𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈➪
⚠︎𝚅𝚘𝚝𝚎 + 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚢𝚊!シ︎⚠︎
30. Blind Turn Workshop
Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam yang mematahkan cahaya dalam hidup Qing Caksusrawa.
Pagi di bengkel itu selalu dimulai dengan suara. Denting logam yang saling bersentuhan, dengung mesin yang dipanaskan perlahan, dan bau oli yang kental mengendap di udara.
Rawa berdiri di tengah bengkel.
Tongkat putihnya bersandar rapi di meja kerja, tak jauh dari satu set kunci pas yang tersusun berdasarkan ukuran. Tangannya bergerak pelan, menyentuh permukaan meja, mengenali setiap goresan, setiap sudut, setiap perubahan kecil yang mungkin tak akan disadari orang lain.
Blind Turn Workshop.
Nama itu terukir di dinding depan. Huruf besi yang dipasang oleh tangan orang lain, tapi maknanya dibangun oleh Rawa sendiri. Ia tak perlu melihatnya untuk tahu persis letaknya. Dua langkah dari pintu, sedikit ke kiri, sejajar dengan rak helm.
“Boss, motor Supra yang kemarin udah kelar.”
Suara itu milik Daiva, teman yang pertama kali percaya pada Rawa ketika dunia masih meragukannya. Rawa mengangguk kecil, kepalanya sedikit menoleh ke arah suara.
“Cek lagi baut belakangnya,” ucap Rawa tenang. “Yang kanan tadi bunyinya beda.”
Daiva terdiam sejenak, lalu terdengar suara kunci pas diputar kembali. “Lo denger dari mana?”
Rawa tersenyum tipis. “Dari cara dia napas.”
Daiva mendengus, setengah tak percaya, setengah kagum.
Bagi orang lain, Rawa adalah pemilik bengkel tunanetra. Bagi mereka yang bekerja di sini, Rawa adalah pusat. Pria itu tahu sepeda motor mana yang baru masuk hanya dari bunyi mesin saat didorong.
“Bang Rawa.”
Suara lain menyusul, kali ini lebih muda. Langkahnya ragu, berhenti beberapa meter dari Rawa. Seorang pelanggan yang sudah beberapa kali datang memperbaiki sepeda motornya.
“Iya,” jawab Rawa tanpa menoleh. “Motornya mati total atau masih hidup?”
Pemuda itu sedikit terkejut. “Masih hidup, Bang. Tapi sering mati mendadak.”
“Karburatornya kotor, lo juga sering telat ganti oli.”
Pemuda itu tercekat. “Bang, lo liat dari mana?”
Rawa menghela napas kecil. “Dari cara lo matiin mesin barusan. Bunyi gesekannya berat.”
Blind Turn Workshop bukan bengkel besar. Tak ada lantai mengkilap atau lampu LED mahal. Namun, tempat itu hidup oleh kepercayaan. Oleh tangan-tangan yang pernah jatuh, lalu bangkit lagi.
Rawa berjalan menuju bangku kayu panjang di sudut. Langkahnya mantap, menghitung jarak tanpa perlu dihitung. Rawa tahu, sebab kepalanya menyimpan tata letak bangunan tersebut.
“Duduk, cerita pelan-pelan.”
Rawa duduk, lalu menarik napas dalam. Terkadang, dalam jeda-jeda seperti ini, ingatan lama mencoba menyelinap. Ia mungkin telah melangkah maju, tapi bukan berarti tak diikuti bayangan masa lalu.
Mulut yang tak lagi membicarakannya, bukan berarti hati dan kepalanya lupa. Kenangan pahit dan manis masa remajanya akan mengikuti selamanya. Namun, Rawa telah belajar satu hal dalam sepuluh tahun terakhir, kenangan hanya berkuasa jika ia diizinkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CAKSUSRAWA
Fantasia𝙹𝚒𝚔𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚎𝚗𝚊𝚗, 𝚝𝚘𝚕𝚘𝚗𝚐 𝚏𝚘𝚕𝚕𝚘𝚠 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚍𝚒𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚢𝚊! °°° "Apa yang bisa bikin lo pergi dari hidup gue?" "Kematian lo!" "Mungkin terlambat, tapi, i love u." °°° MATA DIBALAS MATA NYAWA DIBALAS NYAWA! _QING CAKSUSRAWA
