Rapat dewan perang seperti biasa diadakan di Rumah Besar, semua konselor senior mengelilingi meja ping pong sambil memakan macam - macam chips. Ditambah dengan Reyna, praetor Romawi, Frank Zhang yang juga menjabat sebagai praetor. Jason, putra Jupiter, Hazel Levesque, putri Pluto serta teman - teman konselor senior dari perkemahan Yunani. Clarisse, Putri Ares, orang di perkemahan yang paling tidak suka dengan Percy, menaikkan kakinya ke atas meja ping pong dan tidak ada yang tidak keberatan dengan belati yang selalu diselipkan di tulang iganya jika dibutuhkan dalam keadaan darurat, ditancapkan di dekat kakinya. Katie Gardner mengubah hiasan mawar di dinding dekat Seymour si macan tutul menjadi jenis - jenis bunga yang Percy tidak tertarik untuk mengetahuinya. Kaki kuda Chiron menggema di lantai kayu dalam Rumah Besar. Tyson baru muncul bersama Chiron dari dalam ruang kerjanya beserta Apollo. Tyson tersenyum lemah pada Percy, yang merupakan tanda bagi Percy bahwa Apollo sudah membacakan ramalan tersebut pada Tyson. Chiron duduk di kursi roda miliknya yang menyembunyikan pantat kuda yang dia miliki, sedangkan Apollo dan Tyson duduk di sebelah kiri dan kanan Chiron.
"Pagi pahlawan, aku harap kalian mengerti mengapa kita berkumpul disini." ucap Chiron tidak bersemangat. Mungkin, setelah beribu - ribu tahun mengajar pahlawan, dia sudah tidak sanggup mengirim murid nya pergi menyongsong ajal.
"Untuk membicarakan ramalan yang lagi - lagi ditimpakan kepada Percy." jawab Annabeth getir. Dia selalu berada di samping Percy selama ini, akan tetapi, Percy yakin, di waktu yang mendatang, dia tidak akan sering bersama Annabeth.
"Yah, aku tidak akan berbicara banyak soal ini, akan tetapi sebaiknya, Abrielle, Percy dan Tyson segera berangkat." ujar Clarisse.
"Dan mengapa begitu Clarisse?" tanya Connor Stoll dengan nada mengejek.
"Ya Clarisse, jika kau merasa tahu segalanya." timpal Percy. Clarisse bangkit dan menggebrak meja ping pong sampai Apollo pun terlonjak kaget.
"Dengar ya Jackson, gak usah berlagak disini dasar keong laut kudisan!" ucap Clarisse menantang. Clarisse adalah musuh bebuyutan Percy sejak pertama kali masuk ke Perkemahan Blasteran. Putri Ares ini minta ampun menyebalkannya. Dia sepertinya biasa saja dengan Abrielle, yah walaupun dia tidak mengerti apa sebabnya. Chiron berdeham dan memaksa Clarisse untuk duduk kembali.
"Eh Abrielle, Percy dan Tyson tentu saja, kalian mengerti kan harus pergi kemana? Apa tujuan kalian dalam misi ini?" tanya Apollo cemas. Sulit membayangkan bahwa Apollo sudah berusia beribu - ribu tahun sedangkan saat ini, dia terlihat hanya seperti remaja 17 tahun biasa, bahkan tidak ganteng - ganteng amat. Pertanyaan itu menyadarkan Percy yang membuatnya langsung kontak mata dengan Abrielle.
Kau tau apa yang ku pikirkan? tanya Abrielle.
"Tartarus."
Begitu Abrielle mengucapkannya, nama tempat itu menggelayut di udara nan hampa yang membuat semua pekemah bergerak tidak nyaman di kursinya, Clarisse sekalipun. Tartarus, lubang kekejaman, siksaan tiada henti, penjara Titan paling jahat, monster, roh - roh setan paling buruk yang bisa kau bayangkan. Tidak ada manusia fana yang waras berusaha ke tempat itu. Bahkan Hades, Dewa Dunia Bawah, tidak dapat menjamah tempat itu serta ajudannya, Thanatos, Dewa Kematian, tidak sudi meletakkan ibu jari miliknya di Tartarus.
Naasnya, Percy sudah pernah ke tempat itu bersama Annabeth dan mereka berdua hampir mati jika tanpa pertolongan Damasen si raksasa anti Ares dan Bob, Titan yang nama aslinya adalah Iapetus (ceritanya panjang). Ya ampun, Bob! Percy tidak tahu bagaimana nasib Bob. Damasen dan Bob, mereka berdua lari dari takdirnya untuk menolong Percy dan Annabeth untuk keluar dari Tartarus dan dapat mengehentikan Gaea. Kata - kata terakhir Bob pada Percy adalah sampaikan salamku pada matahari dan bintang - bintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night
FanfictionApa yang akan terjadi jika sang Malam, Ibu dari segala macam kegelapan dan kekejaman ikut turun tangan dalam misi untuk menggagalkan Abrielle untuk menyelamatkan dunia?
