Orderan Yang Tidak Akan Pernah Sampai

185 18 36
                                        

Leo sedang melakukan work from home atau WFH di apartemennya. Cowok tampan itu adalah warga negara Hongkong yang bekerja di sebuah perusahaan asing yang membuka kantor di Jakarta.

Leo masih sibuk didepan laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan. Kesibukan yang tidak berbeda jika seandainya hari ini ia berangkat ke kantor. Tapi diluar sana, situasi sedang tidak bagus. Terjadi demonstrasi besar di kota yang ia tempati ini, sehingga perusahaan meminta para karyawannya untuk bekerja dari rumah atau WFH.

Sebagai warga negara asing, Leo tidak ingin menyalahkan para demonstran yang membuatnya tidak bisa berangkat ke kantor hari ini. Karena tempat ini bukan negaranya. Dan sebagai WNA, Leo tidak ingin tau dan tidak ingin ikut campur terhadap konflik didalam negara yang asing ini.

Menjelang siang, perut Leo mulai lapar. Ia pun memutuskan untuk memesan makanan melalui jasa pesan antar.



Ditempat lain, yaitu di sebuah rumah makan.

Pria tampan bernama Zay mengangkat panggilan di ponselnya.

"Halo! Rumah Makan Zay Seafood! Mau pesan apa?" tanya Zay dengan ramah kepada pelanggan yang menelpon.

Terdengar suara Leo pada panggilan telepon. "Aku pesan kepiting saus tiram, satu."

Zay mencatat pesanan. "Kepiting saus tiram, satu porsi. Alamat pengantaran nya kemana, ya?"

Zay juga mencatat alamat pelanggan yang bernama Leo tersebut, untuk nanti diantarkan menu pesanannya.

"Baik, dengan bapak Leo. Pesanan anda akan segera kami antar. Mohon tunggu. Terima kasih sudah memesan," kata Zay dengan ramah kepada pelanggan yang menelponnya itu.

Kemudian, Zay mematikan panggilan di ponselnya. Lalu, Zay berteriak kearah dapur dimana sang koki sedang sibuk memasak. "Sing! Kepiting saus tiram, satu!"

"Siap!" balas koki yang bernama Sing itu.



Menu pesanan pelanggan yang bernama Leo itu sudah dikemas dengan rapi. Sing keluar dari dapur sambil membawa menu yang sudah dikemas itu dan mendekati Zay.

"Kemana alamat tujuannya?" tanya Sing. Lalu, Zay menunjukkan alamat pelanggan yang bernama Leo itu.

Melihat alamat itu, Sing jadi merasa khawatir. "Kalau menuju ke alamat ini, siapapun yang mengantar harus melewati jalan yang sedang terjadi aksi demonstrasi. Apa kita batalkan saja pesanannya?"

"Jangan!" kata Zay. "Aku tidak ingin mengecewakan pelanggan. Kita tetap harus mengantar pesanannya!"

Sing menghela napas. "Lagipula, hari ini asisten kita yang biasa mengantar pesanan pelanggan, tiba-tiba dia sakit dan tidak bisa berangkat kerja."

"Kalau gitu, biar aku saja yang mengantar!" kata Zay.

Sing masih merasa khawatir. "Jangan! Bahaya! Aku aja deh yang nganter!"

"Kalau kamu nganter, nanti siapa yang masak? Kamu kan koki disini."

"Tapi alamat tujuannya harus melewati jalan yang sedang terjadi demonstrasi! Bahaya!"

"Tenang aja, sih. Aku bakal cari jalan lain yang jauh dari tempat demo. Lagipula kan aku nggak ikut demo. Cuma mau lewat doang. Aku nggak akan kenapa-napa."

Sing menggaruk kepalanya karena merasa gelisah. "Perasaan ku nggak enak."

Zay sudah menyiapkan motornya dan meletakkan menu pesanan yang sudah dikemas itu kedalam box yang dipasang diatas jok motor.

Alibi (Xodiac Short Stories)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang