note: Halo... berjumpa lagi dengan cerita amatir aneh ini hahaha. Bab ini udah aku tulis dari kemarin tapi sempet terhenti. Why? aku bingung merangkai jalan cerita wkwkwk. Tapi, untunglah mood ku kembali sehingga bab 14 ini bisa selesai hahaha. Udah ah! *ntar dilempar meja sm pembaca*
Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejakmu berupa vote n comment. :)
Pengurangan jumlah peserta terjadi sangat cepat. Dalam dua jam terakhir jumlah manusia yang masih hidup tinggal lima orang. Mereka masing-masing tidak dapat menebak siapa saja yang masih hidup dalam labirin tersebut.
Lucia berjalan dari satu pintu ke pintu lain untuk menghindari pertarungan. Dalam hati kecilnya, ia tidak berharap bertemu dan bertarung dengan kakak kembarnya-Rendi. Jika hal itu sampai terjadi, Lucia telah berencana akan melakukan aksi bunuh diri daripada ia harus sampai tega membunuh kakaknya seperti yang ia lakukan pada salah satu teman baiknya dimasa simulasi ini.
Masih tetap bergerak maju, sesekali juga berbelok ke kiri atau kanan. Diujung pertigaan, langkah Lucia terhenti sesaat dalam jarak sekitar seratus meter. Ada dua orang sedang berkelahi, laki-laki dan perempuan. Pernah sesekali Lucia melihat dua orang sedang bertarung, ia bergerak mundur menjauhi mereka. Lucia tidak ingin ikut campur, kalaupun nanti ia akan bertemu dengan mereka di suatu tempat dalam ruang ini, barulah Lucia akan meladeninya.
Untuk yang satu ini nampaknya agak berbeda, dengan jarak sekitar seratus meter itu Lucia seperti mengenali dua orang itu. Ia menghentikan langkahnya sejenak, menyipitkan matanya untuk memfokuskan pandangan pada dua orang yang sedang berkelahi itu.
"Rambut merah itu... Anne!" kata Lucia yang segera menyadari ciri khas dari salah satu orang yang ia kenali bahkan tadi telah menolongnya.
"Laki-laki itu... Astaga... itu kak Rendi." Menyadari hal itu ia berlari secepat mungkin kearah mereka. Apa yang harus ia perbuat? Lucia tampak bingung, ia bahkan membenci keadaan ini. Keadaan yang akan menghabisi orang-orang yang disayanginya.
"Berhenti!" teriak Lucia pada dua orang yang sedang beradu pisau tersebut.
"Lucia! Pergi!" teriak Rendi yang menyempatkan dirinya untuk melihat sebentar adik kembarnya.
"Tidak, Lucia. Jika aku sudah memulainya maka aku tidak bisa berhenti. Tidak akan. Hanya kematian yang akan menghentikanku," Anne menyahut di sela-sela pertarungan berbahayanya.
Lucia hanya diam. Ia bingung akan mengambil tindakan apa. Perasaannya saat ini sedang berkecamuk antara bingung, marah, sedih bahkan rasa takut. Ia memalingkan wajahnya ke arah jam hologram di tangannya. Apa? Cepat sekali? Tersisa tiga peserta yang masih hidup.
"Itu berarti... hanya ada aku, Rendi dan Anne. Hanya tinggal kami bertiga."
***
Dalam ruang berdinding putih yang luas dengan kapasitas penampungan dua ratus orang. Terdapat sekumpulan manusia yang berasal dari berbagai macam negara. Mereka berkumpul menjadi satu dalam sebuah organisasi yang menyebut dirinya cosmos. Bekerjasama satu dengan lainnya dalam sebuah project percobaan.
"Tak terasa dua puluh empat jam telah berlalu. Simulasi akan segera selesai. Hanya ada satu pemenang," kata seorang pria jangkung berbaju khas laboratorium tersebut.
"Ya, Pemimpin," jawab sang asisten yang setia menemani pemimpinnya untuk berdiri. Pria tersebut menunjukkan wajah cemas tapi tetap dengan tatapan dingin memandang ke arah layar hologram di depannya.
Semua orang dalam ruang itu terpaku dalam diam. Jika mereka ingin berkomunikasi cukup melalui tulisan pesan singkat atau bisikan langsung ke telinga pendengar agar tidak mengganggu yang lain. Ruang luas dengan kapasitas dua ratus orang itu kembali sunyi dan dingin oleh hembusan pendingin ruangan. Dingin menambah kecemasan mereka.
"Segera selesaikan simulasi ini," suara sang pemimpin menggema dalam ruang sunyi dan dingin itu. Tidak ada yang menjawab karena mereka cukup tahu diri untuk melaksanakan perintah tersebut.
***
Anne semakin menggeram menatap Rendi. Rendi adalah lawan yang sulit untuk dikalahkan. Gerakannya lincah. Pisaunya pasti semakin sensitif-sedikit saja tergores, maka akan berakibat sangat fatal. Maka tidaklah salah jika para bedebah cosmos memodifikasi perintah otak kami dalam melakukan pergerakan motorik yang sebenarnya belum kami pelajari, pikir Anne dalam hatinya.
