“Despondency berarti keputusasaan yang mendalam. Kondisi ketika seseorang kehilangan harapan, semangat, dan keyakinan, merasa lelah secara emosional, serta tidak lagi melihat jalan keluar, meskipun masih terus hidup.”
Happy reading
29. Despondency
Malam itu belum berakhir. Karena disisi lain, kondisi Qing pun tak jauh berbeda.
Kebahagiaan karena Dewananda telah kembali, suka-cita yang baru saja dirasakan, sirna begitu saja, setelah pintu rumah terbuka dengan suara keras, menghantam dinding hingga memantul kembali. Bau alkohol menyeruak, menusuk hidung siapa pun yang berada di ruang makan. Tawa kecil yang tidak stabil terdengar, diikuti langkah kaki yang terhuyung.
Vanita kembali.
Sendok di tangan Qing terhenti di udara. Dewananda langsung menegakkan punggungnya, refleks lama yang tak pernah benar-benar hilang. Aditya berdiri lebih dulu, sorot matanya berubah waspada.
“Vanita,” panggil Aditya tegas. “Kau minum?”
Vanita menyandarkan tubuhnya di kusen pintu, rambutnya berantakan, lipstiknya pudar tak beraturan. Matanya menyipit, menatap ketiganya bergantian sebelum tertawa kecil.
“Kalian sedang berkumpul, ya?” Tatapannya berhenti di Dewananda. “Bahagia sekali, sepertinya.”
Dewananda mengepalkan tangan di bawah meja. Rahangnya mengeras, tapi ia masih mencoba mengendalikan diri seperti janjinya sebelum kembali.
Dewananda tahu, kedatangannya tak akan mudah. Sang ibu menjadi pertimbangan berat untuknya. Ia takut masih tak bisa menghadapinya.
“Kamu melanggar kesepakatan,” kata Aditya dingin. “Aku sudah bilang—”
“Kesepakatan?” Vanita memotong, suaranya meninggi. “Lucu sekali. Sejak kapan aku punya suara di rumah ini, Aditya?”
Aditya menghela napas. Ia salah, sangat salah jika berharap Vanita akan berubah atau sekedar menepati janji diantara keduanya. Mungkin memang benar, melepaskan menjadi pilihan terbaik bagi mereka.
“Dewa, bawa adikmu ke kamar!” titah Aditya.
“Tidak,” Vanita menyahut cepat sambil melangkah mendekat. “Biarkan dia di sini. Sudah besar, kan? Atau kamu masih bayi yang suka sembunyi di balik punggung ayahmu?”
Dewananda bergerak cepat, berdiri di depan Qing tanpa menyentuhnya. “Cukup,” katanya penuh nada mengancam. “Jangan libatkan dia.”
Vanita tertawa getir. “Oh, sekarang kamu berani bicara? Setelah tujuh tahun kabur, tiba-tiba jadi pahlawan?”
Kata-kata itu seperti pisau yang memotong lidah Dewananda.
Aditya bergerak cepat hendak menyeret Vanita ke luar, tapi gerakan wanita dua anak itu tak kalah gesit. Ia mengambil sebuah guci di dekatnya, kemudian melemparnya nyaris mengenai Aditya.
Suara Dewananda dan Qing yang memanggil sang ayah menggema. Nyaris saja guci itu membentur kepala ayah mereka.
Aditya memberi instruksi kepada kedua putranya agar tidak mendekat. Ia mencoba kembali mendekati sang istri secara perlahan. “Vanita, kau mabuk. Kita bicarakan besok.”
KAMU SEDANG MEMBACA
CAKSUSRAWA
Fantasy𝙹𝚒𝚔𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚎𝚗𝚊𝚗, 𝚝𝚘𝚕𝚘𝚗𝚐 𝚏𝚘𝚕𝚕𝚘𝚠 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚍𝚒𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚢𝚊! °°° "Apa yang bisa bikin lo pergi dari hidup gue?" "Kematian lo!" "Mungkin terlambat, tapi, i love u." °°° MATA DIBALAS MATA NYAWA DIBALAS NYAWA! _QING CAKSUSRAWA
