• CHAPTER 26

1.9K 90 42
                                        

CHAPTER 26
「 ✦ Amnesia? ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Nayra menyuapi Davian makanan—atas permintaan pria itu sendiri. Dengan telaten, Nayra menyuapinya sedikit demi sedikit, lalu menyeka noda di sudut bibir Davian dengan lembut.

"Baru kali ini gue makan ada rasanya," ucap Davian sambil mengunyah.

Nayra tidak menjawab, hanya terus menyuapinya dengan sabar. Tak lama kemudian, Ratih masuk sambil membawa segelas air putih dan beberapa butir obat yang harus diminum Davian setelah makan. Wanita itu tersenyum kecil melihat hubungan keduanya yang mulai membaik.

Ratih meletakkan nampan berisi air dan obat di atas nakas. "Lahap banget makannya. Biasanya nggak gini loh, Nay," ucap Ratih menggoda.

Davian tidak menanggapi, ia masih menikmati setiap suapan dari istrinya. Setelah selesai makan, Nayra menyerahkan obat yang harus diminumnya.

Tanpa banyak protes, Davian menelan semua obat dengan patuh. Ratih sempat terheran, sebab biasanya ia harus dibujuk dulu agar mau minum obat.

"Kok obatnya manis ya?" tanya Davian polos, membuat Ratih tertawa kecil.

"Mentang-mentang Nayra ada di sini, obat yang pahit kamu bilang manis. Nggak ingat yang kemarin-kemarin harus dibujuk dulu baru mau minum?" goda Ratih sambil menggeleng geli.

Nayra hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyerahkan satu butir obat terakhir ke tangan Davian.
"Ini, minum. Habis itu kamu istirahat, ya. Aku juga mau pulang," ucapnya dengan nada lembut tapi tegas.

Davian langsung menelan obat yang diberikan. Setelahnya, dia kembali menatap Nayra dengan tatapan sendu.
"Mau pulang sekarang, ya?" tanyanya lirih, terdengar seperti enggan ditinggal.

"Iya," jawab Nayra singkat sambil membereskan sisa-sisa makanan di nampan.

"Besok ke sini lagi, kan?" tanya Davian lagi, suaranya sedikit berharap.

"Iya, kalau nggak sibuk. Lagian, kamu tumben banget sih kayak gini? Biasanya juga nggak mau deket-deket sama aku," balas Nayra sambil melirik cepat ke arahnya.

Davian menyipitkan mata, protes.
"Kapan gue bilang gitu?"

"Kamu amnesia ya? Oh iya, lupa... kepala kamu kan habis kena setir mobil. Pantes error," ujar Nayra sambil menahan senyum geli.

"Tuh, Oma liat sendiri kan? Nayra yang mulai duluan," Davian langsung mengadu pada Ratih yang sedari tadi hanya menyimak dengan senyum penuh arti di wajahnya.

Ratih terkekeh pelan. "Kalian ini... kayak anak kecil aja," gumamnya sambil menggelengkan kepala, tetapi hatinya hangat melihat hubungan keduanya mulai mencair.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ


Ratih menuntun Nayra turun tangga dengan hati-hati, memastikan langkah cucu menantunya itu tidak tergelincir. Kehamilan Nayra yang sudah masuk bulan keenam membuat Ratih tak ingin mengambil risiko sedikit pun.

Di bawah, Laras dan Ervan tengah asyik mengobrol bersama Gerry, ayah Davian. Namun perhatian mereka langsung tertuju ke arah tangga saat mendengar langkah kaki turun. Melihat Nayra bersama Ratih, Laras segera berdiri dan menghampiri putrinya dengan senyum lembut di wajahnya.

"Sudah?" tanya Laras pelan, menatap mata Nayra seolah ingin memastikan semuanya baik-baik saja.

Nayra mengangguk pelan sebagai jawaban. Tatapan matanya tenang, tidak lagi sekeras saat pertama kali datang. Laras menarik napas lega, lalu menggandeng tangan putrinya dengan penuh kasih.

Still, I Choose You [ ON GOING ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang