Luna yang sudah sampai di kantor, segera menuju mejanya dan mulai mengotak atik laptopnya.
"Detektif Luna, aku menemukan beberapa informasi ganjal dengan korban." Kata Leo yang mejanya ada di samping meja Luna. "Di daftar telepon korban, dia berbicara dengan seorang laki-laki bernama Kevin. Dia berbicara sekitar 2 jam sebelum dia di bunuh. Dan saat aku menyelidiki siapa Kevin, dia merupakan pacar temannya yang meninggal 3 bulan lalu." Lanjut Leo sambil menyerahkan foto Kevin.
"Lalu bagaimana dengan rumahnya? Atau mungkin sosial media?" Tanya Luna.
Belum sempat menjawab, Verel sudah datang dan menyuruh mereka berkumpul di ruang rapat. Hanya ada Leo, Luna, dan Verel karena Ravi sedang mewawancarai orang-orang di sekitar korban.
"Detektif Luna, apa yang kamu temukan di TKP?" Tanya Verel. "Aku tidak menemukan apa-apa." Jawabnya bohong untuk menutupi kemampuannya. "Dan kamu?" Tanya Verel menunjuk Leo dengan dagunya.
"Ah! Aku memeriksa catatan telepon korban dan menemukan bahwa korban sempat menghubungi Kevin, pacar temannya yang sudah meninggal 3 bulan lalu. Dan dia menelopon 2 jam sebelum meninggal. Tentu saja aku memeriksa latar belakang Kevin. Dia adalah dokter di rumah sakit anak. Tapi semenjak kekasihnya meninggal, dia menghilang. Hanya ada alamat rumah lamanya. Nomor yang dia gunakan untuk menelepon korban juga sudah dibatalkan pendaftarannya." Jawab Leo.
"AKU KEMBALI!" Teriak Ravi di ambang pintu ruang rapat. "Apa ada yang kamu temukan?" Tanya Verel. Dengan langkah santai, Ravi menuju kursi kosong di samping Luna dan mendudukinya.
"Banyak sekali. Banyak yang mengatakan korban sering bertemu dengan seorang laki-laki. Saat aku mendatangi teman terdekatnya, dia mengatakan kalau korban sering bertemu dengan pacar temannya semenjak temannya meninggal. Kalau tidak salah tadi namanya Kevin." Jelas Ravi."Sekarang kita lacak keberadaan pelaku dan tangkap dia. Detektif Leo kamu pergi dengan detektif Ravi ke rumah korban, siapa tau dia ada di sana. Aku dan detektif..."
Belum selesai Verel berbicara Luna segera menyela kata-katanya. "Maaf, tapi aku akan pergi sendiri." Sela Luna yang langsung pergi dan dibuntuti oleh Rio hantu laki-laki yang tentunya hanya Luna yang bisa melihat. "Aku akan pergi sendiri ke rumah Kevin." Lanjut Verel dengan muka sebal.
Mereka segera bergerak menuju tujuan masing-masing. Sesampainya di rumah korban, Leo dan Ravi tidak menemukan apapun melainkan rumah kecil yang rapi, bahkan tidak ada tanda tanda di injak oleh manusia selain mereka.
Sedangkan Verel yang mendatangi alamat rumah lama Kevin juga tidak menemukan apa-apa. Rumah itu sudah di jual setahun yang lalu dan sekarang pemiliknya sudah berbeda. Dimana Luna? Pikir Verel yang baru sadar kalau tadi Luna tidak memberitahu kemana perginya.
Sambil mengendarai mobilnya, Verel menelepon Luna. "Halo?" Kata Verel saat telepon sudah tersambung. "Ada apa Detektif Verel?" Tanya Luna yang ada di seberang telepon. "Ada dimana kamu sekarang?" Tanya Verel balik. "Aku ada di rumah teman korban yang meninggal." Jawab Luna sembari menutup teleponnya. Verel yang mendengarnya segera bergegas ke rumah yang disebutkan oleh Luna.
"Rio apa kamu siap?" Tanya Luna yang berada di depan rumah ukuran sedang itu. "Tentu saja aku siap. Lagi pula sekarang aku bisa menyentuh dan memegang benda mati. Aku sekarang bisa membantumu." Jawab Rio mantap. Lalu mereka melangkahkan kaki mereka memasuki rumah itu dengan paksa.
Verel turun dari mobilnya dengan terburu-buru takut terjadi apa-apa dengan Luna. Pintu yang tadi telah di rusak Luna saat masuk paksa tampak masih terbuka lebar.
Dengan sedikit berlari, Ia mencari keradaan Luna. Dan yang di cari sedang berjalan menuruni tangga di belakang seorang laki-laki yang sudah babak belur. "Aku sudah menangkapnya." Kata Luna yang sudah berada di akhir tangga.
"Dasar bodoh. Kamu itu perempuan, seharusnya memanggilku atau Leo atau Ravi." Kata Verel menghampiri Luna dan menarik laki-laki yang di jadikan tersangka atau Kevin.
Ruang Interogasi
"Apa benar Anda yang membunuh Bunga?" Tanya Ravi to the point. "Apa aku harus menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya?" Tanya Kevin balik.
Dengan menahan amarahnya, Ravi kembali melanjutkan interogasinya. "Kenapa Anda membunuhnya?" Tanya Ravi lagi. "Jika kamu jadi aku, apa kamu akan membiarkan orang yang kamu cintai dan sayangi meninggal di tangan temannya sendiri?" Tanya Kevin balik dengan senyum sinis.
"Bunga, dia bukan orang baik. Dia membunuh temannya sendiri hanya untuk uang." Lanjutnya. "Kalau begitu kenapa tidak melapor ke polisi?" Tanya Ravi lagi.
"Kamu kira aku tidak melakukannya? Aku sudah melakukannya berkali-kali. Tapi dia di bebaskan karena kurangnya bukti dan dia selalu memiliki alibi." Jawab Kevin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi bagaimana Anda bisa tau kalau Bunga yang membunuhnya?" Tanya Ravi untuk kesekian kalinya. "Saat dia membunuh kekasihku, aku ada di sana. Dia mengancamku untuk tidak mengatakannya pada siapapun kalau aku masih ingin hidup." Jawab Kevin dan semua yang ada di sana hanya diam.
Setelah interogasi selesai. Kevin dinyatakan bersalah dan dinyatakan akan mendekam di de penjara.
Keesokan harinya di pagi hari, Luna berangkat awal untuk memeriksa beberapa file. Saat dia sudah sampai dan memasuki kantor, dengan mata mebelalak lebar dan ekspresi terkejut Luna melihat Leo tergeletak di lantai dengan wajah pucat.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vomment ya
