Hmm.. Demi kalian dahh, aku update banyak chapter haha.. Ini chapter² udh lama jadi mon maaf kalo tidak nyambung karna aku pun bingung aku nulis ini gmn..
~Happy Reading~
💚💚💚
•
•
•
"Vano, demi Tuhan, lo ngapain sih?!" semprot Friska begitu melihat Vano masuk ke ruang tengah sambil menyeret sebuah koper kosong berukuran raksasa.
"Gue lagi latihan fisik, Fris. Kata internet, kalau stres guncang mental, kita harus memindahkan beban berat biar hormon endorfinnya keluar," jawab Vano lempeng tanpa dosa. Dia mengangkat koper itu ke atas meja marmer, membuat vas bunga Marchel bergetar hebat.
Naza yang lagi fokus menatap layar laptop langsung ngegas, "Hormon endorfin mata you! Itu vas bunga mahal kalau pecah, ginjal lo gak bakal cukup buat ganti rugi, aspal!"
"Heh, mulut lo ya, Naz! Gue ini lagi berusaha mencairkan suasana yang tegang akibat kasus pantai kemarin! Harusnya lo makasih karena gue punya inisiatif se-random ini!" balas Vano gak mau kalah. Dia malah duduk di dalam koper kosong itu, melipat kakinya, dan memandang Naza dengan tatapan menantang.
Raniya yang baru turun dari tangga langsung melempar gulungan tisu dapur tepat ke arah muka Vano. "Vano gila! Keluar gak lo dari koper?! Gak usah bikin gue naik darah subuh-subuh begini ya, Van. Malu-maluin agensi aja lo!"
"Karan! Lihat tuh si Vano, bener-bener makin geser otaknya!" celetuk Tifani yang baru keluar dari kamar mandi, sibuk mengeringkan rambutnya pake handuk kecil. "Mending lo hukum dia bersihin halaman belakang deh, Kak, daripada bikin polusi visual di sini."
Belum sempat Vano membalas, pintu kamar belakang terbuka dengan suara jebretan keras. Neila muncul dengan rambut yang bener-bener berantakan mirip singa habis tawuran, kaos oblongnya melorot ke samping, dan wajahnya bener-bener ditekuk masam karena sisa pusing akibat mimpi buruknya semalam.
"Sumpah ya, lu pada bisa diem gak sih satu jam aja?! Bacot banget anjing, telinga gue rasanya kayak digebukin pake galon!" amuk Neila sambil jalan sempoyongan menuju sofa, langsung ambruk di sebelah Kania.
Kania yang dari tadi malam cuma diam melamun karena pusing melihat simbol aneh di laptop, langsung refleks menoyor kepala Neila. "Muka lu jelek banget, Nei, demi apa pun. Mandi sono gih, udah mau jam berangkat misi lapangan malah tampil mirip gembel ilang arah begini. Bau jigong lo anjing!"
"Heh, lu kaca mana kaca?! Muka lu sendiri udah kek zombie kurang sajen dari semalem, sialan! Gak usah sok-sokan ngatain gue ya, monyet!" balas Neila ngegas lapan oktaf, matanya langsung melek sempurna karena emosi bawaan dari mimpinya langsung tersalurkan dengan baik ke arah Kania.
"Lu berdua kalau mau baku hantam mending di luar aja, sekalian berenang sama lumba-lumba Kanada!" timpal Aisyah sambil melempar bantal sofa bulat yang langsung ditangkap mulus oleh Neila sebelum mengenai wajahnya.
Raniya menghela napas panjang, berkacak pinggang menatap kedua adiknya itu dengan pandangan datar. "Neila, cuci muka sekarang sebelum gue seret pake tali tambang. Kania, lo berhenti pasang muka linglung begitu. Kita gak punya banyak waktu sebelum tim lapangan cabut ke lokasi rumah Profesor."
___
Di dapur, suasana makin kacau karena Era mencoba membuat menu sarapan darurat yang bener-bener di luar nalar manusia normal. Dia mengoleskan bumbu dapur sisa semalam ke atas permukaan roti tawar dengan penuh percaya diri.
"Ra, ini roti kenapa baunya agak menusuk hidung dan mirip bumbu rujak emak gue ya?" tanya Zelo sambil mengendus-endus roti bakar di tangannya dengan tatapan super curiga.
"Itu gue olesin mentega yang udah gue campur sama ulekan bawang putih, ketumbar, dicampur bubuk cabai dikit, Zel. Biar ada rasa kearifan lokalnya gitu, bosen gue makan roti selai manis mulu dari kemarin semenjak mendarat di Kanada," jawab Era santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
RANEL FAM
Mystery / ThrillerHanya sebuah cerita dari sebuah keluarga, Tidak untuk menyinggung orang lain, namun jika ada kesamaan nama, tapi gak mungkin, mohon dimaklumi. BOOK SPESIAL ALIEN JANGAN PLAGIAT, BAHKAN BIKIN CERITA KAYAK GINI!! MURNI CERITA DARI AUTHOR!! JANGAN SIDE...
