Storage Room - Sunghoon

796 9 1
                                        

Hari-hari di kantor terasa begitu menyesakkan.

Semua berawal dari dua tahun yang lalu ketika manager yang lama mengundurkan diri dan digantikan oleh manager yang baru. Manager yang baru terbilang masih sangat muda. Usianya baru menginjak 28 tahun, dan rumor yang beredar dia adalah anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja.

Pertama kali melihatnya, aku terpesona oleh ketampanannya. Tubuhnya tinggi tegap, rambut gelapnya tertata rapi, matanya menyorotkan ketegasan yang sesuai dengan posisinya. Dada bidangnya terlihat menggiurkan dalam balutan kemeja putih yang pas di tubuhnya. Penampilannya terlihat begitu sempurna dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya ketika ia pertama kali datang ke kantor ini.

Rasa kagumku sirna setelah ia memberiku banyak pekerjaan melebihi manager yang sebelumnya dan secara terang-terangan mengkritikku saat rapat berlangsung. Aku yang terkenal pandai dalam pekerjaanku merasa ciut saat berhadapan dengannya. Bahkan teman-temanku tidak ada yang bisa membelaku dalam situasi itu. Semua memilih untuk diam dan patuh pada ucapan manager yang baru.

Namanya Park Sunghoon. Sudah dua tahun ini aku menahan segalanya. Meskipun dia tampan, aku tidak bisa tahan dengan cara kerjanya.

Ada banyak orang di dalam tim, namun hanya aku saja yang menjadi sasarannya. Jika ada pekerjaan mendadak, ia langsung melimpahkannya padaku. Jika ada kesalahan dalam pekerjaan, ia tidak segan-segan memarahiku dengan nada dingin dan mengkritikku di depan semua orang.

Seperti saat ini, ketika aku sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, ia tiba-tiba datang dan meletakkan setumpuk kertas di atas mejaku. Tatapan dinginnya bertemu dengan milikku lalu ia berkata, "selesaikan malam ini." Setelah berkata demikian, ia pergi dari sana tanpa repot-repot menunggu jawaban dariku.

Aku meletakkan tasku lalu duduk kembali di kursiku. Aku menatap benci tumpukan kertas yang ada di hadapanku. Hampir setiap hari aku harus lembur karena pekerjaan mendadak ini. Sunghoon tidak memberiku kesempatan untuk pulang cepat dan tidur lebih awal.

Dasar laki-laki brengsek.

Sebelum aku mulai hilang kontrol, aku menyalakan komputerku kembali dan tenggelam dalam tumpukan kertas  yang ada di mejaku. Aku harus mulai mengerjakannya sekarang jika ingin pulang sebelum jam 9 malam

Gosh! I'm tired of all this shit...

Jam menunjukkan pukul 6 sore. Pekerjaanku masih tersisa setengah. Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkannya kembali. Aku meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku. Semua rekan kerjaku sudah pulang, tersisa diriku seorang yang masih terjebak di sini.

Aku melirik ke arah ruangan Sunghoon. Dia tidak ada di sana, namun lampu ruangannya masih menyala. Mungkin ia sedang keluar untuk makan malam. Setahuku Sunghoon selalu pulang larut malam setiap harinya. Ia benar-benar seorang workaholic.

Aku memutuskan untuk membuat secangkir kopi di dapur lalu pergi ke ruang penyimpanan berkas untuk menenangkan diri. Aku menyukai tempat itu sejak dua tahun yang lalu. Berada di sana membuatku tenang dan seperti terlepas dari dunia pekerjaan yang begitu menyesakkan.

Aku merasa begitu tenang selama berada di tempat ini.

Kupandangi langit malam lewat kaca jendela yang ada di dekat atap sambil menyeruput kopi yang ada di tanganku. Aroma kopi membuatku semakin meradlsa tenang. Setelah kopiku habis, aku akan langsung kembali bekerja dan pulang ke rumah.

"Manager sialan..." umpatku pelan. Aku masih kesal padanya karena sudah memberiku pekerjaan mendadak hari ini, padahal aku berencana untuk tidur lebih awal. Akhir-akhir ini aku merasa lelah dan butuh tidur lebih banyak untuk mengembalikan staminaku.

Sweet VenomStories to obsess over. Discover now