• CHAPTER 32

1.3K 88 13
                                        

CHAPTER 32
「 ✦ Make peace ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Nayra tak pernah membayangkan kejadian ini sebelumnya. Perut buncitnya yang selalu ia usap dengan penuh kasih, kini telah rata. Tempat dimana harapan tumbuh kini hanya menyisakan kehampaan. Anaknya pergi, untuk selamanya.

Elina, Emma, dan Celine datang hampir bersamaan, wajah mereka pucat begitu melihat Nayra terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Mereka adalah saksi bagaimana Nayra menjaga kandungannya, bagaimana ia bertahan, bagaimana ia berdoa agar bayi itu tetap hidup. Dan kini, semua usaha itu seakan runtuh dalam satu kejadian kejam.

Namun Nayra tak menoleh.
Tatapannya kosong, tertuju pada jendela kamar rawat inap, seolah dunia di sekelilingnya tak lagi ada.

Elina melangkah mendekat, duduk di sisi ranjang dengan ragu. Tangannya terulur, menyentuh punggung tangan Nayra yang dingin.

"Nay..." panggilnya lirih.

Tak ada jawaban.

Emma menutup mulutnya menahan isak, sementara Celine hanya bisa berdiri mematung, dadanya sesak melihat sahabat mereka seperti kehilangan jiwa. Nayra masih menatap ke luar, diam, rapuh, seolah sebagian dirinya ikut terkubur bersama bayi yang tak sempat ia peluk.

Nayra perlahan menoleh ke arah mereka, matanya sembab, hidungnya merah—menandakan dia baru saja menangis. Wanita itu menyentuh tangan Elina, "El..." panggil Nayra, suaranya terdengar bergetar.

"Anak gue nggak ada, El..."

Tangis tiga gadis itu pecah, mereka sama-sama memeluk Nayra untuk memberi kekuatan. Tapi Nayra—wanita itu seperti kehilangan separuh dari dirinya. Bahkan sekarang, untuk menangis saja rasanya sia-sia. Anaknya tidak akan pernah kembali, selamanya.

"Ini mimpi kan, cel? Gue tau ini mimpi. Tapi kenapa gue nggak bangun-bangun dari mimpi buruk gue ini?" Mata Nayra kembali berkaca-kaca, dia belum bisa menerima kepergian anaknya.

Celine menggeleng pelan sambil terisak, tangannya mengusap punggung Nayra berulang kali, tak tahu harus berkata apa. Emma menutup wajahnya, bahunya naik turun menahan tangis yang tak lagi bisa dibendung.

"Nay, gue tahu ini nggak mudah buat lo." Suara Elina bergetar, matanya basah. "Tapi lo harus ingat... di sini ada gue, Celine, Emma. Keluarga lo. Mereka semua ada buat dukung lo..."

Jari Elina mengusap pipi Nayra yang basah oleh air mata. Sentuhan itu seharusnya menenangkan—namun justru membuat pertahanan Nayra runtuh sepenuhnya.

Tangisnya pecah.

Nayra menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Suara isaknya terdengar pilu, seperti jeritan yang selama ini ia pendam sendirian.

"Gue capek El..." lirihnya di sela tangis.

Emma langsung memeluk tubuh Nayra dari samping, menahan bahunya yang gemetar. Celine ikut mendekat, mengusap punggung Nayra perlahan, berulang kali, seolah mencoba menenangkan luka yang tak kasat mata.

"Nggak apa-apa kalau Lo nangis Nay," ucap Celine sambil terisak. "Nggak ada yang maksa lo buat baik-baik aja."

Di tengah pelukan mereka, Nayra menangis tanpa ditahan lagi. Bukan karena semuanya akan baik-baik saja—tapi karena untuk pertama kalinya, ada bahu-bahu yang rela menampung hancurnya dirinya.

❤︎❤︎❤︎


Sementara itu, Gerry akhirnya mendengar semuanya langsung dari mulut ibunya. Setiap kata yang keluar dari Ratih terasa seperti palu yang menghantam kepalanya berkali-kali. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi pembelaan.

NAYRA [ ON GOING ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang