Sejak perkenalan tak biasaku dengan Jungwon, akhirnya kami memutuskan untuk berhubungan. Bukan sebagai sepasang kekasih seperti yang kalian kira, melainkan sebagai teman tidur. Fuck buddy. Friend with benefit, apapun itu istilahnya. Aku tidak memiliki perasaan untuknya, dan sepertinya begitu juga dengannya, jadi label itu cocok untuk kami berdua.
Dalam hubungan ini, kami bebas berhubungan dengan orang lain. Tidak ada aturan yang mengekang. Jungwon bebas memiliki pacar, berhubungan seks dengan perempuan lain, dan begitu juga sebaliknya. Namun sejak aku mulai berhubungan dengan Jungwon, aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain. Aktivitas seksualku hanya bersama Jungwon seorang.
Entahlah, tubuhku terlalu kecanduan pada sentuhan Jungwon sampai-sampai aku tidak menginginkan sentuhan laki-laki lain.
Jungwon sudah lebih dari cukup bagiku.
Selain itu, aku dan Jungwon memiliki preferensi seks yang sama. Kami sama-sama suka melakukannya di tempat umum. Seperti sekarang ini, aku dan Jungwon melakukannya di tangga darurat gedung apartemenku.
Crazy, right? But, i don't care.
Adrenalineku terpacu setiap kami melakukannya di tempat umum. Perasaan 'takut ketahuan' membuatku bergairah. Aku bisa mencapai puncak dalam waktu singkat dan berkali-kali.
"Ahhh...shhh...Jungwon..."
"Pelankan suaramu, baby. Suaramu terlalu keras," bisik Jungwon tepat di telingaku. Tangannya membungkam mulutku untuk meredam desahanku.
Jungwon menghimpitku ke tembok, menumbukku dari belakang. Tidak ada ruang gerak bagiku sehingga aku hanya bisa pasrah. Keringat membanjiri dahiku.Tubuhku terasa lemas luar biasa karena aku tidak tahu sudah berapa kali aku keluar. Kakiku bahkan mulai tidak sanggup untuk menopang tubuhku. Jika bukan karena tangan Jungwon yang melingkari pinggangku, mungkin aku sudah terduduk di lantai.
"Aku...lelah," rintihku. Aku ingin Jungwon cepat mencapai puncaknya agar kami bisa segera mengakhiri ini semua.
"Tunggu, sebentar lagi." Jungwon menambah kecepatannya. Kejantanannya semakin liar keluar-masuk dalam lubangku. Gesekan terasa tak beraturan dan sepertinya aku akan keluar lagi untuk kesekian kalinya.
Kejantanan Jungwon semakin membesar, namun sebelum ia meledak di dalamku, aku kembali mencapai pelepasanku. Tubuhku bergetar hebat, otot perutku mengetat bersamaan dengan keluarnya cairan kenikmatanku yang meleleh sampai membasahi paha bagian dalamku, dan bahkan sampai menetes ke lantai.
Jungwon mencapai puncaknya tak lama setelahnya. Aku dapat merasakan kehangatan benihnya di dalam rahimku. Berulang kali aku menyuruh Jungwon untuk menggunakan pengaman, namun ia tidak pernah mendengarkanku.
Sejujurnya aku takut kena STD karena aku tidak tahu Jungwon tidur dengan siapa saja, namun Jungwon berhasil meyakinkanku dengan menunjukkan surat hasil pemeriksaannya yang ia lakukan secara rutin. Jadi aku tidak pernah mendebatnya lagi ketika ia ingin menyetubuhiku tanpa pengaman.
Aku terperangkap diantara tembok dan tubuh besar Jungwon. Aroma alami tubuh Jungwon dan seks memenuhi indra penciumanku. Mataku terpejam sesaat, menikmati sisa-sisa pelepasanku.
Aku tidak pernah merasa kecewa dengan perfomance Jungwon. Ia selalu tahu apa yang tubuhku inginkan tanpa aku mengatakannya. Ia selalu mendahulukanku dibandingkan dirinya. Itulah yang aku sukai dari Jungwon.
Aku dan Jungwon mulai berpakaian kembali karena kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Seseorang bisa saja berjalan ke tempat itu dan melihat kegiatan tak senonoh yang kami lakukan.
Jungwon membantuku mengenakan pakaianku kembali karena tubuhku terlalu lemas. Setelah semua pakaianku terpasang - kecuali celana dalam karena Jungwon menyimpannya di dalam saku celananya - Jungwon menggendongku kembali ke unit tempat tinggalku.
Sepanjang perjalanan, aku merangkul lehernya dengan erat seakan aku tidak ingin melepaskannya dan membenamkan wajahku pada lehernya untuk menghirup aroma alami tubuhnya yang membuatku candu. Aroma lemon yang menyegarkan bercampur dengan aroma sandalwood yang menenangkan berhasil menciptakan suatu kombinasi yang unik, seperti kepribadian Jungwon. Laki-laki itu sangat energik dan liar di atas ranjang, namun di luar itu berhasil membuatku merasa aman dan nyaman.
Kira-kira dimana lagi aku bisa menemukan laki-laki seperti Yang Jungwon?
Jungwon menggendongku sampai ke kamar tidurku, membaringkanku di atas ranjang. Dengan cekatan ia melepas pakaianku satu persatu. Aku merengek seperti bayi karena aku tahu isi kepalanya saat ini.
"Aku lelah, Jungwon..."
"Shhh...ini tidak akan lama. Aku hanya ingin membersihkanmu saja."
Wajah Jungwon berada di antara kedua pahaku. Lidahnya mulai menyapu area kewanitaanku, membersihkan sisa-sisa cairan kenikmatanku yang bercampur dengan miliknya. Tubuhku yang sensitif kembali hidup. Desahan demi desahan keluar dari bibirku. Tanganku meremas rambut Jungwon, mengacak-acaknya hingga berantakan untuk melampiaskan rasa nikmat yang kurasakan karena permainan lidahnya.
"Stop...please..." Meskipun aku memohon, Jungwon tidak mengindahkannya. Ia semakin bersemangat melakukan aktivitasnya. Lidahnya bergerak dengan sangat mahir, menyapu bersih bagian-bagian yang tak terbayangkan sebelumnya.
Aku kembali mendapatkan pelepasanku, namun kali ini rasanya tidak ada cairan yang keluar. Otot perutku mengetat lebih kencang dibandingkan sebelum-sebelumnya, seakan ingin mengeluarkan semua cairan yang ada di dalam tubuhku meskipun hal itu mustahil.
Aku hampir pingsan karena banyaknya rangsangan seksual dan pelepasan yang kuterima hari ini. Mataku terpejam, menikmati sisa-sisa pelepasanku. Aku yakin dalam beberapa menit kedepan aku akan tertidur pulas seperti bayi.
"Minggu depan ada acara pembukaan cabang Paradise Spa di Jeju. Aku mau kau hadir bersamaku," ujar Jungwon.
Aku membuka mataku kembali, melihat Jungwon berdiri tegak di depanku sambil mengusap bibirnya dengan telapak tangannya.
"Kau serius?" tanyaku. Jungwon menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
Aku ikut menganggukkan kepalaku. "Baiklah. Aku perlu baju baru untuk acara itu." Suaraku terdengar lirih dan mataku kembali terpejam karena energiku sudah benar-benar habis. Meskipun demikian, aku yakin Jungwon masih dapat mendengarnya.
"Aku akan menemanimu. Bagaimana kalau sabtu ini?"
"Sounds good."
Setelah itu, aku tidak tahu apa yang Jungwon lakukan karena rasa kantuk sudah mengambil alih kesadaranku dan membawaku ke alam mimpi yang panjang.
***
Sabtu ini, Jungwon mengantarku pergi ke mall untuk mencari baju baru. Ia menjemputku lebih dulu di apartemenku sebelum kita pergi ke tempat itu.
Sejujurnya aku tidak tahu harus membeli baju seperti apa. Jungwon bilang acaranya tidak terlalu formal sehingga aku tidak perlu memakai formal dress. Ia merekomendasikan dress pantai agar sesuai dengan tema spa-nya, jadi aku akan mengikuti sarannya.
Sepanjang perjalanan, tangan kanan Jungwon meremas pahaku, sedangkan tangan kirinya memegang kemudi. Tatapannya lurus ke depan, namun aku bisa tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Kebetulan hari ini aku mengenakan dress yang cukup mini sehingga separuh pahaku terekspos tanpa penghalang. Jungwon menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan hasrat seksualnya yang sepertinya tidak pernah terpuaskan.
Jari Jungwon mulai merayap masuk ke dalam rok dress-ku, mengesampingkan celana dalamku agar ia dapat memasukkan jarinya ke dalam lubangku. Aku memukul tangannya, namun ia tidak mundur sedikit pun. Lagipula aku juga tidak berniat untuk benar-benar menyingkirkan tangannya.
Fullnya ada di Karyakarsa ya!
Username : Louvreeze
Kalian tinggal search aja👌
Thank you for your support 💕
It means lot for me☺️
Req? Komen atau DM aja ya ^^
Don't forget to like and follow💫
Quick question nih, kalian tertarik buat baca mini series Jungwon nggak? Kalau iya, mungkin aku akan pertimbangin untuk bikin mini seriesnya. Kalau peminatnya banyak, nanti aku cari ide sama waktu buat bikin. Hehehe...
Thank you semuanya ^^
YOU ARE READING
Sweet Venom
RomanceMature Content "All i need is the taste of yours" Enjoy my story
