Menunggu.
Satu kegiatan yang paling tidak disukai oleh orang karena membosankan, namun tidak bagiku. Okay, sebenarnya aku bosan, namun aku masih dapat menoleransinya.
Sudah ratusan kali aku mengecek jam tanganku dalam kurun waktu satu jam, tapi laki-laki itu tak kunjung datang. Aku sudah memesan minuman sebanyak dua kali untuk mengulur waktu dan hampir memesan minuman yang ketiga karena ia tak kunjung datang.
Aku bisa mengerti jika ia terlambat datang karena terjebak macet atau masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, namun setidaknya ia bisa memberitahuku, tidak meninggalkanku tanpa petunjuk seperti ini. Berulang kali aku menelepon dirinya dan meninggalkan pesan, namun tak satu pun ia menjawabku.
Akhirnya aku memutuskan untuk membayar minumanku dan keluar dari restaurant yang susah payah kupesan dari sebulan yang lalu untuk merayakan anniversary kami yang ketujuh. Jika ia meneleponku nanti atau membalas pesanku, aku akan menghiraukannya supaya ia tahu semarah apa diriku sekarang. Satu bulan mungkin cukup untuk memberinya pelajaran. Aku pastikan ia berusaha keras untuk memperbaikinya kali ini karena aku tidak akan melunak semudah itu. Hari ini adalah hari yang paling spesial dan ia membuangnya begitu saja.
Aku masuk ke dalam taksi yang kebetulan kosong dan sedang berhenti di pinggir jalan. Aku menyebutkan alamat apartemen dimana aku tinggal pada sang supir sebelum ia menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan aku melihat layar ponselku yang menampilkan percakapanku dengan Justin selama beberapa jam terakhir - atau lebih tepatnya aku seperti berbicara dengan tembok karena ia tidak membalasku sama sekali, bahkan membacanya pun tidak.
Aku menghela napas panjang, mematikan ponselku, dan memilih menikmati pemandangan di luar jendela. Seattle selalu memiliki pesonanya sendiri dibandingkan kota lain saat malam tiba, dan aku tidak pernah bosan memandanginya.
Tak terasa sudah 20 tahun aku tinggal di kota ini. Aku lahir dan dibesarkan di Osaka, Jepang sampai usiaku 5 tahun, sebelum orang tuaku bercerai dan ibuku membawaku ke kota ini - kota dimana kekasihnya yang selama ini ia sembunyikan dari ayah tinggal. Tak lama kemudian ibuku menikahi kekasihnya dan mereka hidup bahagia sampai sekarang.
Aku tidak pernah membenci ibuku atau kekasihnya yang sekarang merupakan ayah tiriku. Paman Devon tidak pernah memperlakukanku seperti anak tirinya. Ia menyayangiku dan memanjakanku selayaknya ayah yang baik pada umumnya. Karena itu aku tidak pernah menanyakan alasan mengapa ibuku memilih untuk meninggalkan ayahku demi Paman Devon. Dan sejak ibuku menikah dengannya, aku tidak pernah melihat mata ibuku memancarkan kesedihan yang biasa kulihat ketika kami masih hidup bersama ayah. Jika aku boleh jujur, aku berharap Paman Devon adalah ayah kandungku.
"Maam? Kita sudah sampai." Tanpa kusadari aku sudah sampai di depan gedung apartemenku. Aku membayar ongkos taksiku lalu mengucapkan terima kasih pada sang supir sebelum keluar dari mobil.
Aku mengeluarkan ponselku selagi menunggu lift, mengecek kalau saja Justin sudah membaca pesanku. Lagi-lagi aku harus menelan kekecewaanku karena ia tidak membaca pesanku sama sekali.
Sebenarnya kemana dia? Sesibuk apa dia sampai-sampai tidak bisa menghubungiku?
Aku memasukkan password unit apartemenku lalu masuk ke dalam setelah lampu indikator berubah warna menjadi hijau. Lampu ruang depan menyala ketika aku masuk. Aku melepas mantelku dan menggantungnya di dekat pintu. Aku mengganti sepatu boots-ku dengan sandal rumah, dan saat itu juga aku menyadari sesuatu.
Di samping sandal rumahku ada sepasang sepatu pantofel hitam dan high heels merah menyala yang sedikit berserakan seakan-akan sang pemilik terburu-buru masuk ke dalam. Aku tidak mengenali pemilik high heels merah yang ada - dan jelas itu bukan milikku - tapi aku mengenali pemilik pantofel hitam yang ada di sampingnya.
YOU ARE READING
Sweet Venom
RomanceMature Content "All i need is the taste of yours" Enjoy my story
