• CHAPTER 18

1.6K 87 6
                                        

CHAPTER 18
「 ✦ Guilty Feeling  ✦ 」

──── ୨୧ ────

-

Davian menghentikan mobilnya dengan cepat begitu melihat sosok Nayra masih di tempat yang sama, duduk di tepi jalan dengan wajah yang terlihat pasrah. Lampu depan mobilnya menyinari tubuh kecil Nayra yang tampak melamun sambil mengelus perutnya perlahan.

Davian keluar dari mobil, napasnya terdengar berat. Ia berjalan mendekati Nayra, lalu berhenti beberapa langkah di depannya.

"Nay," panggilnya dengan suara yang tidak lagi terdengar marah, namun lebih pelan dan bergetar.

Nayra menoleh perlahan, matanya masih basah oleh air mata. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Davian dengan ekspresi campuran antara kecewa dan lelah.

Davian mengusap wajahnya sendiri, mencoba meredakan perasaan bersalah yang semakin membesar di hatinya.

"Gue... Gue nggak harusnya ninggalin lo di sini. Gue... Minta maaf," katanya sambil menunduk, suaranya berat.

Davian lalu mengambil jaketnya di mobil, kemudian memakaikannya di pundak Nayra dengan gerakan yang lembut namun canggung.

"Pake ini, biar gak dingin," katanya pelan tanpa menatap langsung wajah Nayra.

Nayra hanya diam, tapi air matanya kembali mengalir melihat perubahan sikap Davian yang tiba-tiba. Ia menunduk, menatap perutnya sejenak sebelum mengangkat wajah untuk menatap Davian dengan mata yang penuh pertanyaan.

"Aku punya salah apa sama kamu, Dav?" tanyanya dengan suara bergetar.

Davian terdiam, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia memejamkan mata, berusaha menemukan kata-kata yang tepat.

"Lo nggak salah apa-apa, Nay," jawabnya akhirnya, suaranya terdengar serak.

"Gue yang salah."

"Sekarang ayo kita pulang. Ini udah malem, nggak baik buat lo sama anak lo," ucap Davian dengan nada yang lebih tenang, meski ada kegetiran yang tersisa dalam suaranya.

Nayra tetap diam, hanya sesekali mengusap air matanya yang masih mengalir. Davian mengamati Nayra yang tampak begitu rapuh, membuat rasa bersalah di hatinya semakin besar.

Davian menghela napas panjang, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mendekat dan dengan hati-hati mengangkat tubuh Nayra ke pelukannya.

"Kalo lo nggak mau berdiri biar gue yang gendong," katanya tegas, meski matanya menyiratkan rasa khawatir.

Nayra membelalak kaget, tubuhnya menegang di dalam pelukan Davian. "Dav, a-aku bisa jalan sendiri..." protesnya pelan, tapi Davian tetap melangkah menuju mobil tanpa menghiraukannya.

"Lo diem," jawab Davian singkat, nadanya penuh ketegasan.

Sampai di mobil, Davian dengan lembut menempatkan Nayra di kursi penumpang, memastikan sabuk pengamannya terpasang dengan baik. Ia lalu berkeliling masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan stabil.

Sesampainya di rumah, Davian mematikan mesin mobil dan segera turun. Ia bergegas membuka pintu untuk Nayra, tetapi saat hendak menggendongnya, Nayra langsung mendorong dada Davian dengan lembut namun tegas.

"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri," ucap Nayra, suaranya dingin dan tanpa emosi.

Davian terdiam, menatap Nayra yang dengan cepat melewati dirinya dan berjalan menuju pintu masuk. Perasaan bersalahnya semakin berat ketika melihat bahu Nayra yang tampak sedikit bergetar.

NAYRA [ ON GOING ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang