20 years later
Untuk pertama kalinya, jantung Jungwon berdetak kencang. Matanya tertuju kepada lelaki cantik yang sedang berjalan mengitari kebun bunga milik Ibunya. Senyumnya secerah matahari yang kini bertengger apik di langit, pipinya merona indah buat bunga bermekaran iri melihatnya.
Apakah ini perasaan yang selalu Ibunya katakan ketika melihat Ayahnya? Perasaan meletup-letup hadirkan kebahagiaan juga kesenangan yang membuncah. Sebabkan bibirnya sunggingkan senyum menawan. Perlahan Jungwon berjalan mendekat. Buat lelaki yang sedari tadi ditatapnya sempat terkejut.
"Jungwon?"
Jungwon anggukkan kepalanya senang, seperti kucing yang diberi makan oleh majikan. Siapa sangka lelaki yang baru pertama kali ditemuinya ini mengetahui namanya.
"Namaku Jaeyun, aku teman Ibumu. Ibumu selalu menceritakan anak semata wayangnya yang menawan dan ternyata benar. Pantas saja Ibumu bangga. Ternyata kau sudah sebesar ini ya."
"Cantik." Jungwon mengucapkannya dengan lantang. Matanya masih memandang dengan lekat lelaki yang namanya Jaeyun, yang ternyata adalah teman Ibunya.
"Ya?" Jaeyun yang mendengarnya hanya terdiam, sedikit tersipu dengan kalimat yang tercetus dari bibir Jungwon.
"Kau cantik."
Pipi Jaeyun merona merah setelah telinganya dengan jelas mendengar pujian yang diucapkan Jungwon. Tidak seharusnya dia tersipu samoai sebegininya mendengar pujian dari seseorang yang jauh lebih muda darinya. Jongseong tidak pernah bercerita mengenai anaknya yang pandai memuji. Jongseong hanya bercerita jika anaknya tampan, pemberani, kuat dan pintar.
"Terima kasih, Jungwon. Aku akan kembali ke tempat Ibumu. Aku tadi hanya izin sebentar untuk melihat taman bunganya."
Belum sempat Jaeyun melangkahkan kakinya, tangannya dicekal oleh Jungwon. Buatnya kembali berbalik arah. Siapa yang menyangka bocah ingusan yang dulunya suka berlari-lari di taman kini mendadak menjadi pria dewasa yang sekarang menyelipkan satu tangkai mawar merah di telinganya. Sedangkan Jungwon, sang pelaku, hanya tersenyum lebar, semakin menunjukkan ketampanannya. Jungwon menunjukkan secara terang-terangan bahwa dirinya memiliki ketertatikan kepada Jaeyun.
"Jungwon, kau tidak perlu sampai sebegininya. Tetapi terima kasih untuk bunga mawar merahnya. Aku akan menyimpannya." Protes Jaeyun sambil melepaskan tangannya dari cekalan Jungwon.
"Cantik. Bunga mawar membuatmu terlihat berkali lipat lebih cantik."
"Sekali lagi, terima kasih untuk bunga mawarnya. Aku akan kembali."
Jaeyun berbalik arah dan segera berlari meninggalkan Jungwon. Pipinya memerah, merasa panas hanya karena ucapan lelaki berumur 25 tahun. Jaeyun tidak pernah membayangkan jika dirinya akan merasakan kupu-kupu yang seolah beterbangan di perutnya. Menyebabkan sensasi menggelitik yang menjalar sampai ke telinga juga pipinya. Ia harus memberitahu Jongseong perihal kelakuan Jungwon kepadanya.
_____________
Jungwon semakin gencar untuk mendekati Jaeyun. Setiap harinya Jungwon akan menemani Jaeyun, dimanapun dan kapanpun. Membuat kedua orang tuanya, Sunghoon dan Jongseong, terheran-heran melihat kelakuan Jungwon. Bahkan Jungwon sampai melupakan agenda berburu ayam hutan bersama Riki.
"Selamat pagi, Cantik. Hari ini aku kembali untuk menemanimu pergi ke kebun teh. Aku dengar jika teh buatanmu sangatlah enak. Aku ingin mencobanya."
Jungwon berjalan di samping Jaeyun. Wajahnya terlihat sumringah, tampakkan senyum merekah di bibirnya.
"Kau tidak berburu? Sudah seminggu lebih kau tidak berburu menangkap ayam hutam kesukaanmu itu. Aku bisa menemanimu berburu."
Perkataan Jaeyun membuat langkah Jungwon terhenti. Sebuah ide menarik mengajak Jaeyun untuk ikut berburu dengannya.
"Kau diperbolehkan Ibuku untuk ikut berburu? Lalu bagaimana dengan kegiatan berkebunmu?"
Jaeyun tersenyum mendengar pertanyaan dari Jungwon yang kini ada di hadapannya. Dahi Jungwon berkerut lucu menuntut jawaban. Dari jarak sedekat ini, Jungwon berkali-kali lipat terlihat lebih tampan, buat Jaeyun merasakan getaran di dadanya.
"Boleh, berkebun hanya kegiatan sampinganku Jungwon. Aku bebas melakukan kegiatan lain asalkan bersamamu."
"Benarkah?" Tanya Jungwon masih dengan raut tidak percaya.
Jaeyun kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya, buat Jungwon ikut tersenyum lebar dan menghadiahinya dengan sebuah pelukan erat. Jadi beginikah rasanya jika benih cinta perlahan tumbuh di keduanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal Love
Storie brevi- hoonjay - m/m relationship - dom!hoon sub!jay - mpreg
