Note: hheeaaa...seneng banget untuk ceritaku yang satu ini. pembacanya bisa nyampe 100 readers. *karena biasanya 50pun susah wkwkwkwk.. #curhat*. Semoga pembaca bisa menikmati cerita yang penuh darah ini. Komentar, kritik, saran dan vote sangat dipersilahkan. Apalagi promosi hhiiaaaa apaan seh-___- udah ah langsung baca aja. Selamat berfantasi.
Anthony menyandarkan diri di tembok gedung pencakar langit dan menatap batas kubah merah yang hanya berjarak sepuluh meter dari tempat ia duduk. Sebelumnya, gedung itu adalah sebuah mall megah yang disebut mall matahari. Termasuk salah satu pusat pembelanjaan besar di Surabaya. Pusat pembelanjaan yang mampu menampung ratusan bahkan ribuan orang di dalamnya. Tapi, kini gedung itu hanyalah sebuah reruntuhan yang hampir roboh akibat bom beruntun yang datang dari objek terbang tak dikenal.
Anthony menghela nafas sejenak, kemudian ia mengambil tumpukan golden card di saku celananya.
Sejauh ini aku sudah berhasil mengumpulkan tiga golden card. Ternyata permainannya cukup mudah. Satu hewan liar bernyawa mengandung satu golden card.
"Berhasil membunuh satu hewan liar yang entah darimana datangnya, akan mendapat hadiah. Jika gagal. Akan menjadi mangsa mereka. Permainan aneh yang mungkin diadakan orang-orang aneh. Pasti ada sesuatu dibalik ini," Anthony mencoba menebak simulasi yang sedang berlangsung.
Kemudian Anthony menyalakan layar hologram yang ada di lengan kanannya. Satu per satu kartunya dimasukkan.
Akses berhasil. Begitulah yang tertera pada hologram. Kemudian, Anthony melirik waktu yang tertera pada jamnya. Waktu menunjukkan pukul 03.35 PM. Ternyata sisa waktu kurang dari tiga jam. Anthony menggepalkan tangannya membentuk sebuah tinju. "Sejauh ini aku baru memperoleh tiga."
Anthony mengingat lagi peringatan dari permainan. Sepuluh terendah akan mendapat hukuman. "Aku harus menemukan lagi."
"Hai mas,bro!" teriak seorang laki-laki tak dikenal yang berdiri di hadapan Anthony. Laki-laki dengan potongan rambut yang rapi, tapi penampilan yang berantakan. Terlihat dari kaosnya yang penuh dengan debu, pedangnya berlumuran darah yang telah teroksidasi oleh udara. Tampak dari warna darah yang mulai menghitam. Sisa darah yang tidak dibersihkan tersebut menunjukkan laki-laki itu berhasil dalam beberapa pertarungan.
"Anthony," jawab Anthony acuh tak acuh. Mungkin sudah kelelahan.
"Apa saja yang berhasil kau bunuh?" tanya laki-laki itu kemudian.
"Hyena, ular hitam yang sebesar paha orang dewasa. Entahlah itu apa. Satu lagi, anak gajah yang mengamuk."
"Hehe...tak berniatkah kau keluar dari simulasi bodoh ini?"
"Caranya?"
"Melewati kubah merah transparan ini. Bukankah sebelumnya kita berhasil menembus piramida putih transparan. Kurasa sistemnya bekerja serupa."
"Tapi, bagaimana dengan akibatnya?" tanya Anthony yang mulai tertarik dengan pernyataan gila orang ini.
Tampaknya laki-laki itu terdiam. Memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan dari Anthony. Kemudian, ia mengangkat kedua bahunya. Sebuah isyarat tanda bahwa orang tersebut tak mengerti apa yang akan terjadi. Laki-laki itu kemudian mengambil sebongkah batu dan melemparkannya ke arah kubah.
"Lihat! Batu itu bisa menembus kubahnya. Artinya kita bisa keluar dari permainan gila ini. Aku enggak mau mati sia-sia dimakan oleh mahkluk buas disini."
"Heh... Bagaimana kau bisa yakin?"
"Kau pasti takut mencobanya," balas laki-laki itu.
"Hei... jangan bertindak bodoh."
KAMU SEDANG MEMBACA
COSMOS: Simulation Survive
Science FictionSerangan bom dilakukan oleh sebuah objek terbang asing yang mengitari kota. Orang-orang yang selamat dikurung dalam sebuah kubah transparan berwarna merah. Simulasi bertahan hidup dilakukan oleh seluruh penduduk kota yang tersisa dengan rata-rata us...
