Sorry berry stroberry readers pada part sebelum nya pada pendek pendek, sekarang ane panjangin deh, karena kebanyakan orang tuh suka yang panjang panjang. Hayooo apanya yang panjang? Dari pada ane makin ngaur, langsung baca aja yuk :D
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Rara POV
Dia pergi begitu saja setelah pernyataan nya barusan yang menyatakan bahwa minggu depan dia akan melamar ku. MELAMAR??? Kenapa secepat itu??? Lalu apa yang harus ku katakan pada Ibu di rumah. Bisa-bisa di kira aku ini hamil duluan, arghhh tidak tidak. Aku masuk ke kamar ku dengan perasaan gelisah. Harus dari mana aku menjelas kan acara pernikahan ku kepada Ibu ku. Aku pun langsung mengambil telefon seluler milik ku.
Tuut tuu tuut.....
"Asslammualaikum" terdengar dari seberang sana suara Ibuku.
"Waalaikum salam Ibuuuuukkkk Rara kangen, Ibuk sama Fira sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat kok sayang, kamu gimana, kerjaan kamu gimana semua nya baik-baik aja kan?" tanya Ibuku.
"Rara sehat kok Buk, kerjaan Rara juga oke oke aja. Tapia da hal penting yang harus Rara sampein ke Ibuk" jawab ku gelisah.
"Kenapa Ra?"
"Emm gini Buk, anu apa tuh, dari mana yaa ngomongin nyaaa" aku semakin gelisah tak karuan.
"Kenapa Rara, kamu jangan bikin Ibuk cemas, bilang aja" sahut Ibuku tak sabar.
"Gini buk, tapi Ibuk jangan mikir yang enggak enggak yaa, minggu depan bos Rara, pak Alvian mau datang ke rumah buat ngelamar Rara" jawab ku takut-takut.
"Ya Allah Gustiiiiiiii apa yang kamu buat RARA, kamu HAMIL atau gimana HAA ???" terdengar di seberang sana Ibuku tampak sangat terkejut.
"Demi Allah Rara enggak ngapain-ngpain buk, disini kan ada orangtua pak Avian juga. Gini buk, sebenarnya Rara sama pak Alvian itu udah lama saling suka, dulu waktu belum pernah ketemu langsung kita udah deket di media sosial, sampe Rara pindah ke Jakarta buat cari kerjaan dia ngajak ketemuan untuk yang pertama kali. Dia juga yang nawarin Rara jadi asisten pribadi nya, katanya dia percaya sama Rara. Dan sekarang orangtua pak Alvian tau dengan hubungan kami berdua. Orang tua pak Alvian pengen kami nikah secepatnya, pengen cepet nimang cucu katanya. Rara juga ngerasa nyaman sama pak Alvian." Bual ku panjang lebar, maaf kan Rara Buk, Rara terpaksa bohong.
"Besok kamu bawa calon suami kamu ke sini, Ibuk kan juga mau liat gimana orang nya, gak bisa main langsung ngelamar gitu aja atuh" jawab Ibuku.
"Iya buk, besok Rara bawa Pak Alvian pulang ke rumah. Udah dulu ya buk, Assalammualaikum" sahut ku menutup pembicaraan dengan Ibuku.
Apa yang harus ku katakan dengan Pak Alvian, bagaimana kalau dia tidak mau? Arghh Raraaa tenang tenang. Lebih baik aku mandi untuk menyegar kan tubuh ku. Lagi pula sebentar lagi sudah mau magrib. Setelah selesai mandi dan menyelesaikan sholat magrib ku, aku turun ke bawah untuk membantu bik Sum menyiapkan makan malam. Sekarang aku sudah di perboleh pak Alvian untuk berkutat dengan hal masak memasak di dapur.
Aku turun ke bawah dan langsung menuju ruang dapur. Betapa terkejut nya aku melihat Mama mas Alvian sedang memasak bersama bik Sum di dapur. Aku merasa canggung dan memberani kan diri bergabung dalam aksi makak memasak yang sedang terjadi di depan mata ku.
"Kenapa bengong di situ sayang, sini" ucap Mama mas Alvian mengaget kan ku.
"Ha emm iya tante" aku pun beranjak dan mendekati bik Sum dan Mama Pak Alvian.
"Potong wortel ini yaa Ra" mama Pak Alvian menyerah kan tiga buah wortel untuk ku potong, ku lirik bik Sum cengengesan melihat kegugupan ku, mungkin bik Sum juga teringat dengan kejadian ku saat di dapur waktu itu.
"Iya tante" aku pun mulai memotong satu per satu wortel tersebut dengan hati-hati. Sangat memalukan jika kejadia waktu itu terulang kembali di depan calon ibu mertua ku.
"Rara aslinya orang mana?" tanya mama pak Alvian.
"Saya aslinya orang Bandung tante, saya anak pertama dari dua bersaudara. Ayah saya sudah meninggal, Ibu dan adik saya hanya tinggal berdua di Bandung, adik saya sedang kuliah semester pertama tante" jelas ku panjang lebar.
"Ibu kamu kerja apa sayang ?" tanya tante lagi.
"Enggak kerja tante, selagi saya masih mampu untuk bekerja, sayalah yang akan menjadi tulang punggung keluarga saya" jawab ku lagi.
"Wah hebat kamu Ra, tante bangga sama kamu" sahut tante sambil mengusap pundak ku.
"Hehe ih tante bisa aja" di puji sama calon mertua adalah hal yang menyenangkan rupanya wkwkwk.
Ayam goreng, ikan sambal pedas, sup ayam, sambal terasi, dan lalapan, Indonesian food ini sudah tersusun rapi di atas meja makan mewah keluarga pak Alvian.
Tante memanggil semua anggota keluarga yaitu Om, pak Alvian, dan Melia untuk makan malam bersama, sedang kan aku sedang menyiapkan piring dan air minum. Mereka pun datang dengan wajah wajah lapar.
"Wah enak enak banget nih kayak nya, udah lama juga enggak makan Indonesian food kayak gini" celoteh papa pak Alvian yang langsung duduk di kursi dan langsung menyambar nasi dan lau pauknya.
Dan di sini lah aku, bersebelahan dengan pak Alvian dan berhadapan dengan Melia. Celana panjang berwarna abu-abu dan baju kaos putih melekat di tubuh pak Alvian yang bisa ku bulang seksi ini hihihi. Rambutnya masih terlihat basah, wangi parfum nya tercium jelas oleh ku, menenangkan.
Lelaki tampan ini mulai memakan nasinya. Entah kenapa jantung ku berdebar-debar ketika berdekatan dengan sosok ini, apalagi setelah insiden ciuman ku bersama nya. Ahh Rara sejak kapan suka mikirin hal begituan.
"Rara udah dong ngeliatin calon suami nya" ucap tante terkekeh diikuti dengan om.
Aku hanya cengengesan, pasti saat ini wajah ku sudah memerah. MALUUUUU. Rara kamu bodoh banget yaaa, bisa bisanya ketauan sama calon mertua lagi ngeliatin mahkluk hasil jerih payah mereka. Pak Alvian pun langsung menoleh kea rah ku. Terlihat dia tersenyum tipis. Entah apa maksudnya. Sedang kan Melia hanya melihat kea rah ku sekilas.
Kalau bicara tentang Melia, sebenarnya aku sedikit ngeri melihat sikap dingin nya terhadapku. Aku pun kembali melanjut sesi makan malam ku, tanpa menoleh ke pak Alvian lagi.
Setelah selesai makan dan beres beres, aku mencari sosok pak Alvian. Di ruang keluarga aku hanya menemukan tante, om dan Melia yang tengah asik menyaksi kan film Kill Bill. Aku memberani kan diri untuk bertanya kepada mereka pak Alvian sedang dimana, karena aku sudah mengetuk pintu kamar nya namu hasilnya nihil, ada yang ku bicarakan dengan nya, penting.
"Om, tante, sama Melia ada negliat mas Alvian gak?" tanya ku sesopan mungkin.
"Tadi om liat dia ruang kerja nya dia Ra, coba deh kamu cari ke sana" om dan tante pun cengengesan bersama.
"Oh di situ, makasih ya Om, Rara pamit mau nyamperin mas Alvian lagi.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - -- -
Next part 15. Jangan lupa tekan bintang dan silakan tinggal kan pesan :)
Sekian....
KAMU SEDANG MEMBACA
Kiss the Rain
RomansaBercerita tentang seorang CEO muda Alvian Hastoraharjo dan seorang wanita berhijab Rara Agnesia. Akan kah seseorang yang telah lama menghilang dan kembali lagi dengan cinta yang membara akan menggoyah hubungan Alvian dan Rara? Warning !!!!! Pada be...
