• CHAPTER 33

924 79 8
                                        

CHAPTER 33
「 ✦ End of marriage? ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Ratih sudah diperbolehkan pulang sejak beberapa hari yang lalu. Meskipun begitu, ia harus berada dalam pengawasan yang ketat sebelum kondisinya benar-benar pulih. Gerry bersama saudara-saudara nya yang lain sepakat untuk memperkejakan perawat agar Ratih mendapatkan perawatan yang layak di rumah.

Kini, sejak Nayra tinggal bersama keluarganya lagi, Davian lebih sering menemui Oma nya dan akan ke rumah orang tua Nayra setelahnya. Sampai saat ini dia masih berusaha untuk bertemu dengan Nayra.

"Ayo Oma, buka mulutnya. Ini terakhir deh, janji," ucap Davian meyakinkan neneknya agar mau makan.

Saat ini Davian sedang berada bersama Ratih, menyuapinya bubur dengan penuh kesabaran meskipun. Meski Ratih beberapa kali menolak dan memalingkan wajahnya, Davian tetap bersikeras memintanya untuk membuka mulut. Semua itu dilakukan di bawah pengawasan perawat yang berdiri tak jauh dari mereka.

Ratih menerima sesendok terakhir yang disuapi oleh cucunya. "Lain kali kamu bawa istrimu kesini, Oma pasti mau makan, kamu gak perlu repot-repot paksa Oma buat makan."

Davian terdiam sejenak, sebelum kembali menetralkan ekspresi nya. "Iya, nanti Vian ajak Nayra kesini ya? Tapi Oma harus sembuh dulu," katanya dengan nada meyakinkan.

Davian melirik jam tangannya, ia melihat waktu menunjukkan pukul 12.10 itu artinya dia harus segera pergi ke rumah orang tua Nayra sekarang.

"Oma, Vian mau berangkat ke kantor dulu ya? Nanti papa marah kalau Vian telat." Davian mencondongkan tubuhnya sedikit kemudian mencium pipi neneknya.

Ratih tersenyum hangat-mengusap rambut cucunya dengan tangannya yang keriput. "Hati-hati ya nak. Sampaikan salam Oma ke istri mu ya, bilang sama Nayra-oma kangen..."

Senyuman terpaksa ia tampilkan untuk meyakinkan Ratih, padahal dia sendiri tidak yakin apakah dia bisa bertemu lagi dengan Nayra atau tidak setelah ini.

"Nanti pasti Vian sampaikan." Davian mengangguk kecil, senyum yang ia paksakan masih bertahan di wajahnya.

❤︎❤︎❤︎

Davian sampai di kediaman orang tua Nayra. Ia sengaja memarkirkan mobilnya di luar gerbang. Setelah turun dari mobil, Davian mengintip dari celah pagar, memastikan keberadaan satpam yang biasanya berjaga.

"Pak, tolong bukain pintunya sebentar. Saya mau masuk," pintanya.

Pak Slamet yang sudah hafal betul dengan wajah Davian, menyeruput kopi hitamnya sebentar sebelum akhirnya membuka sedikit pintu gerbang agar Davian bisa masuk.

"Mas-mas, sampean kan wis ngerti. Ndak bakal dibolehin ketemu Neng Ayu," ujar Pak Slamet dengan logat Jawa yang kental, kepalanya menggeleng pelan. "Lha kok yo isih ngeyel, pie to."

Davian tidak menjawab, bukan karena tidak peduli-melainkan tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh pak Slamet. Ia tetap melangkah menuju pintu rumah yang terbuka lebar. Meskipun begitu, Davian tetap mengetuk pintu dengan sopan.

Davian mendengar suara langkah kaki mendekat, ternyata itu Arion.

"Duh, ni orang kok nggak ada bosen-bosennya dateng ke sini," gerutu Arion kesal. "Kenapa sih, Bang?"

"Yon, kasih izin gue ketemu kakak lo," ujar Davian langsung pada intinya.

"Nggak bisa, Bang. Lo-"
Ucapan Arion terhenti saat Davian mengeluarkan uang berwarna merah, lima belas lembar-lalu menyodorkannya ke arah Arion.

Still, I Choose You [ ON GOING ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang