Profesi sebagai dosen bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi bagi diriku yang baru enam bulan menjadi dosen.
Kebanyakan mahasiswa tidak takut padaku karena usiaku tidak jauh dari mereka. Aku tidak masalah akan hal itu. Aku hanya ingin mereka menghormatiku sebagai pengajar mereka dan tidak bersikap kurang ajar. Aku akan sangat menghargai hal itu.
Namun sayangnya ada beberapa mahasiswa yang tidak bisa memberikan hal itu padaku.
Ketika aku sedang menjelaskan materi algoritma di depan kelas, pintu tiba-tiba terbuka dan segerombolan anak laki-laki masuk ke dalam kelas tanpa rasa malu. Aku mengecek jam tanganku. Mereka terlambat tiga puluh menit dan langsung duduk begitu saja di deretan kursi paling belakang.
Aku menghela napas panjang. Aku membenci gerombolan anak laki-laki berjumlah empat orang itu. Aku pernah menegur mereka saat pertama kali mengajar, namun keesokan harinya aku dipanggil ke ruang dekan fakultas dan mendapat surat peringatan. Dari situ aku tahu bahwa mereka bukan mahasiswa sembarangan. Mereka anak-anak yang memiliki kuasa di kampus ini.
Jadi aku tidak akan pernah mendapat respect dari mereka sampai kapanpun.
Aku melanjutkan pengajaranku seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Mahasiswa yang lain sudah terbiasa menganggap mereka tidak ada, jadi aku juga akan bersikap demikian. Aku hanya perlu fokus pada mereka yang memang ingin mendapatkan ilmu.
Satu jam berlalu dengan cepat. Aku memberi mereka tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Aku juga memberi mereka pengumuman yang paling tidak mereka sukai.
“Dua minggu lagi kita ada kuis. Saya berharap kalian semua bisa mempersiapkan diri dengan baik. Apabila kalian memiliki pertanyaan atau butuh bantuan, kalian dapat menemui saya di luar jam perkuliahan. Ada yang ingin ditanyakan terkait materi hari ini sebelum kelas berakhir?” tanyaku yang mendapat gelengan kepala dari sebagian besar mahasiswa.
“Jangan lupa absen kehadiran. Kelas saya bubarkan. Terima kasih.” Aku menutup bukuku lalu mematikan laptopku, sebelum memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Satu persatu mahasiswa keluar dari ruang kelas, menyisakan beberapa murid yang masih mengobrol satu sama lain.
Ada seorang anak perempuan datang kepadaku untuk menanyakan beberapa hal yang tidak ia mengerti dari materi hari ini. Aku menjelaskannya dengan sabar dan beberapa mahasiswa yang masih tinggal ikut menyimaknya. Terakhir, aku memastikan anak itu sudah paham dengan materi hari ini sebelum membiarkannya keluar dari kelas.
“Terima kasih, Bu.” Anak itu mengucapkan terima kasih padaku lalu berpamitan sebelum keluar dari kelas. Kini di dalam kelas itu hanya tersisa diriku dan seorang anak laki-laki yang masih betah duduk di bangkunya. Anak laki-laki itu termasuk dalam gerombolan anak yang masuk terlambat tadi. Namanya Niki - kalau tidak salah.
Setahuku Niki adalah putra tunggal dekan fakultas dan yang paling diam diantara teman-teman gerombolannya. Meskipun paling diam, penilaianku sama jeleknya dengan teman-temannya yang lain karena ia termasuk dalam gerombolan itu. Aku yakin sifat aslinya tidak jauh berbeda. Ia hanya belum menunjukkannya saja. Kalau tidak, mana mungkin ia mau berteman dengan teman-temannya yang kasar dan kurang ajar itu.
Aku berdeham sejenak lalu bertanya, “ada yang masih belum jelas, Niki?” Ia menegakkan tubuhnya ketika aku melontarkan pertanyaan kepadanya.
“Tidak ada, untuk sekarang,” jawabnya. “Tapi kalau nanti ada, aku bisa datang ke ruanganmu kan, Bu?”
Aku menganggukkan kepalaku. “Tentu saja.”
“Anda juga akan membantuku?” Aku kembali menganggukkan kepalaku. Entah kenapa aku merasa ia memiliki tujuan lain yang sangat bertolak belakang dengan yang kupikirkan, namun cepat-cepat aku membuang pikiran itu dan tetap berpikiran positif.
YOU ARE READING
Sweet Venom
RomanceMature Content "All i need is the taste of yours" Enjoy my story
