~Happy reading~
💚💚💚
•
•
•
Hawa dingin Vancouver siang itu sama sekali tidak bisa meredam hawa-hawa mistis dan absurd yang mendadak menguar dari kamar pojok lantai dua rumah Marchel. Di dalam kamar yang gordennya sengaja ditutup rapat itu, Trio Bocil Tifani, Era, dan Rika sedang duduk bersila dalam formasi segitiga di atas karpet bulu.
Di tengah-tengah mereka, sebuah boneka beruang mini yang hidungnya sengaja dicat merah ditaruh di dalam mangkuk stainless steel berisi sisa sereal tadi pagi.
"Wahai penunggu salju Kanada... dengan ini kami persembahkan sajen sereal rasa cokelat yang susunya udah basi dua jam," ucap Era dengan nada yang dibuat berat dan bergetar, tangannya bergerak komat-kamit di atas mangkuk.
Rika yang bertugas memegang senter HP dari bawah dagunya biar mukanya kelihatan serem, langsung menyenggol lengan Era. "Ra, lu salah mantra! Harusnya panggil nama agung boneka raksasa kita! Sebut namanya tiga kali!"
Tifani yang dari tadi sibuk coret-coret sandi di buku catatannya langsung mendongak kaget. "Eh, jangan sebut nama Pupung sembarangan! Entar kalau Karan denger terus kita semua dilempar pake pisau gimana?! Lu tahu sendiri kan kamar Karan itu dijagain ketat banget, mau masuk aja musti jebol sandi berlapis-lapis kek bumbu lapis legit!"
"Tenang, Tif. Selama WiFi markas masih lancar jaya, agensi ini berada di bawah kendali sekte kita," balas Era lempeng tanpa dosa.
Pas mereka lagi khusyuk-khusyuknya melanjutkan ritual sesat bertajuk 'Pemanggilan Arwah Penurun Hawa Dingin', pintu kamar mendadak ditendang dari luar sampai ngejeplak keras ke dinding. BRAKK!
"LU PADA NGAPAIN LAGI, BOCIL?! KEBANYAKAN COKELAT LU YA?!"
Raniya berdiri di ambang pintu dengan rambut dicepol asal, memegang sebuah kemoceng berbulu ayam dengan aura Ratu Iblis yang langsung membuat suhu ruangan drop sampai minus sepuluh derajat. Di belakangnya, Chazel berdiri sambil bersedekap dada, menatap kelakuan tiga anggotanya dengan gelengan kepala pasrah.
Trio bocil langsung reflek bubar formasi. Rika buru-buru mematikan senter HP, Era pura-pura batuk kering, sedangkan Tifani dengan kecepatan kilat menyembunyikan buku sandi kunonya di balik pantat.
"Eh... Karan yang cantik jelita kek bidadari turun dari helikopter," sapa Era sambil nyengir kuda, mencoba menyembunyikan mangkuk sereal di belakang punggungnya. "Kita lagi... anu, Kak. Lagi nyobain ngobrol di tempat gelap, biar kalau mati lampu pas misi kita gak kagokan."
"Kagokan mata kalian lima!" semprot Raniya langsung masuk dan mengacungkan kemocengnya ke arah mereka bertiga. "Itu sereal sisa sarapan kenapa lu taruh di mangkuk stainless Marchel, hah?! Terus itu boneka siapa lu cemongin pake cat?! Lu tahu gak, dari tadi anak-anak bawah nyariin mangkuk itu buat wadah sate!"
Chazel melangkah masuk, memungut boneka beruang mini yang malang itu dari dalam mangkuk, lalu menatap Era dengan pandangan menilai. "Ra, lu kalau gabut mending bantu Georel benerin antena radio di loteng. Daripada di kamar bikin sekte baru. Ini kalau Kania sama Neila liat, bisa-sisa mereka ikutan sesat."
"Justru itu, Bang Chazel!" potong Tifani dengan mata berbinar-binar, jiwanya sebagai anak IT agensi mendadak bangkit. "Kita lagi nyari cara biar gak gabut! Kanada dingin banget, Karan! Kita butuh asupan keributan biar sel darah kita gak beku!"
