15

12 4 14
                                        

Halo semuanya.. Aku kembali setelah sekian lama dengan book ini.. Semoga kalian masih ingat ya dengan alurnya hehe.

Kabar baik kan?

~Happy Reading~
💚💚💚


Perjalanan pulang dari pantai Kanada kali ini terasa sangat aneh.

Biasanya, kalau rombongan Ranel sudah masuk ke dalam mobil, suasananya bakal langsung berubah mirip pasar malam pindah tempat. Ada saja kelakuan ajaib mereka, mulai dari Vano yang nyanyi fals dengan nada sekencang toa masjid, Naza yang sibuk rebutan camilan keripik kentang sampai remahannya tumpah ke mana-mana, sampai debat kusir nggak penting antara Era dan Zelo soal apakah mie rebus itu lebih enak kalau kuahnya dicampur susu atau dancow bubuk.

Tapi kali ini? Sunyi senyap. Yang terdengar cuma deru halus mesin mobil yang membelah jalanan aspal Kanada dan sesekali helaan napas panjang yang berat dari kursi bagian belakang.

Neila duduk menyandar di dekat jendela kaca. Matanya menatap kosong ke arah deretan pepohonan pinus di luar, tanpa mengeluarkan omelan atau bacotan satu kali pun. Bagi anak-anak Ranel, melihat Neila diam seribu bahasa itu sudah cukup jadi pertanda kalau dunia sedang tidak baik-baik saja, atau minimal lambang kiamat kecil buat ketenangan markas.

Kania yang duduk di sampingnya juga tidak jauh berbeda. Cewek itu cuma menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang sesekali mengepal kuat lalu terlepas lagi. Kulitnya masih agak pucat, seolah sisa rasa dingin dan kaku dari kulit mayat wanita yang tadi ditariknya dari dasar laut masih menempel erat di indra perasanya.

"Gue... masih kebayang jelas mukanya," gumam Kania pelan, memecah keheningan dengan suara yang agak bergetar.

Neila melirik sekilas dari sudut matanya, lalu mengembuskan napas pendek. "Jangan dibahas sekarang, Kan. Simpen dulu."

"Lah, lu juga pasti kepikiran kan, Nei? Jangan sok-sokan tegar deh," balas Kania, mencoba memancing sifat ketus Neila yang biasanya.

"Ya iyalah, goblok. Mana ada orang normal yang gak kepikiran abis nemu gituan pas mau berenang? Tapi gue sekarang lagi berusaha keras buat pura-pura normal biar gak gila," sahut Neila dengan nada ketus yang mulai keluar, membuat atmosfer di dalam mobil agak sedikit mencair.

Dari kursi depan, Vano yang sedari tadi fokus menyetir melirik mereka berdua lewat spion tengah. "Kalian berdua jangan sok kuat deh. Kalau emang ngerasa pusing atau mual, bilang sekarang. Jangan ditahan-tahan."

"Heleh, yang sok kuat tuh sebenernya elu, Van. Tadi aja pas di bibir pantai muka lu langsung pucet kayak tembok rumah yang baru dicat ulang pake kapur. Gak usah sok-sokan mau jadi pahlawan kesiangan," balas Neila telak.

Vano mendengus kesal, membetulkan posisi duduknya lalu kembali fokus menatap jalanan di depan. Di samping Vano, Naza sibuk mengetik sesuatu dengan kecepatan tinggi di atas layar tabletnya, mencoba menyusun kronologi awal.

Sementara Friska yang duduk di kursi tengah terus memutar dan memperbesar foto tato mawar ular yang sempat mereka ambil secara diam-diam menggunakan kamera ponsel beresolusi tinggi sebelum pihak ambulans dan otoritas setempat datang mengamankan TKP.

Begitu mobil berhenti di halaman depan rumah mewah milik Marchel, suasana santai yang tersisa langsung menguap begitu saja, digantikan oleh aura formal agensi.

RANEL FAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang