• CHAPTER 23

1.4K 77 8
                                        

CHAPTER 23
「 ✦ Accident ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Di salah satu sudut kelam sebuah klub malam, Davian duduk sendirian di bar, dikelilingi oleh lampu neon yang berkedip-kedip dan dentuman musik elektronik yang memekakkan telinga.

Tangan kanannya menggenggam erat gelas kristal yang setengah kosong, sementara tangan kirinya memukul meja kayu dengan irama tidak beraturan, seolah mencoba menyaingi musik yang memekik. Aroma alkohol di sekitarnya begitu pekat, dan pelayan bar mengamatinya dengan ragu-ragu.

"Tambah lagi," ujar Davian dengan suara serak dan berat, menunjuk gelasnya.

"Tuan, Anda sudah banyak minum. Mungkin—"

"Gue bilang tambah lagi!" bentaknya, suaranya keras meski sedikit bergetar. Pelayan itu akhirnya mengalah, menuangkan cairan cokelat pekat ke dalam gelas Davian.

Davian mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin bar di depannya. Wajahnya merah karena alkohol, matanya terlihat lelah dan penuh emosi yang bercampur aduk—kemarahan, frustrasi, dan kesedihan yang tidak dia akui bahkan pada dirinya sendiri.

"Sialan..." gumam Davian sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras, meski tetap tenggelam oleh dentuman musik yang memenuhi klub malam itu. Gelasnya kosong lagi, dan dia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada bartender untuk menuangkan lagi.

"Davian?" sebuah suara lembut namun penuh keyakinan memanggil namanya.

Davian mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang sudah berat karena alkohol mencoba fokus pada sumber suara. Di depannya, seorang perempuan berdiri dengan senyum tipis yang sedikit gugup tapi ramah. Rambut hitam panjangnya tergerai sempurna, dan gaun merah sederhana yang dia kenakan membuatnya terlihat menonjol di bawah lampu neon klub.

Davian memicingkan mata, mencoba memastikan bahwa wanita yang berdiri di depannya memang Viona, temannya.

"Viona?" tanyanya dengan suara serak dan berat karena efek alkohol.

Viona mendekat, berdiri tepat di sebelah kursinya. Dia menatap Davian dengan sorot mata yang penuh keprihatinan.

"Iya, ini aku," katanya sambil melipat tangannya di depan dada.

Davian hanya mendengus kecil, memalingkan wajah seolah tidak mau menjawab. Dia mengambil gelas di depannya, meneguk sisa minuman dengan gerakan kasar.

"Ada masalah apa kamu sampai minum sebanyak ini?" Tanya gadis itu.

"Bukan urusan lo," gumamnya lagi, suaranya serak dan dingin.

Viona mengangkat alis, tetapi bukannya mundur, dia malah semakin mendekat, melipat kakinya dengan santai dan menyandarkan lengan di meja.

"Yaudah, kalau kamu nggak mau cerita, aku nggak maksa. Tapi kamu datang ke sini sendirian, kan?" tanyanya sambil tersenyum kecil, nadanya seolah ingin menggoda.

Davian tetap diam, memilih untuk tidak menjawab. Dia hanya menenggak minumannya lagi, cairan alkohol itu mengalir ke tenggorokannya seperti api, tetapi dia tidak peduli. Tangannya mengangkat gelas untuk memanggil bartender, meminta isi ulang.

Viona melambaikan tangan ke bartender, memesan minuman yang sama seperti Davian. "Sama seperti dia," katanya sambil menunjuk gelas di depan Davian. Bartender hanya mengangguk sebelum segera menuangkan minuman.

Tidak lama kemudian, segelas minuman beralkohol disajikan di hadapan Viona. Dia mengangkat gelas itu dengan senyum kecil di bibirnya, menoleh ke arah Davian.

NAYRA [ ON GOING ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang