catatan: oke, aku mau minta maaf cerita dalam cosmos ini sangatsangatsangat terlambat untuk dilanjutkan. yeh! semester ini laporan dan praktikum lagi menggila yang mengakibatkan aku gak menyentuh ceritaku. Eitzz tak baik menyalahkan kewajiban sebagai mahasiswa kwkwkwkk. masalah utamanya adalah manajemen waktu yang kurang baik hahaha #ampun. Oke, akhir kata aku minta maaf lagi atas keterlambatannya. Silahkan membaca dan berimajinasi :)
"Hah ... hah ... hah ..." Lucia terengah-engah terbangun dari tidurnya seolah baru saja menjalankan aktivitas melelahkan. Di bawah sinar lampu terang dalam kamar yang ia tempati, ia melihat sekelilingnya dan berusaha mencerna dengan otaknya atas mimpi yang ia alami.
Tetap berusaha menenangkan diri dan mengatur nafas, Lucia mencoba untuk menghilangkan sisa rasa takutnya. Ia sadar bahwa dirinya masih berada di dalam kamar yang sama-kamar mewah dalam rumah berlantai dua yang jauh dari Bumi. Pukul 05.15 AM, waktu yang ditunjukan oleh jam hologram di tangan kirinya.
Lampu merah tampak berkedip dengan otomatis layar biru terbuka didepannya. Menampilkan sebuah pesan singkat.
Simulasi 3 SUKSES! Persiapkan dirimu, satu jam lagi simulasi terakhir akan dimulai.
Jangan keluar sebelum mendapat pesan.
"Kakak, bagaimana keadaanmu?" tanya Lucia yang memejamkan mata dan menarik nafas hingga paru-parunya dibanjiri udara.
Ketika keadaan dirinya telah kembali normal, ia berdiri disamping tempat tidurnya dan berjalan menuju meja rias yang terletak di sudut kamar. Ia melihat pantulan dirinya sendiri. Begitu tampak kusam dan berantakan, berbeda dengan dirinya dua hari yang lalu sebelum kejadian ini. Ia selalu menjaga penampilan dengan rambut tertata rapi.
Kemudian ia bergegas menuju kamar mandi yang tersedia dalam kamar ini. Cahaya putih dari sinar lampu dipantulkan kembali oleh keramik putih bersih disekeliling kamar mandi mewah berukuran 5x4 meter. Lucia hanya menatap kosong disekelilingnya karena terlalu lelah untuk berpikir. Ia memutar kran shower ke arah warna merah yang menandakan keluarnya air panas. Lucia merasa kedinginan di pagi ini. Pagi? Mungkin saja, karena jam hologram yang melingkar erat di pergelangannya menyampaikan seperti itu.
Lucia merasa ia sedang berada dalam keadaan distorsi waktu. Tak dapat membedakan antara siang dan malam, ia juga tak dapat memastikan pemandangan diluar kamar. Kamar yang ia tempati tanpa satupun celah untuk melihat keluar. Benar-benar terisolasi.
Air hangat mulai membasahi disetiap lekuk tubuhnya. Busa-busa sabun mulai membalur tubuhnya dan mengangkat sel-sel kulit mati dari tubuhnya. Setidaknya untuk sekarang Lucia sedikit merasa tenang. Aroma terapi yang dihiasi lilin kecil menyala di pojok ruangan memberikan Lucia ketenangan yang membawa dirinya mengingat masa lalu.
Lucia teringat ketika dirinya masih menjadi seorang anak kecil yang berumur sepuluh tahun yang rapuh dan gampang sekali menangis. Bayangkan saja, saat bermain petak umpet dan menjadi hantunya lalu tidak menemukan siapapun, Lucia malah menangis keras dan memaksa semua anak yang ikut bermain untuk keluar. Sejak itu dirinya dijuluki semua orang sebagai si cengeng. Berbeda dengan Rendy, ia menguatkan Lucia dan memghiburnya. Lucia masih teringat jelas waktu itu Rendy menggendong Lucia di punggungnya sehingga membuat Lucia berhenti menangis.
Kemudian, sejenak kembali ke bayangan tentang mama. Lucia sangat merindukan mamanya di saat-saat letih seperti ini. Dialah orang yang paling Lucia cari untuk mencurahkan segala isi hati. Betapa rapuhnya Lucia yang dulu dibandingkan dengan rentetan kejadian mengerikan satu hari kemarin. Satu hari yang mengubah Lucia anak manja menjadi manusia liar. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Mau apa orang-orang itu? Rentetan pertanyaan terus saja terngiang dalam pikiran yang mungkit idak hanya pikiran Lucia saja, mungkin semua orang yang masih hidup hingga detik ini.
Apa yang mengubahku secepat ini? Bahkan aku tidak merasa ngeri saat mengiris tangan manusia. Membayangi dirinya yang mengerikan juga menghipnotis dirinya untuk membayangi mamanya kembali. Bayang-bayang mengerikan muncul dalam benak Lucia. Bayangan saat simulasi pertama akan dimulai, tentang seorang laki-laki tua memuntahkan banyak darah tanpa sebab didepannya. Mungkinkah mamanya bernasib sama? Semoga saja tidak.
Lucia menepiskan semua imajinasi yang berkelebat dalam otaknya. Lalu, mengeringkan tubuh dan menyiapkan diri untuk simulasi berikutnya. Waktu demi waktu berlalu, akhirnya tiba saatnya untuk keluar. Sebuah perintah muncul di layar hologram dengan tulisan berwarna merah. Tentu saja pesan ini tidak hanya untuk Lucia. Pasti untuk mereka semua. Semua yang selamat dari simulasi sinting sebelumnya.
Hal yang biasa dilakukan oleh para peserta ketika mendapat pesan dari Cosmos adalah menyentuh jamnya agar memunculkan layar yang lebih lebar didepan wajah mereka masing-masing. Layar menampilkan pesan tulisan merah yang berbeda dari biasanya yang memakai tulisan putih.
Wahai, para pemenang. Selamat datang pada babak akhir. Kalian adalah para petarung yang harus menyeleksi diri kalian sendiri. Keluarlah dari sini sebagai pemenang tunggal.
Setelah pesan itu tampil, pintu didepan Lucia terbuka. Tak ada apa-apa disana, hanya terlihat dinding perak yang menjulang tinggi dan memanjang. Lorong? Bukan, disini bukan lorong. Ada banyak jalan dan persimpangan di dalam sini.
Lucia melihat dirinya pada bayangan dinding. Ia memandang dirinya dilingkupi oleh cahaya biru yang secara pelan membentuk pola lekuk tubuhnya. Bayang didepannya kini berganti dengan pakaian ketat lengan panjang membalut disetiap lekuk tubuhnya.
"Keren!" Lucia memuji dirinya sendiri penuh rasa takjub dengan kostum berlatar hitam yang bertabur motif abstrak berwarna putih dan tampak berkilau keperakan oleh cahaya lampu. Persis seperti taburan bintang di langit jernih. Lengan kirinya tetap di lingkari oleh jam hologram.
Tapi pergelangan tangan para peserta kini dilingkari pisau tajam yang panjangnya kira-kira sejengkal jari dewasa. Lucia dapat menebak apa yang dimaksud dari pesan tersebut dan menatap ngeri pada benda berkilau perak di tangan kanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
COSMOS: Simulation Survive
Science FictionSerangan bom dilakukan oleh sebuah objek terbang asing yang mengitari kota. Orang-orang yang selamat dikurung dalam sebuah kubah transparan berwarna merah. Simulasi bertahan hidup dilakukan oleh seluruh penduduk kota yang tersisa dengan rata-rata us...