Anne menendang Rendi di arah ulu hatinya. Tendangan yang cukup telak dan menjatuhkan Rendi. Belum sempat ia berdiri. Lucia berlari di depan Rendi dan mengancungkan pisau ke arah Anne.
"Jangan main-main denganku!" kata Anne dengan tatapan dingin.
"Aku tidak takut denganmu," jawab Lucia yang diselimuti rasa takut karena mengingat lawannya ini sangat tangguh dalam mengendalikan pisaunya. Ia berusaha berpikir optimis, setidaknya saat simulasi kedua Lucia pernah mendesaknya.
"Aku tidak akan kalah darimu lagi, Luci." Anne menatap kosong seperti orang tak sadar. Lucia hanya diam dan tetap mengancungkan pisaunya.
Sementara Rendi masih berusaha berdiri sambil menahan rasa sakit akibat tendangan dari lawannya. "Luci, jangan! Biar aku yang melawannya." Ia tak menghiraukan perkataan dari kakaknya, ia tetap bergerak maju.
Dua gadis itu kini bertarung satu sama lain mempertahankan nyawa mereka. Dengan gerakan lincah mereka menyerang dan menghindar satu sama lain. Sampai akhirnya, Lucia sendiri yang kewalahan dan terdesak oleh lawannya. Ketika Anne hendak menikam Lucia dari arah kepala, Rendi dengan sigap datang menerjangnya. Beruntung Anne masih dapat menghindar dari serangannya. Namun, ia kehilangan kesempatan untuk mengakhiri Lucia.
"Walaupun kalian saling melindungi. Pada akhirnya kalian juga akan menghianati satu sama lain. Ironi sekali." Anne tersenyum sinis memandang mereka.
"Dua lawan satu. Kau kalah jumlah," kata Lucia mencoba menyemangati dirinya.
"No problem. Aku akan menghabisi kalian," balas Anne.
Pertarungan sengitpun terjadi. Dua lawan satu bukanlah sesuatu yang seimbang, secara teknis Anne kemungkinan besar akan kalah. Hal itu sama sekali tidak menyusutkan nyalinya. Entah apa yang ada di pikirannya, ia sama sekali tak gentar. Hanya satu yang pasti dalam pikirannya. Ia ingin simulasi ini segera berakhir-hanya itu yang pasti dan yang mungkin ada di pikiran setiap peserta simulasi.
Saat Lucia lengah, Anne mencuri kesempatan mendorong Lucia sejauh mungkin. Ia berpikir akan menghabisinya setelah ia menghilangkan Rendi terlebih dahulu. Tendangan keras diberikan kepada Lucia, sementara tangannya menahan Rendi ke arah dinding di sekitar mereka. Lucia terpelanting sejauh lima meter dari mereka berdua.Tangan Anne hendak menusuk leher Rendi, tapi Rendi tetap berusaha menahannya. Tenaganya kuat sekali, pikir Rendi.
Lucia segera berlari kearah mereka. Saat itu Anne sedang sangat bernafsu untuk menggores leher Rendi. Kesempatan atas lengahnya Anne dimanfaatkan oleh Lucia. Ia melakukan gerakan vertikal ke arah lengan kanan Anne. Gerakan Lucia memang berhasil memotong satu lengan Anne yang memegang pisau sehingga Anne kini tak bersenjata lagi. Namun, ia juga terlambat menyelamatkan Rendi. Pisau milik Anne telah menggores urat nadi lehernya hingga putus dan menimbulkan pendarahan fatal.
Lucia terdiam menatap Rendi. "Tidak mungkin..." Lucia berkata lirih-sangat lirih. Pemandangan berdarah kembali terjadi di depannya. Lucia memegang wajah Rendi yang duduk dilantai yang berlumuran darah. Menatap mata sayu Rendi untuk terakhir kalinya. Ia tak sanggup melihatnya-melihat kakak kesayangannya merenggang nyawa didepannya. Perlahan-lahan dan untuk kesekian kalinya, airmata Lucia kembali bergulir membasahi pipinya. Ia membiarkan Rendi memejamkan mata dan mengecup kening Rendi yang bersih dari darah.
Bau khas darah-bau besi sudah terbiasa tercium dihidung Lucia. Ia juga membiarkan Anne merenggang nyawanya yang mengalami pendarahan hebat. Kemudian, cahaya biru kembali datang membersihkan arena pertarungan dari mayat dan darah. Cahaya biru itu juga melingkupi Lucia dan membersihkan tubuhnya dari darah. Seiring pudarnya cahaya biru, pisau di lengan kanan Lucia juga ikut menghilang.
Ia sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Ia masih menangis menatap Rendi yang perlahan-lahan ikut menghilang oleh cahaya biru dihadapannya. Bahkan, tanpa ia sadari sebuah chip berukuran nano terbang dan menempel ke arah dahinya. Nanochip itu mengeluarkan sinyal ke otak besar Lucia untuk menghentikan sementara kesadarannya.
Seketika semuanya menjadi gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
COSMOS: Simulation Survive
Science FictionSerangan bom dilakukan oleh sebuah objek terbang asing yang mengitari kota. Orang-orang yang selamat dikurung dalam sebuah kubah transparan berwarna merah. Simulasi bertahan hidup dilakukan oleh seluruh penduduk kota yang tersisa dengan rata-rata us...
