iya. Kita harus meredakan emosimu dulu baru membicarakan sesuatu. Aku bisa saja langsung minta maaf seperti biasanya, tapi kau pasti langsung menolaknya karena masih emosi"

"Justru itu-" Ragnar buru-buru menutup kembali mulutnya yang hampir keceplosan, untungnya lampu berubah hijau jadi Naomi kembali fokus menyetir. "M-Maksudku, kalau kau menyadari tindakanmu salah, tentu saja kau harus menerima konsekuensinya. Bukannya malah berusaha menyogok ku dengan es krim" ralatnya cepat-cepat

"Aku tahu, tapi aku ingin mengakhiri kencan hari ini dengan suasana yang baik, jadi ayo mengobrol sebentar sambil memakan es krim. Kita tidak perlu bertengkar atau marah kalau ada hal yang tidak kita sukai di kencan tadi, kita bisa membicarakan nya baik-baik. Aku juga akan minta maaf jika tindakanku padamu keterlaluan" ucap Naomi lagi, suaranya lembut, namun tetap tegas dan berwibawa seperti Alpha biasanya

Omega itu terdiam. Dia ingin menolak dan memancing pertengkaran, tapi otaknya seolah langsung menurut dengan dominasi lembut Naomi sehingga membuatnya jadi lebih membayangkan rasa manis dingin yang bisa menenangkan kepala daripada keinginan awalnya yang ingin memancing pertengkaran.

Ragnar mengerucutkan bibir. Sepertinya es krim tidak seburuk itu."... Terserah."

Naomi tersenyum samar. "Oke. Kau yang traktir, ya"

"HAH?!" kening Ragnar mengerut dalam. "Kenapa aku?!"

"Karena aku tidak ingin membuatmu merasa seperti direndahkan" jawab Naomi ringan, sementara Ragnar tertegun.

Sepuluh menit kemudian, mereka duduk di bangku kedai es krim kecil yang masih buka. Angin malam menyapu lembut wajah mereka. Naomi memilih rasa vanila dengan sirup karamel, sementara Ragnar dengan cepat menunjuk stroberi, meski kemudian melirik rak berisi es krim coklat dengan penuh pertimbangan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 11, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Her OmegaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang