Chapter 16

460 38 0
                                    

Ramai sekali...

Aula utama yang biasanya sepi kini dipadati oleh para undangan pesta perayaan ulang tahun Diamond Corp. Sudah sejak pagi tadi aku harus terus menyapa dan memberi salam kepada semua kolega Diamond Corp. yang hadir. Tidak seperti kak Kei dan Rei yang mampu berbaur dengan para pebisnis, aku sama sekali tidak mengerti dunia bisnis dan aku juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Belum lagi aku harus ekstra sabar menghadapi tatapan mereka yang... seperti itulah.

Tapi setidakya, sekarang malam sudah tiba. Aku bisa beristirahat sejenak karena sekarang giliran para siswa siswi Diamond High School yang memenuhi ruangan ini. Sebenarnya semua siswa akademi Diamond juga diundang, tapi hanya DNS sajalah yang menjadikan acara ini acara rutin yang wajib diikuti oleh seluruh siswa. Mungkin karena TK, SD, dan SMP Diamond masih dianggap belum cukup umur untuk menghadiri pesta seperti ini. Bisa jadi.

Aku melangkahkan kakiku ke taman, meninggalkan aula utama yang sekarang diselimuti alunan musik untuk berdansa. Aku masih sempat melihat beberapa pasangan mulai berdansa mengikuti irama musik. Ada juga beberapa siswi yang mulai mengerubuti para pangeran, berharap untuk dapat berdansa dengan mereka. Aku semakin menjauh dari kebisingan itu, kusandarkan tubuhku di sebuah bangku taman dan mulai menatap bintang-bintang di langit. Tenang sekali disini.

"'Abasa watawallaa...", sebuah suara samar-samar terdengar di telingaku.

Siapa itu?

Aku mengikuti asal suara dan menemukan seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon tak jauh dariku.

"Miyazaki-senpai?", aku memastikan bahwa orang yang kulihat adalah pemilik nama itu.

Dia menoleh, dan melepaskan earphone di telinganya.

"Hai'?"

"Apa yang senpai lakukan disini?"

"Hanya sedikit merojaah hafalan Al-Qur'anku.", dia tersenyum.

"Sou ka.", aku terdiam sejenak. "Ano, senpai, arigatou gozaimasu, karena sudah menolongku waktu itu", aku membungkukkan badanku, sejak kejadian di halaman belakang sekolah, aku belum bertemu dengan Miyazaki-senpai dan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya.

"Soal itu...gomen.", dia bangkit dari duduknya dan membungkukkan badan. Aku kan berterima kasih padanya, kenapa dia malah minta maaf?

"Maaf karena aku tidak cukup kuat untuk menolongmu hari itu.", dia melanjutkan. Ooh, karena itu.

"Iie, daijoubu desu."

Hening. Tidak ada dari kami yang mulai bicara lagi. Canggung sekali rasanya.

"Hmm, sepertinya aku harus kembali ke pesta. Aku khawatir Daiki mencariku. Kau tidak ingin kembali?", akhirnya Miyazaki-senpai memecah keheningan di antara kami.

"Aku akan disini sebentar lagi."

"Baiklah. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam.", dia berlalu dari hadapanku.

"Oia,", dia berhenti sejenak setelah beberapa meter melangkah, "aku akan sangat senang jika kau mau memanggilku Keito. Tapi jika tidak juga..."

"Wakatta, Keito-senpai.", aku memotong kalimatnya dan tersenyum. Tentu saja aku juga senang jika dia mengizinkanku memanggilnya dengan nama depannya.

Aku bisa melihat dengan jelas senyuman mengembang di wajahnya, dia berbalik dan melanjutkan langkahnya ke aula utama.

Aku kembali ke aktivitasku sebelumnya, duduk sembari menatap langit malam. Langit jadi terlihat lebih indah karena tidak banyak cahaya disini. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, hanya ada sedikit lampu yang menerangi taman malam ini.

Aisyah dan 7 PangeranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang