Bab 22 (kilas balik)

289 49 3
                                        

Hinata terbangun dari tidurnya, tidak sadar sudah berapa lama ia tertidur setelah menaiki kapal untuk menempuh perjalanan ke negeri hujan.

Ia menoleh kesekeliling cabin yang ditempatinya, namun tidak menemukan laki-laki bersurai raven yang telah bersamanya hampir dua minggu itu.

"Sasuke-kun?" seru Hinata berharap laki-laki itu tiba-tiba muncul atau menunjukkan dirinya.

Hinata bangkit dari duduknya, ia melangkah perlahan keluar dari cabinnya. Ketika membuka pintu cabin, dirinya disambut oleh dinginnya angin laut di malam hari yang menerpa wajahnya.

Seraya memeluk dirinya sendiri Hinata berjalan melewati beberapa pintu cabin lainnya, ia bertanya-tanya dimana sebenarnya Sasuke.

Cukup lama ia berjalan menjauhi cabinnya, pandangan Hinata tertuju pada postur tubuh laki-laki dengan jubah hitamnya yang khas dan surai ravennya yang kini terlihat lebih gelap dibawah cahaya bulan.

Laki-laki itu tampak berdiri tenang di tepi dek kapal, meskipun kini kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing di tengah lautan samudra. Satu tangannya yang tersisa bertumpu di pagar besi tepi dek kapal.

Hinata masih berdiri diam, cukup jauh hingga Sasuke mungkin tidak menyadari kehadirannya dibelakangnya. Dengan langkah pelan Hinata berjalan menghampiri Sasuke yang terlihat tak terusik.

"Sudah bangun, Hyuga?" seru Sasuke sebelum Hinata berdiri tepat di sampingnya.

Hinata mengabaikan pertanyaannya lebih memilih untuk mengajukan pertanyaan, "Apa yang kau lakukan disini, Sasuke-kun?"

•••

Malam itu, ia kembali terbangun lagi dari tidurnya. Mimpi yang sama yang selalu menghantuinya ketika ia menutup matanya.

Sungguh, sebenarnya Sasuke tidak mencoba untuk tertidur, ia berniat untuk tetap terjaga. Namun karena melihat gadis Hyuga itu yang terlelap dengan nyaman rasa kantuk tiba-tiba-tiba saja menghampirinya.

Dengan napas yang masih memburu dan keringat dingin di pelipisnya, Sasuke bangkit dari duduknya dan meninggalkan cabin itu, meninggalkan Hinata yang terlelap seorang diri.

Sialan. Mimpi sialan!

Potongan-potongan ingatan yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya, bayangan masa lalu, Naruto, Kakak laki-lakinya, klannya. Selalu sama. Selalu berulang.

Sasuke menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak stabil.

Begitu keluar, udara malam langsung menyambutnya. Hawa dingin merasuk melalui tulang-tulangnya. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang tajam.

Langit gelap membentang luas, dihiasi bintang-bintang yang samar tertutup awan tipis.
Sasuke berjalan tanpa tujuan pasti hingga akhirnya berhenti di tepi dek kapal. Tangannya bertumpu ringan pada pagar besi tersebut, matanya menatap hamparan laut yang tak berujung.

Sasuke memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Tatapannya tajam menatap hamparan laut yang terbentang luas.

Ia telah terbiasa seperti ini, terbiasa menghadapi dirinya sendiri.

Sasuke tetap berdiri di sana, membiarkan dinginnya angin laut menembus, seolah itu satu-satunya cara untuk memastikan dirinya masih hidup.

Langkah kaki yang sangat pelan terdengar di belakangnya, nyaris tenggelam oleh suara deburan ombak dan mesin kapal yang tengah berjalan.

Beautiful MistakeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang