Kamar dengan warna perpaduan krim dan cokelat ini terkesan sangat mewah. Ranjang king size nya seakan menelan tubuh kecil ku. Oh iya kamar ini terletak di lantai dua yang merupakan lantai paling atas rumah pak Alvian.
Di balik kaca jendela ini aku bisa melihat kolam renang dengan air yang berwarna biru muda. Di sekitarnya terdapat halaman luas yang di tumbuhi pohon dan berbagai bunga, terlihat rindang dan asri. Menurut ku tempat itu sangar asyik untuk quality time bersama keluarga.
Aku melihat lemari putih di pojok kamar ini. Lalu aku mulai memasukkan satu per satu pakaian ku ke dalam lemari besar itu. Karena ukuran lemari ini yang sangat besar dan baju ku yang tidak terlalu banyak, membuat masih banyak ruang kosong pada lemari ini.
"Tok tok tok" tersengar suara ketukan di balik pintu kamarku.
Aku membuka pintu dan melihat sosok wanita paruh baya dengan senyum ramah kepadaku.
"Neng Rara? Perkenal kan saya Bik Sum, pembantu di sini. Oh ya neng, den Alvian sudah maseh menunggu neng Rara di bawah, bibik turun dulu ya neng, jangan membuat pak Alvian menunggu terlalu lama" jelas Bik Sum panjang lebar.
"Iya bik, Rara segera turun" jawabku sambil tersenyum.
Bik Sum pun meninggalkan ku dan berjalan kembali ke bawah. Aku menutup lemari yang tadi masih terbuka lebar. Aku pun langsung bergegas menuju lantai bawah.
Setibanya di bawah aku melihat pak Alvian sedang duduk di sofa dengan celana putih selutut dan baju kaos abu abu yang terlihat sangat menawan pada tubuhnya yang atletis. Bos ku ini secara fisik sangat cocok untuk menjadi seorang model. Rambutnya yang masih terlihat basah menambah kesan seksi pada wajah maskulin nya.
"Ehm ada apa? Kamu senang sekali memandang saya seperti itu" ucapnya sambil memicingkan mata.
"Ma maaf pak, saya tidak bermaksud apa apa" ucapku tertunduk.
"Duduk lah, ada yang perlu kita bicara kan"
Aku pun duduk di sofa merah yang terasa sangat empuk dan nyaman ini. Tapi aku masih melihat wajah serius pak Alvian. Kenapa lelaki ini selalu memasang tampang seperti itu. Tidak bisakah dia sedikit mengendurkan pandangamnya? Atau sedikit tersenyum mungkin.
Baru sekitar satu jam tiga puluh menit aku tinggal di rumah ini. Tapi bos ku yang super dingin dan tegas ini selalu memandang tajam kearahku.
"Jangan tertunduk seperti itu, kamu takut? Saya bukan orang jahat kok. Saya akan memberitau kamu apa saja tugas yang akan kamu lakukan sebagai asisten pribadi saya.
Yang pertama, kamu harus membantu saya mengerjakan urusan kantor selama di rumah, karena itulah saya mencari orang yang berpendidikan.
Yang kedua, kamu di tuntut menghafal seluk beluk dimana saya meletakkan barang barang saya. Karena sering sekali file penting saya nyasar.
Yang ketiga, kamu harus siap ikut kemana pun saya pergi melakukan bisnis, saya tidak mau repot sendirian nanti. Karena Talia saya tugas kan di kantor. Anggap saja kamu sekretaris kedua saya.
Yang ke empat, kamu harus bersedia membantu Bik Sum dan Mang Ucup membereskan rumah ini, saya harap kamu orang yang telaten dalam membereskan rumah.
Dan yang terakhir, apakah kamu bisa memasak?" jelas pak Alvian panjang lebar.
"Ha? Emmm bii bisa pak" jawab singkat.
Tolong buatkan saya sarapan setiap pagi. Karena lidah saya sudah sangat memerlukan rasa baru. Apakah kamu siap melakukan semua tugas itu? Saya berani mematok gaji yang sangat tinggi bahkan lebih tinggi dari gaji sekretaris saya, karena saya tau pekerjaan itu sangat melelahkan.
"Saya siap pak, sangat siap dalam membantu pekerjaan bapak maupun untuk membereskan rumah ini" jawab ku semangat.
"Hmm bagus, saya mau istirahat. Nanti setelah Isya kita malam"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kiss the Rain
RomanceBercerita tentang seorang CEO muda Alvian Hastoraharjo dan seorang wanita berhijab Rara Agnesia. Akan kah seseorang yang telah lama menghilang dan kembali lagi dengan cinta yang membara akan menggoyah hubungan Alvian dan Rara? Warning !!!!! Pada be...
