Bagian 9

3.4K 346 34
                                        


Hai – hai semua...

Happy New Year!!!

Semoga target kita semua untuk tahun ini tercapai, lebih banyak Rejeki, dan Jangan lupa Jodoh pasti bertemu. hahahhaa

Oke,jangan timpuk saya karena menghilang selama dua bulan ini*sembunyi dibalik tutup panci* , saya tidak bisa memberikan alasannya secara gamblang, intinya sih masalah di dunia nyata saja.

Adakah yang menunggu kelanjutan Jagad-Anya??

Yok deh, jangan kelamaan. ....

Warning: Feel kurang dapet!!!!

Buat yg Request adegan plus2... kalian gede dulu astagaa...hahahhaaaa Ada saatnya nanti....*dilaknatlah saya menjanjikan kalian hal ini*

Happy Reading!

***

“Kenapa?”

Suara bariton dengan langkah kaki membuat Anya menoleh seraya menegakkan badannya berdiri dari duduknya, tali dari pohon yang sedang dikaitkannya ke kayu penyangga jemuran terlepas begitu saja.

“Ini lepas, karena anginnya terlalu besar, harusnya sudah selesai dari kemarin tapi sampai sekarang Anya benerin tidak selese juga” Dia uduk kembali, Diteruskannya mengikat tali tanpa tahu kalau Jagad terdiam cukup lama memperhatikan jemari lentik nan mungil istrinya sangat tak pantas dengan tiang kayu kotor dan menjamur itu, kuteks pink menyala istrinya sudah lenyap hanya menyisakan kuku putih bersih yang entah mengapa membuat Jagad menelan ludah.

Anya masih mencoba mengikat sambil menggerutu lucu, bibirnya mencebik kecewa “ Padahal hari ini bakalan cerah, kasihan banget deh sama cuciannya jadi bau gak bisa kering” Keluhannya semakin bertambah saat melihat Jagad berbalik badan masuk kedalam rumah, batinnya mengingatkan syukur sempat di tanya.

Tidak lama, Jagad keluar dengan tas jinjing ditangan kanannya, ,mendekatinya dan ikut berjongkok mengambil alih tali dan kayu penyangga tanpa berbicara, tangan mereka sempat bersentuhan tetapi mungkin hanya Anya yang sadar akan hal itu.

Pipi Anya memerah, dia tidak bisa menyembunyikan kekaguman dari pemandangan yang sekarang tersuguhkan di depan matanya. Suaminya sedang memperbaiki jemuran, otot liat bisepnya menyembul dari kaos hitam rumahan yang jauh dari kata ketat, betapa tampannya suaminya saat sedang serius begini.

“Sudah rusak berapa lama?”

Anya tergagap mendapati mata elang yang tiba – tiba memandanginya “ehh...uhm, sudah sering, Anya sebenarnya sering benerin, cuman ini rusak yang paling parah” Jagad mengambil paku, meringis betapa tak pekanya dia pada sang istri, hmm... itukan sebelum dia menyadari sesuatu, Hah? Otak Jagad membeku beberapa detk mengeryit bingung, memangnya apa yang kusadari? Tanyanya dalam hati.

“Kenapa? Kok melamun?” Teguran dari suara jengkel yang terkesan kekanak-kanakan dari Anya membuat Jagad sadar dan berusaha menyembunyikan geli saat mendapati wajah yang mendadak tersipu dari istrinya.

“Tidak apa – apa, hanya saja wajahmu memerah” Datar, dan terkesan cuek ditambah wajah yang tak peduli tapi itu tak menolong samasekali dengan pipi Anya yang lebih memerah bahkan meluas dengan sejahteranya sampai ketelinga dan leher. Anya menunduk, ikut – ikutan suaminya yang sekarang senyum ke arah tanah, meski hanya bergeser beberapa senti, tapi Anya keukeuh kalau itu adalah senyuman.

“Lain kali, bisakah kamu meminta tolong?” Ujar Jagad dengan nada yang kembali dingin, menumpuk tanah yang terakhir untuk menguatkan tiang yang ditancapnya ke lubang yang sekarang sudah tertimbun tanah.

TEKADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang