♛𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆♛
Rami, Rora dan ruka sedang berada di parkiran rumah sakit, katanya mereka ingin jalan jalan dan sekarang mereka sedang menatap bintang bintang yang bersinar di malam hari.
"Kak, bintang nya cantik ya," Rami menghitung bintang yang gadis itu lihat. "Liat tuh! Bintang nya ada empat, satu eomma, satu appa, satu canny dan...."
"Satu nya siapa kak?" Tanya Rora.
"Satu nya aku!"
Ruka yang mendengar itu menoyor kening sang adik "aww, sakit kak!" Ringis nya.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu, omongan adalah doa loh."
"Apa sih! Orang rami bilang kalau di samping nya itu bintang rami!"
"Kamu do'ain kamu ngikut sama eomma gitu?!"
"Iya! Kenapa?!"
Ruka mengejar rami menggunakan kursi roda nya, sementara Rora hanya tertawa kencang melihat kedua kakak nya itu.
Hingga ia melihat ruka datang dengan wajah yang sangat panik.
"Kenapa kak?"
"Rami-dia," Ruka mengatur nafas nya karena ia terlalu capek untuk pergi ke sini.
"Iya kak rami kenapa? Di mana kak rami?!"
"Rami di culik"
Ucapan ruka sukses membuat dada Rora berdetak 2x lebih cepat.
"Enggak! Kakak lagi bohong kan?"
"Kakak enggak bohong ra, tadi di culik sama seseorang."
"Seseorang siapa?!"
"Enggak tau, dia pake baju serba hitam sama masker hitam."
Rora mendorong kursi roda ruka menuju asa dan pharita yang berada di depan ruang inap chiquita.
"Kak asa! Kak rita!"
Asa melihat Rora berjalan ke arah mereka dengan wajah cemas. "Kamu kenapa kayak gitu ra? Rami kemana?"
"Rami? Emang rami enggak sama kalian?" Tanya pharita yang mendengar ucapan asa barusan. "Rami di culik sa, terus penculik itu ngirim surat ini dan jatuh ke tanah."
Asa membaca tulisan itu, mungkin itu adalah tempat dimana rami di culik.
"Kita cari rami dulu, nanti aku minta dokter manoban jagain chiquita."
Saat ruka ingin berbicara, kursi roda itu sudah bergerak dengan asa yang menuntun nya. Dan Rora menuntun pharita untuk berjalan.
****
"Dimana aku?!"
Sedari tadi, rami terus bertanya dengan tangan dan kaki yang di ikat, serta mata yang tertutup oleh kain.
"Berisik! Kamu juga bakal tahu."
Lalu, ia mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arah nya.
"Kerja bagus jae."
"Mana upah nya?!"
Lalu orang itu memberikan amplop berwarna coklat kepada laki laki itu.
"Makasih ya bang, gua balik dulu."
Lalu seseorang itu pergi keluar dan menyisakan rami yang berteriak minta tolong serta laki laki itu.
"Rami-a, kenapa kamu mudah sekali terpancing?"
KAMU SEDANG MEMBACA
7 Brave Girls S2
Short Story[ON GOING] Mengikhlaskan juga bagian dari kehidupan, lantas mengikhlaskan seseorang yang kita sayangi adalah bagian yang paling menyakitkan. Tentang tujuh gadis keluarga choi yang harus kehilangan bunga matahari mereka, canny dan rami, gadis itu pe...
