Bab 1

8.9K 593 58
                                        

Kumpulan asap membentuk awan hitam menutupi langit kota Surabaya. Sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi di dalam kota. Membuat insting seluruh penduduk kota lebih memilih keluar gedung untuk mencari tempat lebih aman daripada terkunci dalam ruang dan mati tersiksa.

Tidak terkecuali Rendi dan Lucia. Kakak-beradik kembar ini juga keluar dari ruang kelas mereka di ikuti oleh para siswa lain yang berhamburan tak tentu arah. Lebih tepatnya mereka mengeluarkan diri untuk menyelamatkan nyawa. Suara ledakan susulan kembali terdengar di beberapa titik dalam kota. Lucia bergidik mendengar ledakan dan secara spontan menutup telinga.

Rendi menegadah pandangannya ke arah langit. Visualisasi mendung nampak terpantul di bola matanya. Kilatan cahaya ledakan sesekali menyilaukan pandangan matanya.

"Apa yang terjadi? Ledakan terdengar dimana-mana," tanya Lucia pada kakaknya Rendi

"Entahlah. Mungkin perbuatan teroris."

"Bagaimana kalau ini kudeta?"

"Kurasa tidak lebih baik. Tindakan terbaik saat ini adalah berlindung untuk bertahan hidup" jawab Rendi sambil mengibaskan debu yang lewat di depan matanya lalu berbalik menatap Lucia dan menggenggam tangan kanannya.

"Lucciiiii lari!!!" teriak Rendi tiba-tiba ketika menatap pemandangan di belakang Lucia. Secara refleks Rendi menarik Lucia untuk berlari ke depan didepannya.

"Luciii tiarap!!!" teriak Rendi lagi ketika sempat menoleh ke arah belakang untuk memastikan keadaan.

Bbbooommm... Suara memekakkan telinga itu kembali lagi terdengar di telinga Rendi dan Lucia. Bahkan letak suaranya tidak jauh dari posisi mereka. Suara itu bisa dipastikan memecah gendang telinga manusia jika intensitas suara yang masuk tidak ditahan. Asap hitam juga membumbung di sekitarnya, tidak terlalu banyak dan perlahan-lahan naik ke udara.

Untuk beberapa saat mereka terdiam di tempat melakukan aksi tiarap. Tangan Rendi juga sedikit melindungi kepala Lucia. Menutup telinga sebisa mungkin agar gendang telinga tidak pecah oleh intensitas suara yang memekakkan.

Ketika keadaan telah dirasa cukup aman. Mereka segera berdiri dan melihat kejadian di belakang mereka. Mengerikan. Beberapa korban terluka. Ada juga yang telah menjadi mayat dan gosong terkena bom secara langsung, beberapa bagian tubuh ikut terbagi yang tidak diketahui lagi siapa pemiliknya. Beberapa siswa sekolah yang selamat ada di sekitar situ juga ikut berdiri memastikan keadaan. Tampak beberapa perempuan menangisi temannya yang gosong karena terkena percikan dari ledakan bom.

"Pertunjukan kembang api pertengahan tahun. Ide gila siapa ini? Bom sialan itu hampir membunuh kita," kata Lucia yang memegangi kepalanya yang berdebu karena mengenai tanah disekitar tempat mereka melakukan aksi tiarap.

"Piring terbang mirip UFO itu yang melakukannya," sambil menunjuk ke arah langit di belakang Lucia.

"Objek apa itu? Aku belum pernah melihat yang seperti itu."

"Mungkin itu alien," jawab Rendi sekenanya

"Jangan ngasal ya," Lucia memandang kakaknya dengan sinis. "Lagipula, kalau itu alien kita semua pasti sudah musnah dengan bom yang mereka buat. Bom? Apa kita akan mati karena radiasi bom?" suara Lucia meninggi karena mengingat pelajaran sejarah perang dunia dua saat Hiroshima dan Nagasaki di jatuhi oleh bom nuklir. Bom yang efektif untuk menghancurkan satu kota dan menghasilkan efek mengerikan jangka panjang. Efek radiasi radioaktifnya mempengaruhi kehidupan manusia sampai tingkat genetik. Lebih mengerikan lagi bahwa radioaktif itu tidak pernah berakhir namun hanya pergi terbawa angin meninggalkan suatu kota dan pergi mengarungi dunia. Peristiwa itu bahkan menjadi sejarah kelam tersendiri bagi seluruh penduduk dunia.

COSMOS: Simulation SurviveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang