27. Abandon

204 24 7
                                        

𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈➪

⚠︎𝚅𝚘𝚝𝚎 + 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚢𝚊!シ︎⚠︎

27. Abandon

Queen terus mondar-mandir di dalam ruang rawatnya. Hari telah berganti, tapi Qing belum juga menemuinya. Apa laki-laki itu tak lagi peduli? Semakin memikirkannya, Queen merasa semakin kesal.

Baiklah, jika Qing tak peduli lagi padanya, maka Queen juga tak akan berharap.

Dengan kesal Queen meninggalkan ruangan. Ia harus menemui Drake, laki-laki itu selalu bisa meredakan emosinya.

Queen berjalan santai di lorong rumah sakit, sampai langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang wajahnya tak asing masuk ke dalam salah satu ruang rawat. Queen berhenti sejenak untuk melihat daftar pasien yang ada di ruangan tersebut.

Tak ada nama yang perempuan itu kenal, tapi ia jelas melihat seseorang masuk. Untuk memastikan, Queen masuk lebih dalam. Ia mendekati ranjang paling pojok yang tirai nya tertutup, setiap langkah yang Queen ambil, jantungnya berdegup kencang.

Ada harapan yang tumbuh, bahwa penantiannya akan segera berakhir, kendati Drake telah menunjukan sesuatu yang membuat harapan Queen menyusut.

Semakin Queen dekat dengan rajang itu, semakin tak menentu perasaannya.

“Sayangnya, Mama. Kalo kamu gak makan, nanti sakitnya gak sembuh.”

Langkah Queen otomatis berhenti. Bukan hanya itu, waktu pun terasa berhenti tiba-tiba. Suara itu, suara yang tak lagi ia dengar selama bertahun-tahun. Suaranya masih terdengar lembut, tapi kali ini bukan ketenangan yang Queen dapatkan, melainkan rasa tersayat yang mengiris.

Air mata pertama jatuh membasahi pipi Queen. Dengan menguatkan hati, ia masuk melewati tirai.

Mungkin, jika saat ini Queen dalam keadaan normal, ia akan pingsan melihat wanita yang selama ini ia cari, kini berada begitu dekat dengannya. Dayana, wanita itu, ibunya, terlihat tak nyata di mata Queen.

Wanita itu duduk di samping rajang, ia berusaha membujuk anak laki-laki yang terbaring lemah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar manis, tapi juga menyayat. Ada rasa perih setiap Queen mendengarnya.

“Sayang, anak ganteng. Dengerin Mama, ya.”

Queen berbalik seketika, air mata tak bisa lagi ia sembunyikan. Sambil meremas dada, ia berjalan pergi.

Tirai bergoyang pelan ketika Queen melewatinya dan Dayana menyadari itu. Ia memandanginya, ada rasa familiar yang mengusik batinnya. Dayana sontak berdiri, lalu berlari keluar seolah mengejar seseorang.

Sesampainya di lorong, ia tak menemukan siapapun. Namun, rasa familiar itu tak hilang juga.

“Tak mungkin dia ada di sini.”

_𝑪𝒂𝒌𝒔𝒖𝒔𝒓𝒂𝒘𝒂_

Setelah dari rumah sakit, Queen duduk sendirian di teras rumah Qing. Ia tak berani masuk untuk menemui laki-laki itu secara langsung, sebab samar-samar ia mendengar suara tawanya yang terdengar bahagia.

Queen tak yakin siapa yang sedang bersamanya, tapi yang pasti, itu adalah suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Sekarang Queen menyadari satu hal, ada atau tidaknya ia diantara mereka, sepertinya tidak ada perbedaan yang berarti. Kehadirannya tak sepenting itu, sampai mereka harus bersedih karenanya.

CAKSUSRAWA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang