33. Gadis itu

87 14 5
                                        

𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈➪

⚠︎𝚅𝚘𝚝𝚎 + 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚢𝚊!シ︎⚠︎

33. Gadis itu

Lampu kamar itu diredupkan hampir sepenuhnya, hanya menyisakan cahaya tipis dari celah tirai yang tak tertutup sempurna. Sebuah garis cahaya tercipta dari lampu di balkon, membelah lantai dan ujung ranjang, seperti ingatan yang selalu menemukan cara untuk menyelinap meski pintu sudah ditutup rapat.

Seorang gadis terbaring di atas ranjang, memunggungi pintu. Selimut tipis menutup tubuhnya hingga bahu, rambutnya tergerai acak di bantal. Napasnya diatur pelan dan dibuat-buat. Ia tidak tidur, hanya berpura-pura.

Matanya terpejam, tapi pendengarannya waspada.

Dari ruang tengah apartemen, suara langkah kaki terdengar mendekat. Gadis itu tak perlu menebak siapa yang datang, ia sudah hafal hanya dari langkah tergesa nya.

Pintu kamar tidak diketuk. Hanya dibuka sedikit, lalu suara itu masuk bersamaan dengan tubuh pemiliknya.

“Lo tidur?”

Gadis itu memilih tak menjawab.

Pemuda itu mendengus kecil, lalu masuk sepenuhnya. Ia berdiri di dekat pintu, menyilangkan tangan di dada, menatap sosok yang pura-pura terlelap di ranjang.

“Jangan pura-pura, gue tahu lo belum tidur,” katanya santai.

Gadis itu tetap diam. Ia menahan diri untuk tidak menghela napas terlalu dalam. Ia sudah terlalu sering kalah dalam permainan kecil seperti ini.

Pemuda itu melangkah lebih dekat. Ada bunyi kain jaket yang bergesek, lalu suara kursi ditarik. Ia duduk, sepertinya di kursi kecil dekat meja rias.

“Gue tadi lewat minimarket bawah,” lanjutnya, tak peduli pada keheningan. “Ada yang jual corndog baru. Katanya enak. Gue belum coba, sih. Tapi kayaknya lumayan buat malam-malam gini.”

Hening.

“Terus di seberang jalan ada kedai kopi baru buka. Baristanya jutek, tapi menarik, nggak sih?”

Tetap tak ada reaksi.

Pemuda itu terkekeh sendiri. “Oke, gue tau ini strategi lo. Pura-pura tidur biar gue capek ngomel sendiri. Tapi lo salah, gue bisa ngomel satu jam tanpa jeda.”

Ia bersandar ke sandaran kursi. Suaranya semakin santai, seolah sedang berbicara dengan seseorang yang benar-benar mendengarkan.

“Lo seharian cuma di kamar. Kalo bukan gue yang nyeret lo keluar, lo bakal ngurung diri lagi. Terus besok bilang capek tanpa alasan.”

Gadis itu menggigit bagian dalam bibirnya. Ia bisa saja mengusirnya secara langsung, hanya saja ia terlalu malas. Seharian ini, ia sangat kelelahan.

“Bangun, yuk,” ucap pemuda itu lebih pelan. “Kita nggak jauh-jauh, kok. Cuma muter bentar. Angin malam. Biar kepala lo nggak isinya itu-itu lagi.”

Pemuda itu berdiri, lalu dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke tepian ranjang membuat kasur sedikit bergoyang.

“Eh,” gumamnya. “Kasur lo keras banget. Pantesan lo sering pegel.”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CAKSUSRAWA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang