17

14 4 6
                                        

Absen dulu sini

~Happy Reading~
💚💚💚



Keheningan rumah mewah Marchel yang sejak subuh tadi terasa mencekam akibat bayangan biner Kenzio dan keberangkatan tim pengintai, mendadak hancur lebur dalam satu hantaman keras.

BRAKKK!

Pintu depan jati setinggi dua meter itu didobrak kasar dari luar. Bukan oleh pasukan mileter bertopeng atau kaki tangan Kenzio yang membawa senjata laras panjang, melainkan oleh delapan manusia yang penampilannya sudah acak-acakan mirip orang habis tawuran di pasar malam.

"HALO EVERYBODY! Princess kembali dari pengungsian, pasti pada kangen ya, fans gembel gue!" teriak Yaya dengan cengiran tanpa dosa yang memenuhi wajahnya. Tanpa aba-aba, dia langsung melemparkan tas ransel militernya yang super berat ke arah tengah ruangan.

Hup! Vano yang kebetulan baru saja keluar dari arah dapur sambil memegang segelas air dingin, langsung bergerak refleks dengan insting lapangannya. Kakinya terangkat ke atas, menahan hantaman tas ransel Yaya dengan ujung sepatunya sebelum tas itu sempat menghancurkan guci keramik mahal milik Marchel.

"Heh, betina stres!" semprot Vano dengan muka lempeng andalannya, meski napasnya agak tersengal menahan bobot tas. "Lu kalau mau latihan tolak peluru jangan di sini, babi! Ini kalau guci Marchel pecah, uang jajan agensi kita dipotong tiga turunan, sialan!"

Helion masuk paling belakang dari arah pintu. Cowok posesif itu melangkah gontai dengan tudung hoodie hitam yang ditarik rendah sampai menutupi sebagian matanya. Mulutnya langsung gacor begitu mencium sisa-sisa aroma aneh dari ruang tengah.

"Vano, minggir lu, monyet! Gue butuh shower sekarang juga sebelum badan gue jamuran gara-gara seminggu disekap di apartemen sempit Toronto!" seru Helion sambil melempar koper kecilnya ke lantai semen ekspos. "Gila ya, Toronto dinginnya gak ngotak, tapi apartemennya sempit banget kek kandang hamster, bangsat!"

Mendengar kata 'hamster', Kania yang sedang duduk di dekat meja komputer langsung tersentak kecil, memori biner subuh tadi kembali berdenyut samar di pelipisnya. Namun, keabsurdan jajaran Toronto yang baru mendarat ini terlalu berisik untuk dibiarkan.

"Yaelah, Hel, baru balik udah nagih shower aja lo kek mandor proyek. Mandi kembang aja sana di selokan depan rumah Marchel biar otak lo segeran dikit, aura gembel lo biar ilang!" balas Vano sambil ngeledek, berjalan mendekat untuk membantu Pinka yang baru masuk sambil membawa tumpukan kabel operasional yang berantakan.

Salsa dan Syua yang ikut dalam rombongan itu langsung ambruk di sofa panjang tanpa melepas jaket tebal mereka. Syua langsung merentangkan badannya telentang, sementara Salsa sibuk mengipas-ngipas wajahnya dengan paspor dengan tampang lelah mental.

"Sumpah ya, Toronto-Vancouver itu bener-bener menguras emosi batin, anying. Lu tahu gak, si Yaya di sepanjang jalan kerjanya cuma nyanyi lagu K-Pop nadanya sumbang semua! Kuping gue rasanya kayak disiram air raksa, aspal!" keluh Fitri dengan suara serak.

"Heh, Fitri anying! Suara gue ini mahal ya! Di Toronto kemarin aja gue dibilang mirip main vocal tahu!" balas Yaya tidak terima, sambil berkacak pinggang di depan Fitri.

"Grup monyet bekatan maksud lu?" celetuk Salsa lempeng tanpa dosa, yang langsung memicu tawa tertahan dari Naza di sudut ruangan.

Dalam sekejap, rumah mewah Marchel berubah total fungsinya menjadi pasar kaget. Safa dan Syua, dua anggota yang mukanya sudah kelaparan tingkat dewa, langsung berlari ke arah dapur tanpa permisi, membuka pintu kulkas dua pintu milik Marchel dengan beringas. Sementara itu, Risa dan Pinka sibuk berdebat kusir di dekat sofa tentang siapa yang bertugas mengambil shift malam untuk membersihkan seluruh log data komunikasi yang mereka bawa dari pelarian Toronto.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 17 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RANEL FAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang