-CHAPTER 10-
(DEMAM)
-
Di kamar, Davian duduk di depan cermin sambil menatap sudut bibirnya yang memar dan berdarah. Dengan gerakan kasar, ia mengambil kapas dan antiseptik dari laci meja.
"Perih banget sialan..." gerutunya sambil menyeka luka di bibirnya. Ia meringis ketika antiseptik menyentuh kulitnya, rasa perih membuatnya semakin kesal.
Ia sempat melirik pintu kamar, terlintas di pikirannya untuk memanggil Nayra. Tapi egonya langsung menepis keinginan itu.
"Nggak. Gue nggak butuh dia, gue bisa sendiri." gumamnya sambil terus mencoba mengobati lukanya sendiri.
Sesekali, Davian mengumpat pelan, baik karena rasa sakit di bibirnya maupun karena kekesalan yang menumpuk dalam dirinya. Setelah selesai, ia membanting kapas bekas ke tempat sampah, lalu bersandar di kursi dengan tatapan kosong ke arah cermin.
Setelah selesai mengobati luka di bibirnya, Davian mengambil ponselnya dan segera menelepon Syera. Ia menunggu beberapa detik sebelum suara di ujung sana menjawab.
"Halo, Dav?" suara Syera terdengar pelan.
"Sye... maaf ya buat yang tadi..." ucap Davian dengan nada lembut, jauh dari biasanya.
"Papa nggak seharusnya marah-marah ke kamu. Aku nggak bisa ngapa-ngapain tadi."
Syera terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku ngerti kok, Dav. Papa kamu cuma khawatir. Aku juga tadi salah karena ikut bolos."
"Bolos nggak salah, kok, kalau sama aku." Davian mencoba bercanda, meskipun nada suaranya masih terdengar menyesal.
"Aku cuma nggak suka kamu kena omel gara-gara aku."
Syera tersenyum kecil di seberang telepon. "Aku nggak apa-apa, kok. Yang penting kamu baik-baik aja."
Davian menghela napas. "Aku janji nggak bakal biarin Papa bentak kamu lagi."
Percakapan mereka berakhir dengan saling memberikan dukungan, meskipun rasa bersalah dan tekanan yang Davian rasakan masih menghantuinya. Setelah menutup telepon, Davian duduk diam di tempat tidur, tatapannya kosong. Ia memegang luka di bibirnya, merasa marah pada semua yang terjadi, tapi juga tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.
Setelah menutup telepon dengan Syera, ponsel Davian berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Dengan malas, ia membuka pesan tersebut dan membaca isinya.
Papa
Besok kamu sudah Papa izinkan untuk tidak masuk sekolah. Kamu ke kantor Papa besok. Daripada bolos, mending kamu mulai belajar buat kerja di sini.
Davian langsung mendengus kesal. "Ck, sialan!" gumamnya sambil melempar ponselnya ke tempat tidur.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mengumpat pelan. "Bangsat, hidup gue jadi berantakan sejak cewe itu dateng!"
Davian merebahkan tubuhnya di tempat tidur, memandangi langit-langit kamar dengan rasa frustrasi. Segala hal yang terjadi belakangan ini terasa menumpuk, dari masalah dengan Nayra, tekanan dari Syera, hingga tuntutan ayahnya. Ia merasa seperti kehilangan kendali atas hidupnya.
♡♡♡
Di kamarnya, Nayra merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil ditemani Shiro, yang tampak nyaman tertidur di sampingnya. Dengan satu tangan, ia membelai lembut bulu kucing itu, sementara tangan lainnya memegang piring kecil berisi potongan buah.
Ia mengambil satu potong apel, mengunyah pelan, lalu menatap layar ponselnya. Rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya. Ia mengetik di kolom pencarian:
'Kenapa perut sakit saat hamil?'
'Apakah bahaya jika perut sakit saat hamil?'
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, I Choose You [ ON GOING ]
Roman pour AdolescentsSebuah insiden mengharuskan kedua pasangan siswa dan siswi yang masih duduk di bangku SMA untuk menikah. Nayra masih tidak menyangka jika kejadian hari itu langsung membuat kehidupannya berubah 180 derajat. Davian laki-laki asu yang membuat Nayra m...
![Still, I Choose You [ ON GOING ]](https://img.wattpad.com/cover/368981105-64-k652748.jpg)