Langit dalam mimpi itu berwarna abu-abu pucat, seperti kertas lama yang hampir robek. Sunghoon yang baru berusia lima tahun berdiri di tengah peron stasiun yang tak berujung. Angin dingin meniup ujung kaus tidurnya, membuatnya menggigil.
Ia tidak sendirian, tapi ia merasa sangat terasing.
Di depannya, Heeseung berdiri dengan tas ransel besar di bahunya. Wajah kakak tertuanya itu tampak tenang, namun tatapannya kosong-seolah ia sudah berada di dunia yang berbeda.
"Abang Heeseung... kenapa pakai tas besal?" suara Sunghoon mencicit, jemari mungilnya gemetar saat berusaha meraih ujung jempol Heeseung.
Heeseung tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memberikan senyum paling tipis dan paling sedih yang pernah Sunghoon lihat. Di belakang mereka, Papa berdiri diam seperti patung, tangannya bertumpu pada bahu Jay dan Jake. Sementara Niki yang biasanya jahil, hanya berdiri mematung menatap kaki kakaknya. Mereka semua ada di sana, tapi tak ada satu pun yang menahan Heeseung.
"Adek," suara Heeseung terdengar seperti gema. "Jaga Papa dan kakak yang lain, ya? Abang harus pergi sekarang."
"Ikut! Adek mau ikut Kakak!" Sunghoon mulai terisak. Ia memeluk kaki Heeseung dengan tenaga kecilnya, seolah-olah berat badannya bisa menghentikan takdir. "Adek janji nggak akan nakal, Adek nggak akan minta es klim lagi, asal Kakak jangan pelgi..."
Namun, dalam logika mimpi yang kejam, tubuh Heeseung perlahan menjadi transparan. Saat pintu kereta di depan mereka terbuka dengan suara mendesis yang memekakkan telinga, Heeseung melepaskan pelukan Sunghoon dengan paksa.
"Jangan, Abang! Bang Heeseung!"
Sunghoon terjatuh di lantai peron yang dingin saat Heeseung melangkah masuk. Kereta itu mulai bergerak. Pelan, lalu semakin cepat. Sunghoon berlari kecil dengan kaki pendeknya, tangannya menggapai-gapai udara.
"ABAAANG!"
Ia melihat Heeseung di balik jendela kaca yang buram. Heeseung melambaikan tangan, tapi sosoknya perlahan menghilang ditelan kegelapan gerbong. Kereta itu hilang di ujung rel, meninggalkan sunyi yang menusuk tulang. Sunghoon menoleh ke arah Papa dan kakak-kakaknya, tapi mereka semua perlahan memudar menjadi kabut, meninggalkannya sendirian di peron yang gelap gulita.
"ABAANG HEE-SEUUUNG!!!"
Teriakan itu memecah kesunyian malam di kediaman mereka. Sunghoon terduduk tegak di kasurnya, napasnya tersengal-sengal seolah ia baru saja berlari maraton. Air mata mengalir deras, membasahi bantal dan piyama bergambar penguin miliknya.
Dadanya terasa sesak, sakit yang luar biasa-rasa kehilangan yang terlalu berat untuk ukuran bocah lima tahun.
Brak!
Pintu kamar terbuka kasar. Heeseung adalah yang pertama sampai, masih dengan napas terengah karena berlari dari kamarnya.
"Adek? Sayang, Abang di sini! Abang di sini!" Heeseung langsung menghambur ke atas kasur, merengkuh tubuh mungil yang bergetar hebat itu ke dalam dekapannya. Sunghoon menjerit histeris, tangan kecilnya meremas kaus Heeseung begitu kuat sampai kukunya memutih.
"Jangan pelgi... hiks... keletanya jalan... Abang hilang..." racau Sunghoon di sela tangisnya yang sesak.
"Ssssh, itu cuma mimpi, Dek. Abang nggak akan ke mana-mana. Lihat Abang," Heeseung menjauhkan sedikit tubuh Sunghoon untuk menatap matanya, mengusap air mata yang tak kunjung berhenti dengan ibu jarinya. "Abang janji, Abang akan selalu di sini sampai Adek besar, sampai Adek jadi kakek-kakek pun Abang tetap di sini." (boong 😭😭)
Papa masuk ke kamar dengan wajah pucat karena khawatir, diikuti Jay, Jake, dan Niki yang masih tampak linglung tapi penuh kecemasan.
"Ada Papa di sini, Dedek," Papa duduk di sisi kasur yang lain, mengelus punggung Sunghoon yang masih naik-turun karena sisa tangis.
"Adek takut?" tanya Jake lembut, ikut memegang tangan Sunghoon. "Kita semua di sini. Nggak ada yang pergi ke stasiun, nggak ada kereta. Kita semua di rumah."
Jay membawakan segelas air hangat, "Minum dulu sedikit, biar dadanya nggak sakit."
Niki, yang biasanya sulit menunjukkan perasaan, merangkak naik ke kasur dan memeluk kaki Sunghoon. "Kalau ada kereta yang mau jemput Kak Heeseung, aku yang akan pukul keretanya supaya rusak, jadi nggak bisa jalan."
Mendengar ucapan Niki, Sunghoon sedikit tenang meski masih sesenggukan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Heeseung, mendengarkan detak jantung kakaknya yang teratur-bukti nyata bahwa kakaknya masih bernapas, masih ada, dan tidak meninggalkannya sendirian.
Malam itu, kamar Sunghoon menjadi penuh. Mereka semua memutuskan untuk tidur di sana, menggelar kasur lantai, memastikan bahwa saat Sunghoon terbangun lagi nanti, orang pertama yang ia lihat adalah keluarga yang sangat menyayanginya.
Tebece
Guys, sejujurnya aku kaget banget dapet info kalau Heeseung keluar dari enhypen demi mengejar mimpi karir solonya. Info ini itu mendadak banget ya, bahkan aku sama sekali ga menyangka kalau tahun ini enhypen cuma tinggal 6 orang. Awalnya aku ga percaya, tapi dari segala informasi dari yang lain semakin menguatkan bahwa memang Heeseung nemang sudah memilih jalannya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari sebelumnya. Dia mengejar mimpi yang sempat tertunda, mungkin dengan ini dia akan semakin sukses dan menjadi manusia yang baru dari dirinya yang dulu. Jika memang ini keinginannya kita harus apa? kita hanya bisa mendukungnya.
Taoi garela euy, pasti si Bela ini tuh kalau ga ga mungkin. Gara gara disuruh milih enha apa sololist. Salah satunya itu musik yang Heeseung mau dengan yang bela mau ga sama.
Peluk jauh buat engene 🫂 🫂 🫂
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
10 Maret 2026 Lee Heeseung ex enhypen (10 maret 2026)