32. Flashback

92 15 14
                                        

𝚅𝚘𝚝𝚎 + 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚢𝚊!シ︎

Happy reading

32. Flashback

Lampu ruang dokter itu terlalu terang untuk seseorang yang baru saja bangun dari kegelapan.

Rawa duduk di kursi roda, tubuhnya masih lemah, dan matanya tertutup perban tebal berlapis kain kasa. Ia tidak bisa melihat apa pun, tapi ia bisa mendengar segalanya.

Detak jarum jam di dinding, napas Ayahnya yang berat dan tertahan, langkah Dewananda yang mondar-mandir gelisah, dan suara dokter yang sejak tadi seolah memilih kata dengan sangat hati-hati.

“Qing,” panggil dokter itu akhirnya, suaranya rendah. “Saya ingin menjelaskan kondisi mata kamu, pelan-pelan.”

Rawa mengangguk kecil. Jemarinya mencengkeram sandaran kursi roda. Ia tidak tahu kenapa, tapi nalurinya mengatakan, ini bukan kabar yang ingin ia dengar.

“Benturan yang kamu alami,” lanjut dokter itu, “mengenai pelipis kiri dan kanan. Pecahan kaca tidak hanya melukai jaringan luar, tapi juga menyebabkan trauma berat pada saraf optik.”

“Apa maksudnya, Dok?” suara Aditya terdengar serak.

Dokter menarik napas panjang. “Saraf optik adalah jalur utama yang membawa informasi dari mata ke otak. Dalam kasus Qing, benturannya menyebabkan kerusakan permanen pada saraf tersebut.”

Ruangan tiba-tiba terasa menyempit, udara seperti menjauh dari mereka yang ada di sana.

Rawa menelan ludah. “Permanent… itu artinya…?”

Dokter terdiam sesaat. Lalu berkata jujur, tanpa lapisan penghiburan. “Artinya, penglihatan Qing tidak bisa kembali seperti semula.”

Hening semakin menjadi. Bukan hening karena damai, tapi hening yang mencekik.

Rawa tidak menangis. Ia hanya duduk diam, seolah kata-kata itu tidak langsung sampai ke pikirannya. Namun, tangannya bergetar pelan.

“Tapi—” Dewananda maju satu langkah. “Sekarang teknologi sudah maju, Dok. Operasi, transplantasi, donor mata—”

Dokter mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu sebelum selesai. “Transplantasi mata tidak bekerja seperti transplantasi organ lain,” jelasnya. “Kita bisa mengganti kornea, lensa, bahkan bola mata, tapi saraf optik tidak bisa disambungkan kembali.”

Rawa mengangkat kepalanya sedikit.

“Jadi… meskipun ada mata baru,” ucapnya lirih, “otak saya tetap tidak bisa nerima gambar?”

“Benar,” jawab dokter itu lembut. “Ibaratnya, kameranya bisa diganti. Tapi kabel ke monitornya putus.”

Penjelasan itu sederhana, dan menghancurkan.

Aditya terdengar menarik napas kasar. “Tidak ada kemungkinan sama sekali?”

Dokter menatap mereka satu per satu, lalu menggeleng pelan. “Bukan tidak ada harapan medis sama sekali. Tapi kemungkinan keberhasilan sangat kecil, hampir nol. Dan risikonya sangat besar.”

CAKSUSRAWA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang