𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈➪
⚠︎𝚅𝚘𝚝𝚎 + 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚢𝚊!シ︎⚠︎
31. Dejavu
Blind Turn Workshop.
Tulisan itu terpampang sederhana di papan kayu tua di depan bangunan. Catnya mulai pudar, tapi namanya sudah cukup dikenal di kalangan pengendara. Bengkel kecil di sudut kota itu berdiri bukan karena kesempurnaan, melainkan karena keteguhan.
Rawa berdiri di tengah bengkel seperti rutinitasnya setiap hari, mengenakan kaus hitam berlengan panjang yang sudah ternodai oli. Matanya tertutup kain hitam tipis, ini caranya untuk mempertajam pendengarannya.
Dunia Rawa telah lama gelap, tapi telinganya tajam, tangannya peka, dan ingatannya menyimpan peta yang tak bisa dilihat siapa pun.
“Kunci T dua belas,” ucapnya tenang.
Sebuah tangan segera menyodorkan alat itu ke telapak tangan Rawa.
“Sedikit ke kiri,” katanya lagi, mengarahkan seorang pegawai.
Rawa biasanya hanya memberi arahan, karena ia tak sehebat itu untuk memperbaiki sepeda motor seorang diri. Ia hanya mendiagnosis dari suara. Beruntung, prediksinya nyaris tak pernah salah.
Ia tak perlu melihat. Dari bunyi gesekan baut, dari getaran rangka motor yang disentuhnya, Rawa tahu persis apa yang salah. Ia menunduk, jemarinya bekerja cepat dan presisi. Setiap gerakan seperti sudah terpatri di otot.
Bagi orang luar, itu keajaiban. Baginya, itu bertahan hidup.
Sibuk dengan pekerjaannya, Rawa mendadak berhenti. Ada rasa familiar yang membuatnya dejavu. Lalu, suara ban motor berhenti mendadak, disusul langkah kaki ragu. Ada jeda, kemudian seseorang berdeham pelan, seolah tak yakin harus bicara.
Rawa mengangkat wajahnya sedikit. “Masuk aja.”
Orang itu tak bicara, tapi tak lama, suara standar motor diturunkan.
Rawa menyelesaikan pekerjaannya, lalu melepas kain dari matanya. Tentu bukan karena ia bisa melihat, tapi karena itu menandakan ia siap menghadapi pelanggan.
“Motornya kenapa?” tanyanya.
Hening.
Rawa mengernyit tipis. “Kalau mesin mati mendadak, biasanya—”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar, tapi bukan suara manusia.
“Motor saya sering mati saat putaran rendah.”
Rawa terdiam lama. Bukan karena perkataannya, melainkan karena sumber suaranya. Itu jelas bukan suara manusia yang langsung bicara. Itu suara buatan. Suara dari ponsel.
Rawa mengangkat kepala sedikit, ia menajamkan pendengarannya. Ada desah napas tertahan, nyaris tak terdengar, kemudian ada bunyi gesekan jari di layar kaca.
Orang itu tidak bicara?
“Karburator atau injeksi?” tanya Rawa. Ia sebisa mungkin menghindari pembahasan diluar kepentingannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CAKSUSRAWA
Fantasy𝙹𝚒𝚔𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚎𝚗𝚊𝚗, 𝚝𝚘𝚕𝚘𝚗𝚐 𝚏𝚘𝚕𝚕𝚘𝚠 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚍𝚒𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚢𝚊! °°° "Apa yang bisa bikin lo pergi dari hidup gue?" "Kematian lo!" "Mungkin terlambat, tapi, i love u." °°° MATA DIBALAS MATA NYAWA DIBALAS NYAWA! _QING CAKSUSRAWA
