• CHAPTER 16

1.5K 78 4
                                        

CHAPTER 16
「 ✦ Confused  ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Davian baru saja sampai di rumah. Ia membuka pintu dengan santai, tetapi alisnya langsung berkerut melihat Nayra duduk di sofa ruang tamu dengan gelisah. Matanya sedikit sembab, seperti habis menangis. Ia terlihat sibuk meremas-remas jemarinya, sesuatu yang hanya Nayra lakukan saat dia benar-benar tertekan.

Davian berjalan mendekat perlahan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ekspresinya tetap datar, meski matanya menyiratkan rasa ingin tahu.

"Lo kenapa?" tanyanya dengan nada cuek, seperti biasa.

Nayra mengangkat wajahnya, kaget mendengar suara Davian. Dia buru-buru menghapus sudut matanya dengan lengan baju, berusaha menyembunyikan kekacauan emosinya.

"Nggak, aku nggak apa-apa," jawabnya cepat, tetapi suaranya sedikit bergetar.

Davian mengangkat alis, jelas tidak percaya. "Lo ketahuan banget kalo bohong, Nay. Muka lo nggak bisa nutupin," balasnya sambil menjatuhkan tubuh ke sofa di samping Nayra.

Nayra menunduk, menggigit bibirnya ragu. Dia ingin menceritakan kejadian tadi, tetapi pikirannya dipenuhi ketakutan akan reaksi Davian.

"Aku cuma... Capek aja," ujarnya mencoba menutupi, meskipun tangannya masih gemetar.

Davian memperhatikan Nayra dengan lebih serius sekarang. Dia mungkin terlihat cuek, tapi dia cukup peka untuk tahu kalau sesuatu yang besar pasti terjadi.

"Capek apa? Lo nggak biasanya begini," tanyanya, nadanya sedikit melunak.

Nayra akhirnya menghela napas panjang. "Tadi Syera... dia datang ke sini," ucapnya pelan.

Mata Davian langsung menyipit mendengar nama itu. "Ngapain dia ke sini?" suaranya menegang.

Nayra meremas ujung bajunya, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Dia bilang tahu semuanya, tentang aku... tentang kamu. Dan dia juga bilang kalau dia mau kasih tahu semuanya ke semua orang."

Mata Davian menyipit mendengar ucapan Nayra tentang ancaman Syera. Rahangnya mengeras, dan dia menarik napas panjang sebelum akhirnya berdiri dari sofa. Tatapannya penuh determinasi, dan suaranya terdengar tenang, tapi tegas.

"Lo tunggu di sini," katanya sambil mengambil jaket yang tadi ia lemparkan di sandaran kursi.

"Gue bakal bikin dia tutup mulut."

Nayra langsung berdiri, memegang lengan Davian dengan cemas. "Dav, kamu mau ngapain? Jangan bikin masalah lebih besar, aku nggak mau ada keributan lagi."

Davian menatap Nayra sekilas, matanya menunjukkan keyakinan. "Gue nggak bakal ribut."

Nayra masih menahan lengannya, suaranya melembut, sedikit memohon.

"Tapi Dav..."

Davian menyentuh tangan Nayra yang memegang lengannya, melepaskannya perlahan.

"Lo nggak usah khawatir. Gue tau gimana caranya handle dia. Lo tunggu di sini, jangan mikir yang aneh-aneh," ujarnya dengan nada yang lebih lembut, meski tetap penuh keyakinan.

Nayra ingin menahan lagi, tapi dia tahu percuma. Davian sudah memutuskan, dan dia tidak akan mundur. Akhirnya, Nayra hanya bisa mengangguk pelan, meskipun hatinya masih dipenuhi kecemasan.

Davian mengenakan jaketnya, melirik Nayra sekali lagi sebelum berbalik menuju pintu.

"Gue janji semuanya bakal beres," katanya sebelum melangkah keluar, meninggalkan Nayra yang hanya bisa memandanginya dengan rasa takut dan harap bercampur jadi satu.

NAYRA [ ON GOING ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang