“Kamu yakin bukan kamu yang bermasalah?”
Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Sudah sering sekali suamiku menuduhku tidak subur sehingga sampai sekarang kami masih belum dikaruniai keturunan. Aku sudah mengecekan diriku berulang kali ke dokter dan tidak ada yang bermasalah, sedangkan suamiku tidak pernah memeriksakan dirinya dan terus menuduhku.
Ditambah lagi, mertuaku mendukung anaknya dan ikut menyalahkanku. Aku tidak tahan hidup terus seperti ini. Aku lelah terus disalahkan dan merasa terpojokkan.
“Kamu tidak percaya dengan hasil tes yang kuberikan?” tanyaku balik pada suamiku.
“Kamu tahu aku sibuk dan aku tidak punya waktu untuk menemanimu ke dokter. Sejujurnya aku tidak percaya dengan hasilnya. Siapa tahu kamu memanipulasinya…”
Lagi-lagi aku memejamkan mataku, berusaha meredam amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Aku tidak ingin bertengkar hebat dengan suamiku. Bukan karena aku tidak bisa membela diri. Energiku langsung terkuras habis setelah berdebat panjang dengan suamiku, sehingga selama ini aku memilih untuk mengalah dan mengikuti keinginannya.
“Kapan kamu ada waktu untuk ikut ke dokter?” tanyaku. Kalau memang dia ingin ikut ke dokter bersamaku untuk memastikan aku tidak memanipulasi hasilnya, maka itulah yang akan kulakukan.
“Sabtu ini kebetulan aku kosong. Kita ke dokter Yang Jungwon, dokter ginekologi paling terkenal yang aku tahu. Kalau memang hasilnya tidak berubah, kita akan cari cara lain supaya kita berdua bisa punya anak.”
See? Dia merasa begitu percaya diri dan tidak merasa ada yang salah dengan dirinya sampai-sampai pilihan untuk memeriksakan dirinya tidak ada dalam kepalanya.
“Baiklah. Aku akan mengikuti kemauanmu,” ujarku lalu segera keluar dari kamar untuk menenangkan diri.
Aku butuh waktu sendiri untuk menghibur diri dan menenangkan emosiku.
Aku memutuskan untuk pergi ke klub malam tanpa sepengetahuan suamiku. Aku mengirimnya pesan - yang kuyakini tidak akan ia baca - dan memberitahunya aku tidur di rumah Sena sahabatku malam ini. Aku memilih mengendarai porsche merah kesayanganku dan segera pergi Highway - klub malam paling terkenal di kota.
Aku melempar kunci mobilku pada petugas valet yang berdiri di depan klub untuk mengurus mobilku dan masuk ke dalam klub dengan jalur khusus VIP. Aku sudah menjadi pelanggan setia klub itu selama lima tahun. Ketika aku masuk, sang manager klub langsung menyambutku dengan senyum lebarnya.
“Miss Sena kebetulan ada di sini. Nyonya ingin saya mengantarnya ke sana?” tanya sang manager. Aku menganggukkan kepalaku sehingga ia langsung mengantarku pada Sena yang duduk di sofa lantai dua yang mengarah langsung ke panggung DJ.
“Hei, bitch! Kenapa kamu ada di sini?” teriak Sena. Suara musik DJ menggema keras dan aku hampir tidak bisa mendengar suara Sena.
“Masalah dengan suamimu lagi?” tebak Minji. Aku hanya tersenyum lalu duduk di sofa yang masih kosong.
“Bajingan itu masih menyalahkanku Aku tidak tahan berada di rumah terus,” ujarku sedikit berteriak.
Aku memesan sebotol wine yang biasa kupesan saat berkunjung ke klub. Para pelayan dan bartender di sini sudah hafal dengan pesananku sehingga tanpa perlu menunggu lama mereka telah menyajikannya di hadapanku. Aku memberi tips pada pelayan yang menyajikan minumanku sebelum ia pergi dari hadapanku.
Aku berdiri di dekat pagar pembatas untuk melihat keadaan di lantai dansa sambil menenggak wine yang kupesan. Seperti biasa lantai itu selalu ramai dipenuhi oleh laki-laki yang menggerakkan pinggulnya dan perempuan yang menggoyangkan bokongnya untuk mendapat perhatian - dan sentuhan yang mereka inginkan jika beruntung.
