37

2 1 0
                                        

Satu bulan kemudian....

Jam 14.29, Baiti pulang dari kantornya. Setelah selesai meeting dia memilih untuk pulang. Meski dia harus menandatangani dokumen-dokumen pekerjaan nya, tapi kesehatan dan keamanan sang bayi lebih utama.

Apalagi ini adalah bulan pertama si bayi dalam perutnya yang membuat nya ekstra hati-hati.

Memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam pesantren. Pernikahan mereka masih belum di ketahui oleh masyarakat pesantren. Gus Alvian sudah mengusulkan untuk menggelar pesta pernikahan karena pernikahan mereka hanya dilakukan biasa saja tanpa adanya Baiti. Tentu Baiti menolak karena itu sangat lah menyusahkan. Yang penting ijab kabul nya sudah di ucapkan secara agama dan hukum.

Menghela nafasnya sejenak sebelum membuka pintu. Pintu terbuka dan tas kerja nya jatuh kelantai.

"Nak..." Suara itu...suara yang tidak di inginkan Baiti saat ini juga.

Apa ini? Bagaimana bisa bunda ingkar janji? Apakah dia lupa?

Rahang nya mengeras. Tangan nya terkepal erat. Sebuah kilatan merah terlihat di mata nya.

Hani berdiri dan berjalan ke arah Baiti.

"Lo kok tega sih kak bohong sama kami. Kenapa lo gak jujur dari awal kalau bunda nikah lagi?" Tanya Hani dengan marah.

"Iya, kenapa kakak bohong? Kenapa kakak bilang kalau bunda ada urusan bisnis di luar kota? Kenapa kak?" Tanya Fatimah, masih terlihat jelas air mata Fatimah keluar lagi.

"Lo kenapa diam aja? JAWAB!" bentak Hani.

"Hani...jangan bentak kakak kamu" ucap bunda Aira

Baiti bukannya menjawab pertanyaan adiknya malah berjalan dan berhenti di hadapan sang bunda.

"Kenapa? Kenapa bunda ingkar janji? Kenapa harus sekarang?" Tanya Baiti lirih

"Bunda...bunda rindu mereka Bai.." bunda Aira berdiri dan menggenggam tangan Baiti.

Baiti melepas genggaman itu. "Rindu?"

"Setelah meninggalkan mereka, tidak ada kabar apapun dan sekarang bunda bilang rindu?"

"Nak..."

"Lo kenapa bohong ha?! Gue tanya dari tadi gak lo jawab, maksud lo apa?" Bentak Hani sambil mendorong tubuh Baiti.

"Kamu mau tahu kenapa? Karena kalian belum dewasa!"

"Lihat! Kalian belum ngerti tentang ini, kalian belum bisa berpikir jernih. Kalian emosi kan saat tahu bunda nikah lagi? Kalian gak tahu kalau itu kebahagiaan bunda, kalian hanya berpikir kalau bunda jahat. Kalian gak pernah berpikir bunda juga butuh kebebasan, butuh kebahagiaan yang selama ini gak dia dapatkan"

Gus Alvian mendekat dan mengelus punggung Baiti agar tenang.

"Bukan salahku untuk membohongi kalian. Aku hanya tidak ingin pertengkaran saat ini... yang membuat semuanya makin runyam"

"Tapi gak gini juga caranya kak.."ucap Fatimah

"Mau gimana lagi caranya ha? Gimana?!"

Al Dan Bai Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang