Waktu terus berjalan malam pun semakin larut. Jam hologram yang mereka gunakan menunjukkan pukul 07.45 PM. Detik demi detik suasana di lantai dua kastil semakin sepi. Sebagian besar anak-anak itu mulai memilih kamar yang ingin mereka tempati untuk beristirahat. Istirahat untuk melemaskan beberapa bagian otot yang mungkin terjadi timbunan asam laktat akibat kelelahan yang menyerang. Mungkin, sebagian dari mereka telah terlelap menuju alam mimpi.
Waktu yang tersisa sebanyak lima belas menit dari batas waktu yang telah ditentukan oleh Si misterius yang tiba-tiba muncul pada layar TV. Jumlah orang yang masih di luarpun dapat dihitung dengan jari. Dwita, Rendi, Lucia dan empat orang lainnya yang belakangan telah saling mengenal.
Disebelah kiri Lucia ada Reno yang bertubuh jangkung sedang menatap kristal. Tiga langkah didepan Reno ada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang bersama-sama menikmati pemandangan kristal yang sama. Si laki-laki mengenakan kaos hitam yang bernoda putih keabu-abuan bernama Niko dan disebelahnya adalah teman satu kelasnya yang sedari awal simulasi mengikuti Niko, rambutnya dikuncir kuda dan agak berantakan. Perempuan itu bisa dipanggil Ita. Dan, yang terakhir seorang anak laki-laki yang berjalan menuju sebuah kamar kosong. Laki-laki yang dipanggil Angga itu menutup pintu.
Pintu di lantai dua itu tepat berjumlah empatpuluh enam. Tidak lebih dan tidak kurang untuk jumlah anak-anak itu. Pintu kamar yang dilengkapi semacam sensor yang terletak diatas pintu. Jika kamar itu masih kosong, lampu sensor akan berwarna hijau yang berarti space vacant. Tapi, jika kamar itu telah ditempati oleh orang lain maka lampu akan menyala merah-space occupied. Sesuatu yang tidak akan membuat orang lain keliru memilih ruang.
Waktu yang tersisa kurang dari sepuluh menit. Kini lantai dua yang dipenuhi kristal berkilau itu terasa sunyi. Hanya tersisa pantulan cahaya dalam diam yang memberikan efek keremangan pada ruang. Semua lampu sensor ditandai warna merah.
Ketika Lucia masuk ke dalam kamar, matanya membelalak melihat seluruh isi kamar. Dari luar, pintu-pintu berderetan tersebut terlihat sederhana dan mungkin ukuran ruangnya tidak lebih dari empat meter dikali empat meter. Tapi, perkiraan semua orang salah. Kamar itu sangat luas, mungkin cukup untuk menampung dua puluh orang tanpa berdesakan.
Pintu tampak luar yang saling berdempetan satu sama lain jauh berbeda dengan dalamnya yang seperti kamar Raja. Seperti memasuki dimensi ruang lain. Sungguh tidak mengherankan jika mereka yang masuk ke dalam, tak terlihat keluar lagi-mungkin sudah merasa nyaman dalam kamar.
Lucia mendekati tempat tidurnya yang unik. Tempat tidur berbentuk oval dan ditutupi kaca tipis yang seperti lensa cembung. Sehingga memberikan kesan bahwa tempat tidur itu seperti sebuah kapsul. Diatas kaca itu terdapat tombol berwarna biru yang tidak diketahui fungsinya. Dengan rasa penasaran, Lucia menekan tombolnya. Bahkan, Lucia belum menekan. Ketika jarinya mendarat.
Pppsssttt.
Sebuah jarum keluar dari lubang tak kasat mata yang ada di tengah tombol. Seketika orang yang menyentuhnya akan tertidur-tak sadarkan diri.
Lucia limbung ke depan karena kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh menembus permukaan kaca yang menutupi tempat tidur itu-sensasi seperti menembus permukaan gelembung udara. Posisinya yang terlungkup dengan sendirinya dirapikan oleh sistem yang bekerja pada kapsul tersebut dengan cara mengambangkan penumpangnya sesaat diudara lalu menidurkannya kembali dalam keadaan terlentang.
***
Lantai 2
Tepat pukul 08.00 PM, sekelompok tim yang terdiri dari sepuluh orang berpakaian setelan jas laboratorium putih menaiki lantai dua. Tim yang terdiri dari masing-masing lima pria dan wanita tersebut mulai melakukan peninjauan pada semua kamar peserta.
Tim yang sedang melakukan pengamatan ini disebut tim gamma. Tim tersebut dipimpin oleh seorang wanita dengan kode nama gamma-one. Ia terlihat sedang mengamati layar virtual bercahaya biru yang tampil didepannya. Layar itu menampilkan simbol checklist pada setiap petak yang berderet. Deretan petak yang berjumlah lima belas membujur pada sisi kiri dan kanan serta enam belas yang melintang diantara dua bujur tersebut-merupakan peta kamar lantai dua. Checklist hijau telah terisi pada seluruh kotak yang berjumlah empat puluh enam.
Kemudian gamma-one mengecilkan layar virtualnya dan menampilkan wajah seorang pria didepannya. "Lapor. Peninjauan peserta selesai. Checklist completed. Semua dalam keadaan tidur dan simulasi ketiga siap dilaksanakan," kata gamma-one pada seorang lelaki bermata biru didepannya.
Mereka memang berbicara dengan berbagai bahasa. Tapi, alat yang tertempel pada telinga merekalah yang menghubungkan komunikasi mereka, sehingga mereka dapat mengerti satu sama lain. Alat ini mereka namakan microchip soundwave universal.
"Segera siapkan," kata laki-laki tersebut dengan singkat.
Kemudian gamma-one menutup layar didepannya lalu berubah kembali menjadi jam tangan hologram dan mulai mengintruksikan perintah pada kesembilan orang lainnya yang tadi telah berdiri melingkari gamma-one.
Gamma-one kemudian maju beberapa langkah dan masuk ke dalam formasi lingkaran. Kemudian kristal ditengah bersinar dan membukakan sebuah portal. Portal itu memunculkan sebuah mutiara biru yang besarnya kira-kira sekepal tangan orang dewasa. Mutiara itu melayang ditengah mereka seakan melawan hukum gravitasi ditempat mereka berdiri. Kemudian, kubus transparan yang melindunginya mulai menipis dan akhirnya menghilang. Mutiara itu memancarkan sejenis sinar-semacam sinar laser yang lurus menuju lampu sensor diatas pintu kamar semua anak-anak itu.
Di balik pintu juga terjadi hal yang sama. Tapi, perbedaannya terletak pada tujuan sinar. Sinar yang diterima dari arah luar akan ditransmisikan ke dalam bentuk celah yang lebih sempit dan sinar ini membelok ke arah dahi semua anak-anak yang tertidur.
Sepuluh orang itu masih berada dilantai dua dalam formasi melingkar. Mutiara yang bercahaya tersebut memberikan mereka masing-masing tampilan layar virtual yang berguna untuk pengamatan.
Loading...
System Ready...
Start
Hampir bersamaan mereka menyentuh input start. Layar virtual didepan mereka telah siap.
"Bersiap melakukan pengamatan. Aku akan memimpin simulasi ini," kata Si wanita yang berkode gamma-one. "Bagaimana kondisi anak-anak itu, gamma-two?"
"Kondisi fisik mereka sedang dalam masa pemulihan. Gelombang yang ditampilkan cukup stabil," jawab seorang pria yang bertubuh paling tinggi diantara keempat pria lainnya yang tetap memandang layar didepannya.
"Oke. Yang terpenting dalam simulasi ini adalah pemantauan EEG dan Brain Mapping. Gamma-three, gamma four, gamma five dan gamma six. Harap melapor aktivitas yang terjadi pada grafik yang ditampilkan." Gamma-one berbicara pada semua anggotanya yang memantau EEG (Electroencephalogram) yang menangkap getaran, frekuensi dan gelombang otak dan Brain Mapping yang menggambarkan fisik otak anak-anak itu. Semua gelombang yang mereka terima akan tersaji dalam sebuah grafik. Serta, pemantauan tersebut berguna untuk menjaga kondisi mereka tetap dalam keadaan tertidur.
"Gamma-seven, eight, nine dan ten. Harap melakukan tindakan sesuai laporan dari empat gamma lainnya. Mengerti?" tanya gamma-one sambil memandang mereka satu per satu.
"Mengerti!" jawab mereka hampir serentak.
***
Perlahan-lahan tubuh Lucia terasa melayang. Tidak, tidak hanya Lucia saja. Tapi, semua anak merasakan sensasi yang sama. Melayang dalam gelap. Bukan hanya gelap yang menemani mereka. Sekarang, mereka secara terpisah dan sendirian di alam semesta bebas. Anak-anak itu kini melayang diantara bintang-bintang, planet dan galaksi. Melayang dalam kesendirian, hanya berbekal jam hologram yang tak pernah lepas dari tangan mereka.
"Alam semeta," gumam Lucia.
KAMU SEDANG MEMBACA
COSMOS: Simulation Survive
Science FictionSerangan bom dilakukan oleh sebuah objek terbang asing yang mengitari kota. Orang-orang yang selamat dikurung dalam sebuah kubah transparan berwarna merah. Simulasi bertahan hidup dilakukan oleh seluruh penduduk kota yang tersisa dengan rata-rata us...