Rika ikut mengangguk heboh. "Iya Karan! Lagian si Nathan sama Neila di bawah lagi kaku-kakuan kek kanebo kering, si Helion ama Yaya sibuk pacaran di dapur sambil lempar-lemparan kecap. Cuma kita bertiga di sini yang produktif menjaga kelestarian humor agensi!"
Raniya menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak pening. Punya anggota agensi yang semuanya anak SMA dengan hormon random tingkat dewa memang ujian berat bagi kesehatan mentalnya sebagai penanggung jawab tim.
"Produktif pala lu peyang," gumam Raniya ketus, tapi dia menurunkan kemocengnya. "Buruan beresin ini semua. Mangkuknya balikin ke dapur, cuci yang bersih. Terus lu bertiga turun ke bawah. Kak Raniya mau bagi-bagi tugas buat persiapan kepulangan anak-anak jajaran Vancouver besok di senin."
Mendengar kata "tugas", mata ketiga bocil itu langsung berbinar serentak.
"Ada misi belanja ke supermarket luar gak, Kak?!" tanya Era antusias. "Gue mau beli es krim Kanada yang katanya rasanya kek salju rasa vanila!"
"Gak ada belanja-belanja! Lu pada kalau dilepas ke supermarket yang ada malah balapan troli kek waktu di gangam style!" larang Raniya mutlak. "Tugas lu bertiga murni beresin ruang tengah sama nyiapin kasur lipat!"
"Yahhhh... membosankan," keluh Rika dan Tifani barengan sambil merosotkan bahu lesu.
Chazel cuma bisa terkekeh pelan melihat interaksi itu. Dia menepuk pundak Raniya dengan lembut, memberikan tatapan menenangkan yang biasa mereka pakai kalau lagi berdua. "Udah, Ran. Biar gue yang awasin mereka beresin kamar. Lo mending turun dulu, gih, istirahat."
Raniya menoleh ke arah Chazel, mendengus pelan tapi matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam karena pacarnya ini selalu bisa diandalkan. "Yaudah, awasin ya, Zel. Kalau mereka bertiga macem-macem lagi atau coba-coba bakar karpet Marchel, sentil aja jidatnya pake taktik Helion."
"Siap, Ketua," jawab Chazel sambil tersenyum tipis, matanya melirik Raniya penuh arti yang buru-buru direspon Raniya dengan muka jutek andalannya gara-gara salting dapet senyuman Chazel.
Setelah Raniya keluar dari kamar, Trio Bocil langsung menatap Chazel dengan pandangan menyelidik yang kompak.
"Bang Chazel..." panggil Era dengan nada penuh kecurigaan yang dibuat-buat. "Lu ama Karan tuh sebenernya berapa tahun hubungan sih? Kok nempel mulu kek prangko agensi? Jangan-jangan..."
Chazel langsung memasang ekspresi cool andalannya, melipat tangan di dada dengan tenang demi menjaga rahasia kecil mereka. "Jangan-jangan apa? Gue cuma bantuin ketua tim lu yang barbar biar agensi ini gak bubar. Udah, buruan beresin mangkuknya sebelum kemoceng Raniya melayang lagi."
"Dih, rahasia-rahasiaan banget kek kode komputer!" cibir Tifani sambil memeletkan lidahnya, namun mereka bertiga akhirnya buru-buru bergerak membersihkan kamar sebelum sang Ratu Iblis benar-benar kembali mengamuk.
TBC.
oke lanjuttt,, hehe
💚🌱💚
KAMU SEDANG MEMBACA
RANEL FAM
Misteri / ThrillerHanya sebuah cerita dari sebuah keluarga, Tidak untuk menyinggung orang lain, namun jika ada kesamaan nama, tapi gak mungkin, mohon dimaklumi. BOOK SPESIAL ALIEN JANGAN PLAGIAT, BAHKAN BIKIN CERITA KAYAK GINI!! MURNI CERITA DARI AUTHOR!! JANGAN SIDE...
