Bab 23 (kilas balik)

381 54 11
                                        

happy reading!

Sasuke berniat melanjutkan ceritanya, namun netranya melirik ke samping ke arah putrinya, Aiko sudah terlelap.

Napasnya teratur, wajah anak kecil yang tidak tahu apa-apa terlihat damai, dengan sisa-sisa rasa penasaran yang kini tergantikan oleh mimpi yang Sasuke harap adalah mimpi indah untuknya.

Sasuke terdiam sejenak, menatap putrinya lebih lama sebelum ia memutuskan untuk bangkit dari duduk bersandarnya disisi Aiko.

Perlahan, ia meraih selimut yang menutupi setengah tubuh putrinya dan menariknya hingga menutupi perbatasan leher Aiko dengan rapi. Tangannya kemudian bergerak otomatis untuk mengusap puncak kepala Aiko dengan lembut, nyaris tak terasa. "Tidurlah," gumamnya pelan.

Sasuke bangkit perlahan mencoba untuk tidak membuat suara apapun, berhati-hati agar tidak membangunkan Aiko. Langkahnya ringan saat menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat berhenti sejenak, menoleh kembali ke arah ranjang tempat putrinya terlelap.

Tatapannya melembut. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, Sasuke membuka pintu perlahan dan keluar dari kamar putrinya dan menutupnya dengan hati-hati di belakangnya.

Sasuke menghela napas berat, setelah pintu kamar putrinya tertutup, ia berdiri terdiam di koridor yang remang. Cahaya lampu yang redup memantulkan bayangannya di dinding depannya, sendirian, panjang, dan sunyi.

Untuk beberapa saat, Sasuke tidak bergerak.
Pikirannya kembali mengembara, bukan pada medan perang, bukan pada misi, tetapi pada kenangan yang baru saja ia ceritakan pada putrinya sendiri.

Sasuke akhirnya melangkah menuju kamarnya sendiri. Setiap langkahnya terasa pelan, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk benar-benar kembali ke kamarnya sendiri. Saat pintu akhirnya terbuka, keheningan langsung menyambutnya.

Kamarnya rapi, tidak ada sesuatu yang berubah, tidak berantakan tapi terasa kosong. Bukan karena tak ada siapa pun di dalamnya, tapi karena ada sesuatu yang juga kosong dalam dirinya sendiri.

Sasuke tidak mengerti sejak kapan ia membenci keheningan dan kesendirian, padahal hampir separuh kehidupannya dihabiskan dengan itu semua.

Sasuke berdiri di ambang pintu sejenak, menatap ruangan itu dengan tatapan datar. Lalu ia masuk dan menutup pintu perlahan di belakangnya. Langkahnya membawanya ke sisi ranjang. Ia mendudukkan dirinya disana.

Dengan gerakan perlahan, tangannya meraih laci kecil di samping ranjang. Ia membukanya perlahan, seolah sudah tahu apa yang ada di dalamnya atau mungkin, ia berharap tidak menemukannya lagi.

Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak beludru berwarna navy yang terlihat mulai usang. Sasuke menatapnya lama, berpikir sebelum jari-jemarinya bergerak untuk meraih kotak itu.

Mengambil kotak itu dengan hati-hati, seolah benda itu terlalu rapuh jika ia mengambilnya dengan gerakan kasar atau mungkin kenangan pada benda itu yang membuatnya sulit untuk kembali menyentuhnya.

Sasuke membuka tutup kotak itu perlahan. Di dalamnya, tersimpan sebuah benda kecil sederhana, namun menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar bentuknya.

Sebuah kalung berlian berwarna perak itu berkilau lembut, memantulkan cahaya bulan yang menyelinap masuk melalui celah jendela kamarnya.

Sasuke mengambilnya perlahan dari dalam kotak, jemarinya berhenti sejenak saat rantai dingin itu menyentuh kulitnya yang kasar akibat latihan selama bertahun-tahun.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Beautiful MistakeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang