10. Sudden Hug

1.2K 96 1
                                    

"Leo, apa kamu pikir Verel punya perasaan kepada Luna?" Tanya Ravi. Leo dan Ravi sudah berada di kantor sejak pukul 7 tadi. Sedangkan Verel seperti biasa, menginap di kantor. Luna? Dia belum datang, bukan karena dia malas, tapi jalanan macet dan jarak rumahnya yang cukup jauh.

"Diamlah! Verel akan mendengarmu!" Sentak Leo. "Maaf aku terlambat..." Kata Luna dengan nafas tersengal karena berlari dari parkiran. "Ah tidak apa-apa. Dalam dua hari ini kita tidak akan punya kasus." Seru Ravi. Luna mengernyitkan dahinya dan memandang Verel.

"Aku hanya khawatir kalau kamu trauma atau semacamnya karena kejadian kemarin, jadi aku meminta kapten untuk memberikan kasus-kasus lainnya kepada Tim yang lain dan aku meminta libur untuk kita semua." Kata Verel setelah merasa dipandang aneh oleh Luna.

Mendengar jawaban Verel dia cukup lega, pasalnya dia sangat lelah karena kejadian kemarin. Luna berjalan menuju mejanya yang berada di samping meja Leo. "Lalu apa yang kita lakukan sekarang?" Tanya Luna.

"Pergilah berkencan." Seru Rio yang tiba-tiba sudah ada di belakang Luna dan Leo. "APA!?" Bentak kedua manusia sambil menghadap Rio yang lupa kalau Rio itu hantu dan hanya mereka yang bisa melihat. "Apa maksud kalian dengan 'apa'?" Tanya Ravi. Verel yang ikut kebingungan hanya menatap dua manusia bodoh itu.

"Ah tidak, tidak ada apa-apa." Jawab Leo. Luna tampak salah tingkah sehingga dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Awas kamu Rio! Gerutu Luna dalam hati. "Maafkan aku, aku lupa kalau hanya kalian yang bisa melihatku." Kata Rio sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana kalau kita pergi piknik?" Tawar Ravi. "Boleh juga." Jawab Leo. "Tunggu, tapi kita bahkan belum siap-siap." Sela Luna. "Tentu saja kita pulang dulu, bersiap-siap. Pukul 12 nanti kita berangkat." Jawab Ravi. "Baiklah kalau begitu." Kata Luna menyutujui. "Kita berkumpul dimana? Menggunakan mobil siapa?" Tanya Verel. "Mobilku saja." Jawab Leo dan akhirnya semua pulang dan bersiap untuk piknik mereka.
.
.
.
.
.
Pukul setengah 12. Luna sudah berada di depan kantor dengan membawa tas ransel. Kurang lebih dia menunggu di teras kantor, seseorang muncul dari taksi yang tidak lain dan tidak bukan adalah Verel dengan kacamata hitamnya.

"Kamu datang lebih awal." Kata Verel. Luna hanya menggangguk dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dari ketiga pria, kenapa dia yang harus datang. Apa dia tidak ingat pelukan mendadaknya kemarin? Itu masih membuatku gugup kalau di sampingnya. Gerutu Luna dalam hatinya.

Aku yakin kejadian pelukan itu membuatnya tidak nyaman. Batin Verel dengan sudut matanya yang terus memperhatikan Luna di balik kacamata hitamnya. Sekitar 10 menit kemudian, Ravi dan Leo datang bersamaan. Luna juga Verel segera masuk ke mobil Leo.
.
.
.
Dalam perjalanan, hanya Leo dan Luna yang mengoceh. Selain karena Leo dan Luna yang duduk berdampingan, ini juga karena mereka punya banyak sekali cerita yang terpendam dan ingin diceritakan satu sama lain. Dengan pura-pura menjadi teman semasa kecil, mereka terus menceritakan kisah-kisah masa lalu. Sebenarnya Leo tau masa kecil Luna juga karena Rio terus bercerita saat di rumah sakit dan di rumah.

"Hei! Apa kamu ingat? Waktu kecil kamu tidak sengaja jatuh dari pohon, tapi karena ada perempuan cantik di sana, kamu menahan sakitnya." Kata Luna sambil tertawa. "Apa kamu juga ingat? Saat kamu tidak sengaja memeluk seorang laki-laki dan kamu kira dia ayahmu." Balas Leo ikut tertawa.

Ravi sudah tertidur dari tadi karena tidak ada bahan pembicaraan. Verel yang ada di belakang Luna dan Leo terus mengamati Luna yang tertawa dan kadang menunjukkan muka sebal karena candaan Leo. Tanpa Ia sadari, mulutnya membentuk garis melengkung tipis.
.
.
.
.
.
Setelah hampir 3 jam perjalanan, mereka sampai di sebuah vila yang letaknya ada di perbukitan. Vila yang tidak begitu besar, dengan dua kamar tidur, suasanya yang nyaman. "Ini bagus." Kata Luna. "Kamu yang punya vila ini?" Lanjut Luna melihat Leo. "Iya." Jawab Leo sambil tersenyum.

Dengan semangat mereka memasuki vila. Menaruh barang bawaan mereka di ruang tamu dan duduk untuk menghilangkan penat di perjalanan. "Kamar disini hanya ada dua. Jadi kamu tidur di laniat dua sendirian tidak apa-apa kan?" Tanya Leo kepada Luna. "Iya tidak apa-apa."
.
.
.
.
.
Pukul 5 tepat Leo menyiapkan kayu untuk pesta barbeque di taman belakang. Luna dan Verel menyiapkan dagingnya di dekat panggangan, Ravi menata tempat duduk. Hanya keheningan saat itu, bahkan suara nafas mereka dapat terdengar karena terlalu hening.

Sekitar setengah jam mereka selesai menyiapkan semuanya. Verel dan Luna bagian memanggang daging, Leo yang terlahir serba bisa itu menjadi penyanyi mendadak dengan iringan gitar Ravi. "Cukup jangan menyanyi lagi, aku lapar." Rengek Ravi. "Aku juga lapar." Rengek Leo tak kalah melas. "Tunggulah sebentar." Balas Luna.
.
.
.
"Sudah jadi!" Teriak Luna sambil menghampiri Ravi dan Leo. Verel di belakangnya membawa dua piring penuh daging dan sosis. "Waahhhhh..... Ini enak sekali. Kalian memang hebat." Puji Leo dan terus makan. Ravi tidak peduli dan tetap dengan kegiatannya. Seperti yang kita tau, Verel adalah seorang vampir, jadi dia tidak ikut makan dan memilih pergi. Luna juga hanya memakan beberapa dan nafsunya menghilang.

Menyadari Verel tidak ada di sana, Luna mencari Verel. "Kemana dia? Dia juga belum makan." Gumam Luna. Kakinya melangkah menuju halaman depan vila. Matanya menuju ayunan di bawah pohon dan melihat Verel yang berada di sana.

Luna duduk di sisi lain ayunan. "Kenapa ada di sini dan tidak ikut makan?" Tanya Luna. "Aku tidak lapar. Dan kamu?" Tanya Verel balik. "Aku sudah kenyang." Jawab Luna singkat. Setelah itu keheningan di mulai.

"Ah dingin sekali malam ini." Kata Luna untuk memecahkan keheningan. Verel menoleh ke arah Luna. Dia tampak berpikir sebentar. Tangannya meraih tangan Luna dan menarik tubuh mungil itu ke pelukannya. "Diamlah agar tidak dingin." Perintah Verel.

Luna Point of View

Apa-apaan ini? Dan kenapa jantungku berdegup secepat ini? Verel! Kenapa selalu memeluk orang secara tiba-tiba? Apa yang harus aku lakukan?

Author Point of View

Sementara Luna terdiam tenggelam dengan pikirannya yang penuh tanya. Verel melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Luna. "Ayo masuk." Ajak Verel sambil menarik tangan Luna. Yang di tarik hanya mengikuti Verel dan tanpa di sadarinya mulutnya membuat lengkungan yang tampak jelas sama seperti Verel.

Tepat saat mereka memasuki ruang tamu, hujan mengguyur tempat itu. Ravi dan Leo heboh masuk ke vila sambil membawa gitar dan daging yang tersisa. Verel dan Luna yang tidak menyadari kalau dua anggotanya sudah masuk dan memandang mereka dengan aneh.

"Kenapa kalian saling berpegangan tangan?" Tanya Leo dan Ravi bersamaan. Mata Luna membelalak lebar dan Verel segera melepas genggamannya.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vomment ya!

Vampire and Paranormal DetectiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang